Home / Bedah Buku / Bedah Novel: Memang Jodoh

Bedah Novel: Memang Jodoh

Assalamualaykumwrwb
Resensi Novel Memang Jodoh Karya Marah Rusli
Identitas Novel:
Judul : Memang Jodoh
Penulis : Marah Rusli
Tebal : 544 hlm, cetakan ke IV th 2014

12-16-17-99325_f.jpg.cf

Novel Memang Jodoh yang ditulis oleh Marah Rusli bercerita mengenai pergulatan tradisi. Tentang kodrat seorang manusia dari Penciptanya, bukan adat. Hal menarik dari novel ini adalah bukan pergolakan antara adat dan agama melainkan pergolakan individual. Bagaimana akhirnya tokoh harus membayar harga atas perlawanannya. Yang paling menonjol dalam novel ini adalah adat Minang. Adat yang telah disepakati secara turun temurun kemudian di satu waktu ditentang atas nama cinta. Novel ini terdiri atas lima belas bagian dengan menggunakan alur sorot balik. Cukup melelahkan membacanya. Apalagi kalo gak teliti. Wkwk. Tapi akan saya bahas secara berurutan. Mulai awal cerita hingga akhir.

Cerita dimulai ketika Hamli mengutarakan bahwa ia tidak akan pergi ke Belanda untuk mendapatkan penghasilan besar. Sebab dengan modal wajah rupawan, derajat keluarga, dan juga adat budaya yang dipegang sudah tentu Hamli dapat memperoleh sesuatu yang lebih besar walau tanpa ke negeri orang. Hamli memberitahu ibunya juga jika ia tidak ingin dijodohkan dan dilamar oleh wanita. Ia ingin ia yang melamar. Namun, adat yang digunakan di Padang adalah adat ibu. Sesuatu yang telah diterapkan secara turun menurun.

Apanya yang pincang? Ada-ada saja pendapat anak muda zaman sekarang. Adat itu di adatkan karena baik, bukan karena buruk atau pincang. Dan adat Padang masih lazim di seluruh Padang.(hlm 58)
Hamli menjadi serba salah. Ia ingin menentang adat. Di sisi lainnya tuntutan dari ayah untuk menuntut ilmu di Belanda harus ditunaikan sementara ibunya berharap ia tetap melanjutkan kuliah di Indonesia.

Katanya, adat padang ini adalah adat keibuan,dimana ibu lebih berkuasa daripada ayah, sedangkan seorang ibu melayu. Mengapa kau disuruh ke negeri Belanda tidak dimufakatkan lebih dahulu denganku, bahkan ditanya pun tidak. Tentang anakku, hakku, diputuskan dibelakangku, tidak bersama-sama dan sepakat denganku. Dimana letaknya kekuasaan seorang permpuan atas anaknya, menurut adat Padang ini?
Sungguhpun demikian, kupinta juga kepadamu, dengan sepenuh-penuh permintaan, batalkanlah niatmu hendak pergi ke negeri Belanda itu. Takkan mungkin aku dapat menyenangkan hatiku jika kau pergi juga. Aku takut, aku menjadi sakit atau gila karena memikirkan dirimu di sana (hlm 66) kata ibu Hamli

Perkataanku ini bukan ancaman main-main, tetapi sungguh akan kutepati. Pilihlah olehmu, antara ibumu dan kesukaan hatimu! Jika masih ada bagimu mempunyai ibu, tinggallah kau di tanah airmu; jika tidak pergilah kau ke negeri Belanda.(hlm 68)
Hamli pun memilih untuk tinggal di Indonesia. Memilih melanjutkan pendidikan di tanah Jawa. Kota Hujan; Bogor.
Lepaskan aku, mengembara kembali, mencari apa yang kuperoleh itu. Jika dengan mengembara ini belum juga aku bertemu daya penarik itu, aku akan kembali ke Padang, untuk hidup di sana, sebagai laki-laki bangsawan Padang. Dan jika benar kesenangan itu telah ada di sana, mengapa aku harus bersusah payah mencarinya kemana-mana (hlm 90).
Nah, di sini bagian serunya. Hehe.
Sesampainya Hamli di Bogor, secara tak sengaja dia bertemu dengan seorang gadis (yang kelak bakal ia persunting menjadi istrinya walau mereka berbeda adat). Pergolakan adat terus terjadi. Atas nama cinta, Hamli memberanikan diri melamar Din Wati, seorang Mojang Priangan. Seorang gadis cantik keturunan bangsawan. Betapa banyak ingin mempersunting tetapi selalu tidak berjodoh. Namun, saat bersama Hamli meskipun banyak rintangan datang dari keluarga tapi pada akhirnya semua terselesaikan.
Demikianlah perkawinan kedua bangsawan tinggi ini dilangsungkan, perkawinan yang rupanya dikehendaki Tuhan, tetapi tidak disetujui kaum kedua belah pihak. Jika perkawinan ini dilakukan sebagaimana metinya, baik di Bogor atau di Padang, pastilah dengan upacara adat dan istiadat bangsawan tinggi, yang akan memakan biaya tidak sedikit, disaksikan seluruh kota, berhari-hari lamanya. (hlm 213)
Hamli dan Din Wati melaksanakan pernikahan. Hal tersebut membuat Hamli tidak lagi diakui oleh keluarganya. Pertentangan-pertentangan, benturan-benturan antar kepentingan, masalah, dan tokoh yang mengarah ke klimaks tak dapat dihindari. Goncangan kehidupan rumah tangga Hamli dan Din Wati semakin keras. Cobaan yang datang tiada henti termasuk cacian salah satu keluarga Hamli yang tak sudi bermenantukan Din Wati dengan lantangnya menghina Din Wati di hadapan orang tuanya.
Tentang perkawinan di Padang, memang tak mudah ditukar-tukar; karena demikianlah adat istiadat Padang. Walaupun ada di antara adat istiadat ini yang kurang sesuai dengan pendapat kaum muda selama yang tua-tua masih ada, niscaya akan dipertahankan adat istiadat mereka itu. (hlm 368).

Saat tokoh Hamli memenuhi titah ayahnya untuk pulang bersama istrinya ke Padang, akan tetapi dia tidak berkecil hati. Ia tetap berkumpul, menjawab pertanyaan-pertanyaan keluarganya dengan sikap bijak. Bagian yang menjadi periode puncak konflik (turning point) adalah perjuangan Hamli mempertahankan perkawinannya bersama Din Wati, di usir dirinya dari tanah Padang oleh keluarganya, juga bagaimana ia dan Din Wati menjalankan hidup yang berpindah-pindah akibat pekerjaan Hamli yang terus berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain.
Tidak hanya Hamli yang ditimpa cobaan, Din Wati sebagai istri yang menikah dengan bangsawan Padang lebih tabah dan sabar dalam menghadapi cobaan yang dideranya dari keluarga suaminya. Tetapi di mata mereka, Hamli tetaplah orang buangan karena telah membelot dari adat istiadat Padang. Sedang istrinya Din Wati, walaupun berusaha sedapat-dapatnya memenuhi segala kehendak dan keinginan hati mereka, sampai menjual dan menggadaikan barang-barngnya yang bukan diperoleh dari Hamli ,dimata mereka tetap juga perempuan asing yang telah merampas lelaki Padang. (hlm 458)

Sebenernya ada berbagai cara tetap dilakukan keluarga Hamli untuk mengambil Hamli kembali yakni dengan menjodohkannya dengan wanita pilihan mreka.
Tetapi, jika sungguh kau tak dapat menurutkan permintaan kami ini, tinggal satu jalan lagi yang ditempuh yaitu kita berpisah. Karena barangsiapa di antara anak cucu kami tidak mengikuti adat istiadat yang harus kami pegang teguh karena inilah kewajiban kami, terpaksa kami ceraikan pula. Kami orang Padang, orang berkampung bernegeri, orang beradat istiadat bukan orang hutan yang tidak mempunyai aturan, tat patut mereka tinggal dalam lingkungan keluarga kami, kata ketua rapat dengan sabarnya dan pasti pula. (hlm358)

Sejak di buang dari keluarganya, kesedihan yang mendera Hamli akibat tidak dapat berpulang ke tanah kelahirannya, bertemu ayah ibunya, dan juga mengunjungi sanak saudara disana amat membuat ia sedih. Namun apa boleh buat, itu adalah resiko yang harus ditanggungnya akibat melangkah jauh dari adat yang telah dipegang teguh oleh nenek moyang sedari dulu.
Di akhir cerita,
Aku bersyukur kepada Allah yang telah mempertemukanku dengan orang-orang yang kucintai di hari istimewa ini. Hari ini, Kamis tanggal 2 November 1961, saat umurku 72 tahun, usia perkawinanku dengan istriku, Nyai Radin Asmarawati, yang kini berumur 69 tahun, genap 50 tahun. Dalam masa setengah abad itu, perkawinan kami banyak mengalami kesukaran, penderitaan, dan kesengsaraan, bahkan maut mengancam. Tapi, Tuhan melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kami berdua, dengan usia panjang dan jodoh yang kekal, sehingga masa perkawinan kami yang panjang itu dapat kami lalui dengan rukun dan damai, penuh kasih sayang.(hlm 18)

Total ada 323 alur dan 24 susunan cerita kronologi novel Memang Jodoh.
Nilai budaya yang terdapat dalam sastra daerah sudah sejak lama dimiliki dan berakar dalam jiwa masyarakat pendukungnya dan dilahirkan dari generasi ke generasi. Novel Memang Jodoh karya Marah Roesly mempunyai nilai-nilai dalam kehidupan masyarakat. Nilai itu diciptakan karena dimuliakan oleh leluhur sebagai peletak dasar masyarakat dan kebudayaan Padang yang kemudia diwariskan turun temurun dari suatu generasi ke generasi selanjutnya. Novel Memang Jodoh yang menceritakan keberanian tokoh untuk melawan adat dan tidak berpoligami yang bertentangan dengan adat budaya masyarakat setempat.

Dalam novel Memang Jodoh karya Marah Roesly, nilai kecendekiaan diungkapkan pada paragraph berikut:
“……justru kebaikan yang terdapat pada sekalian pekerjaanmu. Bahkan, pekerjaanmu itulah yang acap kali menjadi sebab mengapa kau harus berpindah , diutus kesana-kemari, kecakapanmu dalam pekerjaanmulah yang telah memaksa aku menempatkan kau di tempat yang menghajatkan pertolonganmu. Dan tempat ini, pada masa ini amat banyak, sedangkan tenaga yang baik kurang.”(hlm 449)
Di akhir, Hamli memberi pidato tentang ulang tahun pernikahannya yang ke-50 bersama istri. Melalui pidatonya, Hamli kembali mengenang segala peristiwa yang baik dan yang buruk, suka maupun duka, yang telah menghiasi perjalanan pernikahan dia dan Din Wati, istrinya. Semua nampak di mata hatinya, berarak-arak seperti kunang-kunang di malam hari. Pernikahan bahagianya bukan tanpa perselisihan, perbedaan, pertentangan kata, dan masalah-masalah lain yang bisa mengganggu kelanggengan pernikahan mereka. Tapi semuanya, mereka anggap sebagai bumbu makanan.

Nilai kecendikiaan lainnya ditunjukkan dengan bagaimana tokoh Hamli memandang dan memutuskan suatu keputusan dengan pertimbangan matang dan bijak. Pertimbangan yang dikalahkan oleh takdir, sedang takdir berasal dari Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini dapat dilihat pada paragraf berikut:
“…….dalam perjodohan yang lima puluh tahun, yang disebabkan oleh adat istiadat Padang, perjodohan Hamli dan Din Wati adalah perjodohan sejati yang telah ditakdirkan Tuhan, dari awal sampai akhir.”(hlm 534)

Beberapa hal yang saya dapatkan setelah merampungkan novel ini pada 2014 lalu, diantaranya.
1. Keharusan orang Padang menikah dengan sesama kaumnya. 2. Dibenarkan tindak poligami dalam adat Padang. 3. Kebiasaan orang tua Padang menjodohkan anak-anak mereka .

Tokoh utama memegang teguh keputusan untuk tidak berpoligami.
Melakukan apa saja demi mendapatkan jodoh yang dimau. Perempuan memegang kendali penting dalam rumah tangga.

Well, novel pamungkas karya Marah Rusli ini menjadi karya terakhir yang terbitkan. Karya awal yang diterbitkan di akhir. Setelah beliau tiada.
Lokalitas daerah dalam tulisan fiksi zaman now perlu ditingkatkan kembali mengingat bahwa hasil budaya itu merupakan pengintegrasian budaya dan pencerminan kepribadian masyarakat. Penulis muda harus mendukung penggalian sastra daerah untuk tetap menghidupkan sastra Indonesia.

Manteman, ini hanya pendapat pribadi. Mohon masukannya jika ada salah tafsir adat dan budaya. Belajar kebudayaan itu menyenangkan.

Terimakasih telah membaca.
Diah Anindiah Said

About Admin

Check Also

Novel: Ketika Langit Runtuh

Ketika Langit Runtuh Sebuah novel dari Abdul Muttaqin, bercerita tentang sebuah keluarga yang terdiri dari ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *