Breaking News
Home / Hikmah Kehidupan / Bad influences from Princess Movies of Disney

Bad influences from Princess Movies of Disney

images (8)

Bad influences from Princess Movies of Disney

Siapa yang tidak kenal dengan putri-putri ciptaan Disney? Menggambarkan sosok ideal perempuan yang tidak hanya memiliki paras yang cantik namun juga kehidupan yang bahagia hingga bertemu dengan pangeran pujaannya. Hampir semua cerita puteri disney pun selalu happy ending, inilah salah satu sebab orang ketagihan menonton film disney, bahkan para orang tua merasa aman menyuguhkan tontonan ini untuk anak-anaknya tanpa menyadari bahwa ada banyak pengaruh buruk yang mengintai tersembunyi dibalik animasi kartun tersebut.

Berikut saya kutip sebuah artikel dari www.viva.co.id:
_VIVA.co.id Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan, anak perempuan yang terlalu banyak menonton kartun kisah putri Disney, seperti Cinderella, Belle, dan Snow White bisa membuat mereka memiliki harapan yang tidak realistis dan pencemas.

Profesor Sarah M Coyne menjelaskan dalam penelitian yang dilakukan di Brigham Young University, Utah, Amerika Serikat, anak yang terlalu lekat dengan tokoh putri Disney rentan terhadap stereotip yang mudah merusak.
Jika tidak merusak dalam diri mereka, kemungkinan ketika dewasa, mereka cenderung menghindari karier maskulin dan selalu terobsesi menjadi kurus seperti idolanya.

“Saya rasa orangtua berpikir budaya dalam cerita putri Disney itu aman. Tapi, jika kita benar-benar memahami ke dalamnya, orangtua harus mempertimbangkan dampak jangka panjang dari tontonan itu,” ujar Profesor Coyne seperti dilansir dari laman The Sun.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Child Development tersebut melibatkan 198 anak-anak yang belum bersekolah dan menilai seberapa banyak mereka berinteraksi dengan kultur tokoh putri Disney, baik itu menonton, bermain dengan bonekanya dan berpakaian.

Kemudian para orangtua dan guru membuat peringkat berdasarkan tingkat ketertarikan mereka. Sementara anak-anak diminta untuk memilih mainan terfavorit, seperti boneka, satu set cangkir teh, peralatan, puzzle , dan alat mewarnai.

Dari penilaian tersebut, para peneliti menemukan bahwa 96 persen anak perempuan dan 87 persen anak laki-laki pernah menonton kartun tokoh putri Disney. Sementara itu, lebih dari 61 persen anak perempuan bermain permainan Disney setidaknya sekali seminggu. Hanya empat persen laki-laki melakukan hal yang sama.

Anak perempuan yang lebih banyak berinteraksi dengan segala hal berbau putri Disney ternyata cenderung menghindari pelajaran yang maskulin, seperti matematika dan pengetahuan alam, termasuk melakukan eksperimen dan berkotor-kotoran. Jalan karier yang mereka pilih juga terbatas.

Sebaliknya, anak perempuan yang berinteraksi dengan permainan Disney secara umum memiliki kepercayaan diri lebih baik dan lebih penolong. Kemungkinan hal ini karena putri Disney memberikan aspirasi alternatif selain pahlawan super yang sangat maskulin.

“Kita tahu kalau anak perempuan yang sangat mengikuti stereotip perempuan merasa mereka tidak bisa melakukan beberapa hal. Mereka merasa tidak percaya diri dalam bidang matematika dan sains. Mereka tidak berkotor-kotoran, jadi mereka cenderung tidak mau mencoba dan bereksperimen,” kata Profesor Coyne.

Anak perempuan yang terlalu lekat dengan tokoh putri juga memiliki kepercayaan diri sangat rendah. Mungkin karena mereka melihat contoh bentuk tubuh dalam Disney.

Meski begitu, para peneliti tidak menyarankan anak-anak harus dijauhkan dari budaya Disney, namun pastikan mereka tidak terlalu tenggelam di dalamnya. Orangtua juga harus berbicara kepada buah hatinya tentang berbagai pengaruh media sejak dini karena bisa memberikan efek signifikan terhadap prilaku anak. Dan jangan gunakan istilah putri sebagai pujian karena ini bisa merusak perspektif mereka.

“Saat berbicara dengan anak perempuan, pujilah dengan, ‘kamu sangat pintar, kamu sudah bekerja keras, kamu bisa melakukan hal hebat!’ Itulah pesan penting yang harus kita sampaikan,” kata Profesor Coyne. (ase)_
(link: https://www.viva.co.id/gaya-hidup/kuliner/790038-dampak-negatif-sering-nonton-kartun-disney-bagi-anak)
Ulasan:
Tahun 2013 Disney sukses meramaikan dunia film animasi anak-anak dengan “Frozen” nya.

Beberapa waktu setelahnya kita lihat sindrom Frozen fever ada dimana-mana. Wajah Anna, Elsa dan Olaf pun kita jumpai di pakaian, cover buku tulis, tas, pencil case dan lain-lain. Anak-anak perempuan kecil mulai mengidolakan Anna atau pun Elsa. Mulai dari menyanyikan lagu-lagunya, berpakaian cosplay ala Elsa ataupun Anna, sampai bergaya jalan, bicara dan perilaku seperti idolanya. Namun, coba kita telisik lebih dalam. Ada yang ingat isi cerita Frozen?

Selain tentang persaudaraan dan kasih sayang antara kakak dan adik, terselip juga contoh sikap ceroboh Anna, minta nikah dengan orang asing yang baru ditemuinya, gak disetujui eh malah membantah.

Itu baru Frozen, bagaimana dengan Disney lain? Lets see this:
Katanya:“we were taught to rebel since a young age”

Bayangkan anak-anak kecil yang belum bisa membedakan baik dan buruk, lalu menonton film-film princess ini. Sedikit atau banyak film ini akan memberikan dampak buruk utk kepribadiannya.

Belum lagi ada adegan-adegan yang tak layak ditonton oleh anak-anak. Monggo baca sendiri ini linknya.
https://m.liputan6.com/showbiz/read/2580986/10-adegan-film-disney-yang-tak-layak-jadi-tontonan-anak

Kesimpulannya, sebagai orang tua, pendidik atau calon orang tua, kita perlu selektif dalam memberikan tontotan ataupun bacaan kepada anak-anak, perlu pendampingan juga untuk menjelaskan hikmah baik dan buruk dari film ataupun buku yang dibacanya.

Dan sebaik-baiknya kisah untuk diceritakan kepada anak adalah kisah tauladan para nabi, rasul, sahabat dan sahabiyah. Saya rasa islam tidak kekurangan tokoh inspiratif untuk dijadikan idola anak-anak ketimbang idola dari cerita fiktif karangan barat.

Wallahu a’lam bishshowab

Septiani DW

About Admin

Check Also

Tekanan Darah Rendah

TEKANAN DARAH RENDAH Darah rendah adalah kondisi tekanan darah yang dihasilkan saat jantung memompa darah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *