Download Free Designs http://bigtheme.net/ Free Websites Templates
Breaking News
Home / Hikmah Kehidupan / Bedah Lagu Syukur, Sebuah Pesan Sakral yang Dalam

Bedah Lagu Syukur, Sebuah Pesan Sakral yang Dalam

incikkhairulzamhuri.blogspot.com
incikkhairulzamhuri.blogspot.com

Beginilah syair sebuah lagu yang akan menyihir pendengar maupun pelantunnya, seolah-olah ada suasana mistis yang menjadi melingkupi lingkungan suara syair. Makna yang kuat dengan musikalitas yang bernuansa magnificant.

Dari yakinku teguh
Hati ikhlasku penuh
Akan karuniaMu
Tanah air pusaka
Indonesia merdeka
Syukur aku sembahkan
KehadiratMu Tuhan

Dari yakinku teguh
Cinta ikhlasku penuh
Akan jasa usaha
Pahlawanku yang baka
Indonesia merdeka
Syukur aku hanjukkan
Ke bawah duli tuan

Dari yakinku teguh
Bakti ikhlasku penuh
Akan azas rukunmu
Pandu bangsa yang nyata
Indonesia merdeka
Syukur aku hanjukkan
Kehadapanmu tuan

Bait Pertama,

“Dari yakinku teguh, hati ikhlasku penuh, akan karuniaMu
Tanah air pusaka, Indonesia Merdeka, syukur aku sembahkan ke hadi-rat-Mu
Tuhan”

Ternyata H. Mutahar mengeluarkan lagu ini sekitar Januari 1945, sebelum kemerdekaan. Beliau memprediksi dan meyakini bahwa nanti Indonesia akan Merdeka. Yang menjadi menarik adalah beliau bersyukur bahkan sebelum Indonesia merdeka. Bersyukur terhadap sesuatu sebelum sesuatu itu menjadi nyata. Seolah-olah beliau membuat lagu dengan memperhatikan ayat: Lain syakartum laazidannakum. Kalau kau bersyukur, akan Kutambah nikmatnya, begitu titah Gusti Alloh. Bersyukur yang tidak hanya dengan ucapan tapi juga perbuatan dan ketaqwaan.

Kemerdekaan itu adalah sebuah karunia dari Tuhan. Ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang berKetuhanan. Jika kemerdekaan Indonesia adalah karena Gusti Alloh maka jangan sampai kita merasa merdeka dari Gusti Alloh dan membuat Dia murka dengan kebijakan dan aturan-aturan yang menyelisihi ajarah Tuhan. Ini prinsipil !!!

Bait Kedua,

“Dari yakinku teguh, cinta ikhlasku penuh, akan jasa usaha
Pahlawanku yang baka, Indonesia Merdeka, syukur aku hunjukkan, ke bawah duli tuan.”

Kemerdekaan tidak bisa hanya direbut dengan menulis kata-kata perlawanan di facebook, atau membuat hastag #UsirPenjajah di twitter. Tapi diperoleh dengan perjuangan berdarah dengan mengorbankan harta dan jiwa. Wajahidu biamwalikum waanfusikum. Tak ada kemerdekaan sebagai buah dari perjuangan tanpa pengorbanan yang menjadi syaratnya. Jasa usaha pahlawan yang bakal harus selalu disyukuri dengan cara meneruskan perjuangan para pahlawannya dalam mengisi kemerdekaan.

Saya sendiri sangat bangga ketika perusahaan tempat bekerja yang tepat berada di belakang makam pahlawan mempunyai motto yang dipasang : Meneruskan perjuangan para pahlawan, kami membangun industri secara mandiri. #Ngiklan dikit he he. Syukur terhadap para pendahulu adalah berjuang dan menjadi yang terbaik dalam bidang-bidang garapan kita dengan semangat yang sama dengan para pahlawan. Yaitu kita harus sejajar dengan bangsa-bangsa lain, kepala kita tegak, dan kita bebas dari asing, dalam hal epolsosbudhankam. Inilah jasa usaha yang perlu dilakukan untuk mensyukurinya.

Bait Ketiga,

“Dari yakinku teguh, bakti ikhlasmu penuh, akan azas rukunmu.
Pandu bangsa yang nyata, Indonesia merdeka, Syukur aku hunjukkan, ke
hadapanmu tuan”

Bait ketiga sebenarnya berbicara mengenai Pandu/Pramuka. Praja Muda Karana. Saya melihat pencipta lagu ingin menyuguhkan sebuah metode untuk mencetak para tunas bangsa yang benar-benar menghayati sejarah perjuangan bangsa, lantas mengkristalisasikan konsep dan paradigma perjuangan itu menjadi jasa usaha yang nyata bagi Kemerdekaan Indonesia yang sejati dengan tujuan yang empat. Dan gerakan yang mampu melatih itu adalah Pramuka, PRAJA MUDA KARANA. Bagai tunas kelapa yang tumbuh menjadi bibit yang selalu berguna dalam tindak tanduk dan laku lampahnya. Semangat kepramukaan dalam trisatya dan dasadarma… Dan beruntunglah kalian yang berjiwa Pramuka… (Dulu kalau ngapalin dasa darma, saya pake rumus TACIPAPARE RAHEDIBERSU. Hi hi. Selingan)

Catatan Penting.

Ketika saya mencoba menganalisanya dengan analisa pola, saya dapati sebuah pola yang menampilkan sekelompok berjumlah tiga-tiga yang ternyata mempunyai makna yang menurut saya luar biasa.

  1. Kelompok pertama, Hati Ikhlas+Cinta Ikhlas+Bakti Ikhlas.
  2. Kelompok kedua, Karunia+Jasa Usaha+Azas Rukun
  3. Kelompok Ketiga, Tanah Air Pusaka+Pahlawan Yang Baka+Pandu Bangsa yang Nyata

Saya pisahkan ketiga kelompok ini dari kata sebelumnya agar mendapati makna baru yang lebih tepat dan kontekstual.

  • Hati Ikhlas+Cinta Ikhlas+Bakti Ikhlas

Adalah sebuah pesan yang mantap sekali. Apapun yang kita lakukan dan tekuni harus melewati fase “menginjeksikan dalam kesadaran diri” apa yang kita lakukan. Lantas kita harus mencintainya sehingga menjadi kristalisasi nilai sebagai motivasi sampai kita membaktikan diri kita dalam hal yang ditekuni tersebut. Seorang yang berprofesi sebagai seorang Insinyur misalnya, harus berdialog dengan diri bagaimana menjadi insinyur, apa konsekuensinya, dan apa kode etiknya, apa tujuannya, apa pentingnya. Lantas harus mencintai profesinya. Dan mendarmabaktikan profesinya itu kepada kebenaran, demi bangsa dan negara.

Dan satu lagi yang amat penting adalah KEIKHLASAN. Ketiga aktifitas itu harus ikhlas, hati ikhlas, cinta ikhlas, dan bakti ikhlas. Ikhlas adalah memurnikan ketaatan kepadaNya, menginsyafi bahwa ketiga proses diatas hanya untuk ALLOH semata. INNASSHOLATI WANUSUKI WA MAHYAYA WA MAMATI LILLAHI ROBBIL ‘ALAMIN. T.T

  • Kelompok kedua, Karunia+Jasa Usaha+Azas Rukun

Ketiga hal ini adalah faktor yang harus ada dalam sebuah bangsa Indonesia. Karunia adalah sebuah persepsi bahwa Indonesia ada karena Tuhan. Maka jika bangsa Indonesia sudah tidak lagi menganggap Indonesia sebagai rahmat Tuhan karena Tuhan sudah diasingkan, maka Indonesia tidak akan jaya. Dan inilah yang sudah terjadi.

Jasa Usaha adalah sifat kerja keras, kerja tuntas, dan kerja cerdas. Bangsa Indonesia tidak akan jaya jika warganya tidak bekerja keras. Karena apa yang didapatkan adalah apa yang diusahakan. Lihat jepang!!

Azas Rukun merupakan prasyarat kejayaan Indonesia sehingga tidak terjadi disintegrasi bangsa. Mengapa? Karena bangsa Indonesia adalah bhinekka tunggal ika, terdiri dari aneka ragam suku bangsa. Tidak ada bangsa didunia yang semajemuk Indonesia. Jika kerukunan tidak bisa ditumbuh kembangkan maka yang ada adalah perang, permusuhan, kekecauan, dan perpecahan. Kerukunan bisa dicapai dengan toleransi, saling menghormati, pemerataan, dan keadilan.

  • Kelompok Ketiga, Tanah Air Pusaka+Pahlawan Yang Baka+Pandu Bangsa yang Nyata.

Kita sudah mempunyai Tanah Air, pun kita punya Pahlawan dengan semngatnya yang luar biasa. Yang belum kita punya adalah Pandu Bangsa. Apa itu? Pandu Bangsa ini sangat sempit jika hanya diartikan sebagai pramuka. Harus kita perluas bahwa bangsa Indonesia seluruhnya dan seutuhnya harus mempunyai jiwa kepanduan. Karena tanpa itu maka kita tidak merdeka secara hakikatnya. Hanya tanah air dan kemerdekaan yang semu, bukan kemerdekaan yang hakiki. Tanah air memang menjadi teritori Indonesia. Dan pahlawan juga sudah mempersembahkan hadiah bahwa Indonesia tidak lagi terjajah secara covernya. Namun lebih dari itu, esensi kemerdekaan adalah kemakmuran dan tercapainya tujuan bangsa. Sayang lawan kita sekarang adalah bangsa kita sendiri, penjajah kita adalah warga sendiri, karena mereka tak punya watak Pandu Yudistira, Arjuna, Nakula, Sadewa, maupun Bima. (#Pengagum Mahabarta Soalnya, hi hi). Maka selayaknya kemerdekaan itu hanya akan menjadi sejati, jika kita semua berjiwa Pandu. Itulah arti dari membangun manusia Indonesia seutuhnya dan seluruhnya. Kalau penduduk Indonesia apalagi pemimpinnya tidak punya jiwa kepanduan, maka bubarlah kemerdekaan itu, batallah kemerdekaan itu secara hakekatnya, meski setiap 17 Agustus kita merayakannya.

Demikianlah bedah lagu yang saya tulis disela-sela waktu ini. Semoga bermanfaat. Salam dari Kalibata. 🙂

oleh Ikhsanuddin

About Admin

Admin komunitas MJRS-SJS. Sebuah komunitas yang berupaya membiasakan diri dengan one day one juz + dzikir + Qiyamullail. Selain itu, ada program-program menarik dalam komunitas ini seperti kulsap (kuliah whatsapp), Bedah Buku, Bedah Film dan Kajian Telegram.

Check Also

Sepanjang Jalan Dakwah: Tifatul Sembiring

IDENTITAS BUKU Judul : SEPANJANG JALAN DAKWAH: Tifatul Sembiring Penulis : Usamah Hisyam Tahun Terbit ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *