Download Free Designs http://bigtheme.net/ Free Websites Templates
Breaking News
Home / Bedah Buku / Bedah Buku: “Saatnya Dunia Berubah: Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung”

Bedah Buku: “Saatnya Dunia Berubah: Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung”

buku2 Assalamu’alaykum wr wb

Bismillah..

Malam ini saya akan membedah buku berjudul ‘Saatnya Dunia Berubah: Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung’ yg ditulis oleh Bu Menkes Kabinet Indonesia Bersatu jilid 1.

Buku ini merupakan catatan beliau tentang lika liku perjuangan beliau menghadapi kasus flu burung di Indonesia sampai memperjuangkan keadilan di level internasional yang bermula dari kasus yang beliau temui ini.

Bisa dibilang, catatan harian beliau mungkin. Karena gaya bahasa beliau dalam menulis memang seperti menulis diary. Kadang ada pembahasan tambahan yang menurut saya out of topic terkain perjalanan2 beliau. Well, tp cukup menambah wawasan jd it’s okay. Alurnya bisa diikuti.

Buku ini terbagi ke dalam 5 bab, sbb:

  1. Luka di Hati Menyulut Nurani
  2. Dari Jakarta ke Jenewa
  3. Inter-Governmental Meeting: Saatnya Bersuara
  4. Perjuangan Belum Selesei
  5. Berpikir Merdeka Merubah Paradigma

Dalam Bab pertama, beliau menceritakan dari awal beliau menemui kasus flu burung di Indonesia sampai keanehan2 kebijakan WHO ttg pengiriman virus dr affected country yg dirasa tidak beres karena penuh ketidakadilan.

Dalam bab kedua sampai bab keempat, beliau menceritakan perjalanan panjang beliau dalam memperjuangkan keadilan kaitannya dengan mekanisme virus sharing di WHO. Ya mungkin ini salah satu sebab dilarangnya buku ini beredar mungkin. Karena dari ketiga bab ini, sangat banyak terkuak konspirasi dan ketidakadilan yang ternyata ada pada organisasi dunia yg selama ini dipercayai sebagai penyelamat kemanusiaan di bidang kesehatan.

Lalu di bab kelima, terakhir, berisi semacam epilog dr Bu SFS yang memuat intisari dari perjalanan panjang dan keresahan2 beliau. Sambil menekankan pentingnya prinsip keadilan dan kedaulatan antar bangsa tanpa ada yang harus terjajah.

Nah, dalam bedbuk kali ini, saya akan menyoroti 4 bab awal insya Allah. Dan mungkin porsi terbesar dr bab 1 karena dr bab itulah keresahan dan perjuangan beliau bermula..

Ini bermula dari kasus kematian dua anak dan satu Bapak di sebuah RS di Tangerang yg terjangkit panas dan sesak napas, kemudian meninggal dalam waktu yg singkat. Setelah diagnosis dilakukan, dan Bu SFS juga terlibat di dalamnya, maka dapat disimpulkan penyakit yg diderita bapak beranak itu adalah flu burung.

Dari sini Bu SFS bertanya-tanya juga. Darimana datangnya virus ini setelah sebelumnya menyerang Thailand dan Vietnam? Namun yg lebih mengherankan adalah saat beliau mencoba mengatasinya. Tindakan pertama untuk menghindari merebaknya virus tersebut adalah dg menyediakan stok Tamiflu, obat flu burung. Namun saat beliau sudah siap membelinya, ternyata beliau tidak dapat mendapatkan obat tersebut karena sudah habis diborong oleh negara kaya. Padahal negara kaya si pemborong tidak memiliki satupun kasus flu burung. Inilah awal luka yang menggores di hati Bu SFS, kalau sesuai dg judul babnya hehe

Bagaimana bisa hal ini terjadi? Ini baru obat, belum vaksin flu burungnya. Kalau sampai vaksin flu burung ada dg fenomena seperti kasus Tamiflu, maka ini akan sangat membahayakan Global Health Security (GHS). Luka ini semakin dalam dan menimbulkan kecurigaan manakala beliau didatangi oleh para pedagang vaksin yang menawarkan vaksin flu burung strain Vietnam ke beliau. Tentu vaksin itu dapat mereka produksi kalau mereka dapat seed virus yg berasal dr wild virus flu burung yg menjangkiti Vietnam. Padahal, virus dari Vietnam akan dg sukarela diserahkan ke WHO Collaborating Center (WHO CC) untuk dilakukan risk assessment, diagnosis, kemudian dibuat seed virusnya. Lantas bagaimana ceritanya seed virus tersebut sampai ke para produsen vaksin?

Ironisnya lagi, Vietnam harus membeli dg harga mahal ke para produsen vaksin tersebut. Padahal vaksin tersebut berasal dr virus mereka sendiri.  Fenomena inilah yang melatar belakangi beliau untuk ‘membelot’. Dr kasus2 flu burung yang terjadi di Indonesia, beliau mengambil hipotesis bahwa virus H5N1 Indonesia lebih ganas. Karena kematian2 yang terjadi tebih cepat. Di kemudian hari, produsen vaksin Baxter (yang nantinya diajak beliau bekerjasama membuat vaksin H5N1 strain Indonesia) dan WHO membuktikan bahwa virus H5N1 strain Indonesia jauh lebih ganas dari yg strain Vietnam.

Maka jika dibuat vaksin dg strain Indonesia, vaksin yg dihasilkan akan sangat ampuh untuk mengatasi flu burung di negara lain yg virusnya jauh lebih jinak dari yg di Indonesia. Karena peluang besar inilah, Bu SFS tidak mau dirugikan oleh WHO.

WHO dg mekanisme GISN (Global Influenza Surveillance Network) yang telah dijalankan selama lebih dari 50 tahun sangatlah tidak adil. Kenapa tidak adil? Well, dg mekanisme GISN, setiap negara yg terjangkit influensa harus mengirimkan virusnya ke WHO CC dengan cuma2 dan tanpa tahu setelah itu virusnya mau diapakan dan dikemanakan sama WHO. Lah ujung-ujungnya, virus tersebut sudah diproduksi vaksinnya oleh produsen vaksin di negara2 kaya, dan menjualnya ke affected country dg harga melambung, tidak terkecuali negara sumber virusnya.

Kok bisa? Apa sebenarnya hubungan WHO dg para produsen ini?

Terlebih lagi, belakangan beliau mengetahui bahwa virus yg dikirim Indonesia ke WHO CC sudah sampe aja di LOS ALAMOS. Sebuah laboratorium di bawah Kementrian Pertahanan AS tempat membuat senjata biologi, tak terkecuali bom Hirosima-Nagasaki dulu. Ini skandal besar. Kok bisa sampe sana? Ini jelas2 membahayakan GHS. Apalagi kalau sampe virus itu direkayasa sedemikian rupa sehingga tercipta senjata biologi yang lebih mematikan. Maka, akhirnya bu menkes mencoba menghentikan semua ini dengan berhenti mengirimkan virus ke WHO CC.

Jika benar pengiriman virus dr affected country ini menjadi sumber awal lingkaran setan mematikan tersebut, maka dg berhentinya beliau mengirimkan virus ke WHO akan membuat dunia gempar. Dan ternyata benar. WHO dan negara adidaya bernama Amerika bereaksi. Dua kali  beliau didatangi perwakilan WHO, David Heynmann Assistan to Director General WHO), terkait masalah ini. Membujuk agar beliau mau mengirimkan virusnya ke WHO lagi.

Dunia internasional pun gempar dg gebrakan ini dr media2 international yg memberitakannya.

Namun pertemuan itu selalu menemui deadlock karena beliau mensyaratkan ada MTA (material transfer agreement) jika ingin Indonesia mengirimkan virusnya lagi. Agar jelas akan diapakan dan dikemanakan virus tersebut, dan benefit sharing-nya seperti apa untuk negara yg ngasih virus.

Tapi entah ada apa, sulit sekali bagi pihak WHO menyetujui syarat MTA tersebut. Ada apa nih?

Beliau juga menuntut diubahnya aturan GISN yg sangat tidak adil tadi. Akhirnya pihak PBB sedikit melunak dan akan diadakan koordinasi yg teknisi kesehatan dan para menteri kesehatan dr negara2 di dunia untuk membicarakan ini. Pertemuannya disebut HTLM dan HLM. Saya rasa ga usah dijelasin ya.. panjang ntar. Kalo mau detailnya baca sendiri aja hoho..

Selanjutnya, dr pertemuan tersebut dihasilkan ‘Deklarasi Jakarta’ yg berisi tentang tuntutan transparansi dan keadilan virus sharing dan benefit sharing di WHO, dan menuntut dirombaknya mekanisme GISN. Karena segala keputusan di WHO ditentukan oleh WHA (World Health Assembly) meeting, maka draft deklarasi tersebut diajukan sebagai resolusi Indonesia dalam WHA meeting.

Perjuangan memanas karena yg dilawan pihak Indonesia adalah Amerika yg keukeuh ingin mempertahankan GISN. Bau amis lagi nih. Hubungan AS sama WHO apa kok segitunya amat? Jelas2 mekanisme GISN ketauan ga adilnya.

Perjuangan beliau dalam menyuarakan tuntutan2 beliau tersebut cukup panjang. Setelah WHA meeting, ada Inter-Governmental Meeting (IGM). Disini, Indonesia berhasil memenangkan tuntutan2nya walaupun ttg MTA, masih sangat alot. Setelah itu beliau aktif juga menyuarakannya diberbagai konferensi Internasional. Sambutan dunia, terutama negara2 senasib, sangat luar biasa. Perjuangan beliau tidak hanya karena agar Indonesia tidak dirugikan dg kasus flu burung ini.

Namun dari kasus flu burung ini, beliau ingin membuka mata dunia bahwa sedang ada konspirasi dan penjajahan luar biasa  di dunia ini.

Beliau memperjuangkan agar kemanusiaan bisa kembali ditegakkan. Negara miskin tidak semakin ditindas negara kaya. Maka beliau keukeuh menuntut perombakan sistem di WHO lewat GISN-nya. Agar selanjutnya hal ini tidak terulang lagi. Dan terputudlah lingkaran setan yg selama ini ada.

Well, itulah isi buku ini. Sekarang, saya akan menambahkan beberapa catatan n hikmah yg saya petik dr buku ini.

Catatan2:

MEDIA

Perjuangan Bu SFS untuk menyelamatkan kemanusiaan melalui kasus influensa dilandasi spirit agar Indonesia benar2 bisa berdiri dg kaki sendiri. Selama ini rakyat sudah cukup terjajah dg penjajahan gaya baru. Neo-kolonialisme.

Kenapa saya taruh media di catatan khusus? Karena dr uraian beliau, yang sangat substantif memberitakan perjuangan beliau adalah media2 internasional.

Media lokal? Kehilangan fokus dan substansi, walaupun beberapa kali dr jumpa pers beliau dg media lokal, beliau berhasil membuat media lokal cukup substantif. Bahkan tak jarang rekan beliau sendiri dan media lokal malah salah menginterpretasikan perjuangan beliau. Malah seolah2 beliau jelek banget krn ga nurut sama WHO.

Hmmm… rakyat kita.. oh Indonesia

Kalo begini terus, kapan akan teredukasi ttg pentingnya merdeka dan berdaulat. Bangga akan bangsanya sendiri? Bahkan buku inipun sudah dilarang terbit. Kemana lagi rakyat akan berkiblat ttg perjuangan kemerdekaan gaya baru? Melek tentang penjajahan yg sangat nyata masih eksis di depan mata?

Sedih sedih sedih…

PERAN POLITIK

Jika mengikuti buku ini, kasus kesehatan aja tidak lepas dr perpolitikan dunia. Selama ini kalo kita flu ga pernah mengira kan, bahwa politik dunia ini mengurusinya? Bahkan sampe penuh skandal dll?

Yg lebih kejam itu kaus virus cacar. Dulu tahun 90an, Indonesia terjangkit cacar, dan berhasil buat vaksinnya sendiri yg dibuat oleh Biofarma. Dr situ, virus cacar berhasil diberantas.

Kemudian, WHO memerintahkan semua negara yg punya virus cacar untuk memusnahkan virusnya sampai tak bersisa. Semua patuh donk.. termasuk Indonesia.

Tapi, pd tahun 2005, WHO meminta ke semua negara untuk mempunyai persediaan vaksin cacar untuk berjaga2. Lha? Njuk ko ngendi vaksine nek viruse wis dienteki? (*maap jawane metu)

Drmana dpt vaksin kalo virusnya udah dimusnahkan? Ternyata eh ternyata, WHO msh punya virusnya.

Gimana sih? Katanya suruh musnahin, tapi masih punya. Skandal. Lagi2 skandal. Dg begitu, mereka bisa aja ebarin cacar sebagai senjata biologi biar vaksin yg mereka produksi laku. Sungguh kejahatan kemanusiaan.

Maka, melek politik, apalagi berjuang di bidang politik emng musti kudu dilakukan. Inget kan ya ciri2 orang rabbani? Ga cuma membaca n mengajarkan Al Quran aja, tapi memang hatus berwawasan luas dan melek politik.  Atau kita yg akan di politisir.

PROFESIONALITAS

Inget taujih dr Pak MSI pekan lalu kan ya? Bahwa untuk masuk ke dunia politik, seseorang harus sudah punya kompetensi yg matang dalam suatunbidang agar kontribusinya maksimal. Dan harus bisa belajar cepat.

Kalo engga, maka ga akan sempet bekerja dengan baik. Apalagi sampe berprestasi.

Bu SFS ini pun demikian. Saya takjub dengan kecerdasan dan profesionalisme beliau sebagai menteri kesehatan. Atau lebih tepatnya, dokter ahli jantung (*jd inget bedbuk semalem di MJR2 ttg jantung oleh Sari)  sekaligus peneliti yg diamanahi jd menteri kesehatan.

Profesionalitas beliau sudah tidak diragukan lagi. Bagaimana beliau sangat paham ttg bidangnya, yaitu kesehatan, mengankap problem kesehatan yg sedang dihadapi dunia, WHO dg segala kebijakannya, semangat perjuangan beliau yg tak gentar walau harus menghadapi Amerika.

Semua itu tidak akan terjadi tanpa kompetensi yg matang dan profesionalitas beliau di bidang kesehatan.

So, ini juga nasehat buat saya pribadi, matangkan kompetensi selagi masih muda. Tak akan ada kontribusi besar tanpa kompetensi yg matang. Agar kita bisa menjadi sebaik2 manusia, yg paling bermanfaat buat yg lain.

MEROMBAK SISTEM

Lagi2 terkait dg taujih Pak MSI pekan lalu ttg wariskan sistem. Jd pemain bukan faktor penghambat lagi jika sistem sudah tegak.

Ini juga yg dilakukan Bu SFS. Perjuangan beliau agar mekanisme virus sharing dan benefit sharing untuk affected country di GISN nya WHO pun demikian. Beliau ingin memperbaiki sistem yg ada. Aga nantinya, siapapun yg jadi Director General WHO, siapapun menteri kesehatannya, siapapun produsen vaksinnya, keadilan akan tetap tegak karena ditopang sistem yg kokoh.

So, buat kita yg in charge di lembaga, organisasi, or apapun itu, usahakanlah untuk selalu membangun dan menegakkan sistem yg kokoh. Agar kebaikan2 yg kita tebar terjamin keberlangsungannya…

Sekian bedbuk dr saya, mohon maaf kurang disana sini. Silakan kalo ada yg mau menambahkan atau didiskusikan..

Wassalamu’alaykum wr wb

 

Diskusi:

OS : Brati sistm d who berhasil d ubah oleh GISN mbk? Berubah secara teori serta prktikal  jg kah?

DPW: Bukan diubah oleh GISN, tapi GISN yg diubah. Dalam buku ini belum diceritakan sampai akhir sekarang ini bagaimana. Tapi ietika mekanisme baru yg lebih adil sudah ditrtapkan via WHA meeting, sejak saat itu aturan baru berlaku. Mungkin disini ada yg sudah mengikuti perkembangan yg lebih lanjut. Bs menambahkan..

ES : Yoku dekita..

Satu kelemahan dari perjuangan bu SFS adalah kurangnya dukungan politik. Bisa dikatakan single fighter ..walau bersama2 staf2nya di kemenkes terutama litbangkes. Padahal dukungan politik sangat penting dalam situasi spt ini..

Then.. dalam tim nya juga gak ada yang menjaga secara internal sehingga terkena kasus yang sebetulnya bisa dieliminasi.. Jadi bekerja dalam sebuah tim perlu ada yg ekspansi dan juga ada yang bertahan. Yang dilakukan bu SFS banyak ekspansi dengan melakukan perubahan2, namun pertahanannya agak kurang or mungkin bisa dikatakan ada yng “sengaja” menjebak..

DPW: Iya… staf n timnya di pertemuan2 WHO kalau tanpa beliau juga sering miskom. Jd hrs dibriefing detail

Ini berkaitan dg yg mana sensei? –> Then.. dalam tim nya juga gak ada yang menjaga secara internal sehingga terkena kasus yang sebetulnya bisa dieliminasi ..Atau berkaitan dg kasus korupsi di akhir jabatan beliau jd menteri? Keknya pernah denger gt

ES : Iyah betul..ini berkaitan dengan kasus korupsi…

Kasusnya seharusnya bisa dieliminasi karena ini khan masalah lelang. Ada batasan2 yg sejak awal… Bisa diantisipasi, namun itu terlewat. Kasus Korupsi itu belum tentu memperkaya diri.. bisa juga karena kesalahan prosedur yang menyebabkan kerugian negara

Ini yg dikenakan ke beliau..

FYI..dg keadaan sekarang.. siapapun yg berhubungan dgn APBN akan bisa dihubungkan dengan korupsi..

Itu kasus yg sekarang terjadi salah seorang staff bppt dalam kasus pengadaan busway transjakarta. Gegara tanda tangan dia dalam harga perkiraan sendiri.. Klo dia tdk tanda tangan, akan aman saja.. Krn posisi dia sbg konsultan saja outsider..

 

DPW: Harus bener2 melek aturan ya..

Salah dikit, duit juga ga ngantongin, yg ada kasus dikantongin

 

ES : Satu hal lagi kesalahan kecil namun cukup fatal adalah saat beliau melakukan perjalanan ke iran padahal kindisi saat itu bisa ditunda..

Akibat perjalanannya itu pesawatnya delay.. belakangan dijetahui karena memang ada permintaan dari “pemesan” agar sengaja di delay

 

DPW : Ohiya, saya tidak menyoroti ketidakidealan itu ya?

Iya. Saya juga mbatin. Ini ibunya smpet jalan2 padahal lebih baik kalo beliau ada di medan tempur. Jd miskom2, n delay2 ga perlu terjadi.

 

ES : Seharusnya beliau tidak melakukan itu karena musuh bisa melakukan apa saja termasuk meledakkan peswat yg ditumpanginya.. mirip sekjen PBB yg pesawatnya sengaja diledakkan karena kebijakannya merugikan beberapa pihak

FYI.. Amerika itu sangat logis. Hal2 kotor dilakukan secara resmi via UU or perjanjian kerjasama.. Jadi keahlian diplomasi sangat diperlukan untuk melawan kesewenangan itu..dan itu dipahami oleh bu SFS

Contoh.. biarpun dikutuk orang sejagat.. Bush tidak dihukum atas kelakuannya di Irak..karena itu didukung oleh senat.. Jadi tidak bisa disalahkan… dan diplomasi itu sangat terasa dalam kasus flu burung ini.. Lewat WHO amerika berusaha memonopoli seed virus sehingga bisa menguasai bisnisnya secara resmi..dan semua negara harus ikut aturan via WHO itu.

 

 

About Admin

Admin komunitas MJRS-SJS. Sebuah komunitas yang berupaya membiasakan diri dengan one day one juz + dzikir + Qiyamullail. Selain itu, ada program-program menarik dalam komunitas ini seperti kulsap (kuliah whatsapp), Bedah Buku, Bedah Film dan Kajian Telegram.

Check Also

menyontek

Menyontek: Mengungkap Akar Masalah Dan Solusinya

Menyontek : Mengungkap Akar Masalah Dan Solusinya Karya: Doddy Hartanto, M.Pd saya memulai bedah buku ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *