Breaking News
Home / Dakwah / Anugrah Yang TerDzalimi

Anugrah Yang TerDzalimi

ANUGERAH YANG TERZHALIMI

Ada dua peristiwa besar yang dialami umat Islam di abad modern. Dua peristiwa itu lahir bukan tanpa dasar. Keduanya terjadi sebagai jawaban kondisi umat Islam yang amat terpuruk saat itu.

Kedua peristiwa tersebut adalah runtuhnya kekhilafahan Islam Turki Utsmani 1924 Masehi dan lahirnya gerakan pembaharuan Ikhwanul Muslimun tahun 1928 Masehi di Mesir yang didirikan oleh Hasan Al-Banna. Runtuhnya kekhalifahan bukan semata-mata dampak dari pengkhianatan Musthafa Kamal Pasha (Attaturk), melainkan karena keadaan umat Islam secara global sudah amat memprihatinkan.

Keterpurukan dan kelemahan dalam berbagai bidang kehidupan telah mencapai klimaksnya. Krisis akidah, akhlak, keyakinan, ekonomi, hilangnya semangat jihad (ruhul jibadiyah) maupun kemuliaan Islam (izzah islamiyah), perpecahan umat (iftiraqul ummah), serta ditambah lagi penjajahan dan pendudukan kaum kafir terhadap negeri-negeri muslim semakin membuat umat Islam tidak berdaya. Pendek kata, semua faktor yang mengindikasikan runtuhnya kekhalifahan Islam Turki Utsmani sudah terlihat jelas. Bahkan mungkin tanpa pengkhianatan Musthafa Kamal pun tampaknya keruntuhan akan tetap terjadi.

Lahirnya Ikhwanul Muslimin di Mesir tidak lepas dari kondisi itu. Bahkan mungkin kelahirannya sebagai antitesis runtuhnya kekhalifahan. Perlawanan terhadap kebenaran dilakukan secara teroganisasi dan rapi dari luar maupun dari dalam. Diantara mereka, ada yang benar-benar memusuhi dan ada pula karena tidak mengerti. Sunnah pertarungan (tadaffu) itu pun dialami Ikhwan sejak kelahirannya hingga sekarang karena Ikhwan dianggap sebagai ancaman yang menakutkan bagi Barat dan kaki tangannya. Eksistensi mereka terancam dengan lahirnya Ikhwan dan fikrah-nya. Untuk itu, dibuatlah berbagai makar untuk memperkecil gerak langkah Ikhwan. Bahkan, mereka mencoba memberangusnya sejak awal. Mereka adalah penjajah inggris dan kaki tangannya di Mesir.

Pada tahun 1935, Inggris pernah berterus terang kepada An-Nuhas Pasha–Perdana Menteri Mesir saat itu–tentang rasa takutnya kepada Ikhwan. OIeh karena itu, perhatian dan pengawasan Inggris terhadap jamaah itu semakin intens. Namun, itu semua justru membangkitkan perlawanan Ikhwan dan rakyat Mesir. Ikhwan berhasil mengajak rakyat Mesir untuk menyambut panggilan jihad dan mencintai kematian untuk meraih surga Allah Ta’ala. Semboyan “Jihad Jalan Kami, Syahid Cita-cita Tertinggi Kami” berhasil menjadi gerakan nyata yang muncul di tengah-tengah anggota militer yang menyambut kebenaran seruan Ikhwan, khususnya para perwira muda. Perubahan itu membuat hati penjajah Inggris gentar sehingga kaki tangan mereka membubarkan Ikhwan pada tahun 1942. Seluruh kantor cabang Ikhwan ditutup, kecuali kantor pusat. Usaha pembubaran Ikhwan terjadi berkali-kali.

Pertama, pada masa Perdana Menteri Husein Siri di tahun 1.941 atas tekanan Inggris. Namun, Husein Siri menolaknya. Kedua, pada masa An-Nuhas Pasha yang meminta Hasan Al-Banna menarik diri dari pencalonannya sebagai anggota dewan. Permintaan itu diikuti penutupan 50 cabang Ikhwan. Namun, Ikhwan menunjukkan kekuatannya sehingga An-Nuhas membatalkan keputusannya, bahkan berjabatan tangan dengan Ikhwan.

Ketiga, pada masa kabinet Abdul Mahir Pasha atas permintaan Syaikh Al-Azhar (rektor Al-Azhar) Musthafa Al-Maraghi. Ia meminta pemerintah agar semua organisasi keagamaan ditutup. Namun, ia sendiri terlebih dahulu meninggal sebelum ambisinya terwujud.

Keempat, pada masa Perdana Menteri An-Nuqrasyi tanggal 10 November 1948. Duta besar Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Perancis sepakat mengirim Dubes Inggris bertemu An-Nuqrasyi untuk menuntut pembubaran Ikhwan.

8 Desember 1948, kantor berita Mesir dalam siaran terakhir memerinahkan Angkatan Bersenjata untuk membubarkan Ikhwan dan menyita seluruh kekayaan Ikhwan serta menutup pabrik-pabrik, rumah sakit, dan sekolah-sekolah yang berada dibawah naungan Ikhwan. Setelah itu, penangkapan besar-besaran terhadap anggota Ikhwan terjadi, kecuali Hasan Al Banna.

Pada 12 Februari 1949, Al-Banna dibunuh secara misterius di jalan protokol di depan kantor Syubbanul Muslimun akibat peluru kaki tangan Raja Al-Farouq sebagai hadiah baginya yang sedang berulang tahun pada 11 Februari. Sebenarnya, Al-Banna masih mungkin tertolong seandainya dokter yang ada saat itu tidak menolak memberikan darah yang dibutuhkan. Namun, instruksi dan skenario dari elite sulit ditolak.

Tahun 1948 mereka mempersembahkan jihad untuk palestina, tidak ada yang ditakuti selain ALLAH Ta’ala, yang paling antusias menyongsong peluru dan mortir Israel, sehingga menjadi buah bibir yang sangat membanggakan dalam sejarah Islam. Tidak ada yang diharapkan kecuali syahid di jalan-Nya. Sampai-sampai, ada seorang perwira Israel berkata kepada seorang perwira Arab, Ma’ruf Al-Hadhari, sewaktu berada dalam tawanan, “Kami tidak takut kepada siapa pun kecuali pasukan sukarela Ikhwanul Muslimun.” Ma’ruf bertanya, “Anda takut kepada mereka, padahal jumlah mereka dan alat persenjataannya amat sedikit?” Perwira itu dengan tegas menjawab, “Kami datang dari berbagai negera ke tempat ini (Palestina) adalah untuk hidup selamanya, sedangkan mereka datang ke sini untuk mati. Alangkah jauh perbedaan orang yang menginginkan hidup dan orang yang menginginkan mati.”

Sekian kulsap singkat saya.
Mohon maaf yang sebesar-besarnya jika dalam penyampaian banyak kekurangan.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Supratika 2019.

About Admin

Check Also

Sekilas tentang Tathayyur

Sekilas tentang Tathayyur Ainul Huda Teman2 MJR 3 yang dirahmati Allah.. Banyak berkembang ditengah masyarakat, ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *