Deprecated: Function eregi() is deprecated in /home/kamussma/mjr-sjs.net/wp-blog-header.php on line 7
Apa yang sudah kita persiapkan? – MJR-SJS
Download Free Designs http://bigtheme.net/ Free Websites Templates
Breaking News
Home / Hikmah Kehidupan / Apa yang sudah kita persiapkan?

Apa yang sudah kita persiapkan?

Assalamualaikum wr.wb.

Hmm sekedar hanya ingin bercerita, semoga Kita sama-sama bisa ambil hikmahnya.

Dua Hari yang lalu melepas 2 orang pasien di RS pergi selamanya. Seorang bapak tua beragama Kristen, dan seorang ibu tua beragama Islam. Bukan agamanya yang ingin diceritakan, namun tentang proses kematiannya.

Pertama, si bapak, sudah 7-10 Hari dirawat di ICU dengan multiple organ dysfunction, infeksi yang sudah menyebar dimana-mana termasuk otak, sehingga bapak tersebut seringkali kejang. Beliau diketemukan oleh tetangga di rumahnya dalam keadaan tidak sadar dan tidak terurus, karena semua anaknya tinggal di luar kota. Seperti mati segan, hidup tak mau. Keadaannya koma, nafaspun sudah dibantu alat bantu nafas berupa ventilator, jantung pun sudah dibantu dipompa oleh obat-obatan. Ketika akhirnya malam itu meninggal, keluarga sibuk mengabarkan ke keluarga lain, tidak lagi menemani kematiannya, mungkin karena berpikir tak ada harapan lagi.

Terkadang selama perawatan bapak tersebut, aku seringkali berfikir, kenapa proses kesakitan bapak ini, hidup tidak mati pun tidak, begitu lama sekali.

Kedua, si ibu, menurut pengakuan keluarga tak pernah sakit. Baru seminggu kmrn, dia terserang stroke dan sudah berobat. Hari ini ia ke RS karena muntah-muntah, hanya sebentar di ruang rawatan. Tak merasakan sakit yang lama, bahkan baru sejam sebelumnya sempat mengobrol dengan saya. Keadaannya langsung menurun, kemudian wafat. Wafat dengan lirihan kalimat tauhid.

Ah, bagaimana diri kita? Apakah Kita sudah mempersiapkan semaksimal mungkin?

Esoknya ibu Saya bercerita tentang temannya ketika sedang haji kmrn yang bermimpi bertemu ayahnya yang telah meninggal beberapa bulan lalu. Begitu bahagia beliau melihat ayahnya, ayahnya datang bersama seorang pemuda. Beliau bertanya kepada ayahnya “ayah, siapakah itu”, pemuda itu berkata “aku adalah amal-amalnya”. Beliau bertanya lagi “Bagaimana kabar ayahku disana?” Pemuda menjawab “Terkadang ia kesakitan karena disiksa”. Beliau terbangun dan mengingat rasanya ayahnya adalah seorang yang baik dan sholeh, tapi amalannya hanya seumur seorang pemuda. Kemudian beliau Teringat Masa muda ayahnya sebelum menikah dimana ia sering bersekongkol berbohong bersama teman2 nya dalam pelaporan data keuangan, agar kelebihan uangnya bisa digunakan bersenang-senang bersama teman-temannya. Akhirnya seluruh anak beliau mengumpulkan uang untuk mencoba sedekah atas nama ayahnya.

Sayabanyak banget mengambil hikmah dari kejadian berturut-turut itu;

1. Seberapa banyak bekal Kita menyiapkan kematian yang husnul Khotimah?

2. Semoga amal kebaikan kita menua bersama umur Kita, bukan hanya seumur anak kecil padahal Kita wafat sudah sangat tua atau bahkan tak pernah Ada yang bs kita jdkan amal kebaikan

3. Kita ingin anak-anak kita tetap mendoakan kita walaupun kita telah tiada, tapi usaha apa yang sudah kita lakukan agar anak kita mendoakan kita? Bukankah doa tersebut dilantunkan oleh anak-anak yang sholeh? Apakah kita sudah men sholehkan anak kita? Dan apakah Kita sudah cukup menjadi anak sholeh yang mendoakan orang tua Kita?

Sekian kulsap kali ini.
Terima kasih

Sara Fadila

Jakarta, 25 Sept 2018

About Admin

Check Also

Surat Cinta dari Sang Ganteng

Dear, sahabatku, Perkenal, saya si Ganteng iman, :-). Kali ini saya akan bercerita ttg si ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *