Download Free Designs http://bigtheme.net/ Free Websites Templates
Breaking News
Home / Pengetahuan Umum / Belajar Berproses menjadi Pemimpin dari Nabi

Belajar Berproses menjadi Pemimpin dari Nabi

leadership
via http://3.bp.blogspot.com

Bismillahirrahmanirrahiim,
Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmush shaalihaat. Allahumma aati nafsi taqwahaa wa zakkiha, anta khayru man zakkaha, anta waliyyuha wa mawlaahaa.

Alhamdulillah diberi kesempatan kulsap lagi. Kali ini saya ingin berbagi dengan kengkawan tentang “Belajar Berproses menjadi Pemimpin dari Nabi”. Setiap kita disini, sudah pada tau dan sadar kan ya, in shaa Allah, sebagai ummatnya nabi siapa? Muhammad saw. Artinya, yang kita anut, yang kita teladani, ya sebaik-baik teladan pertama kali adalah beliau. Betul tidak?

Di jaman seperti sekarang ini, ketika hampir kita liat komunitas intelektual menjamur, semangat pemuda juga sedang diasah di berbagai bidang. Di training2 pun digaungkan semangat membangun peta hidup masa depan hendak menjadi apa. Kita bisa liat rujukan2nya, bermacam2 bukan? Saya tidak akan menyelisihi mana yang terbaik dari teori dan metode pembelajaran yang beragam di masa kini. Tetapi, saya ingat, beberapa tahun lalu, ketika saya sedang lahap sekali ‘nyemil’ sirah nabi, saya menemukan inspirasi bahwa sejatinya proses hidup ini benar2 dapat belajar dari nabi, bahkan tiap fase yang dilalui pun dapat diteladani.

Kali ini, saya akan sharing tentang bagian pertama saja. Belajar dari fase Muhammad sebelum menjadi Nabi.

Kita hafal dan tau betul, Nabi kita mulai ditunjuk menjadi nabi usia berapa? 40 tahun. Nabi kita wafat dengan amanah sebagai Nabi di usia berapa? 63 th. Artinya, dapat dikatakan jika, Nabi itu dibentuk lebih lama ya dari masa tugas beliau. Nah, bagaimana dengan kita. Sudah sejauh mana kita mendidik diri kita, walau hanya menjadi seorang ahli dalam profesi tertentu atau bidang tertentu? Hehe. Ya, kalo mau kualitas terbaik, kesabarannya juga tentu kesabaran terbaik dalam menempanya.

Mari kita lanjutkan.

1⃣ Apabila kita lihat latar belakang nabi, apa yang kita ingat?
Dari mana asal Muhammad? Seperti apa keluarganya?
Wah iya, kita hafal. Muhammad keturunan Ismail, kalangan hanifiyyah yang suci. Bani Hasyim pengurus rumah Allah yang terhormat di kalangan kaumnya. Wah, ma shaa Allah. Bisa dibayangkan, jika ada orang masa kinim dengan latar belakang seperti itu, ternyata ke depan ia berpeluang menjadi sebaik2 manusia?

Tetapi apa yang terjadi?
Qadarallah. Satu per satu orang2 terdekatnya Allah panggil. Ayahnya, lalu ibunya, lalu kakeknya, (ini sdh masuk fase kenabian) lalu pamannya, lalu istrinya. Pertanyaannya, mengapa kira2?

Kurang sempurna apa coba, tapi kenapa skenario Allah begitu. Apa ya kira2 hikmahnya buat kita?
Saya mencoba belajar, bahwa, Allah ingin menunjukkan bahwa pemilihan seorang manusia menjadi manusia mulai itu tidak bergantjng pada latar belakang nasabnya, sebaik apapun itu. Itu, pertama. Kedua, Allah mengajari satu hal pertama kali pada diri nabi: KEMANDIRIAN dan Hanya bergantung pada Allah, bukan kepada makhluq.

Ini syarat pertama pembentukan pribadi tangguh ala kenabian.
2⃣ kemudian nabi tumbuh, diasuh disusui oleh siapa? Halimatus sa’diyah. Sebelumnya ada juga ibu susunya yg lain, yg juga menyusui paman nabi. Dimana disusuinya? Di bani sa’ad ya kalo tidak salah. Dimana itu? Di perbukitan, diluar kota makkah.

Pertanyannya, mengapa?
Ya, karena makkah dipenuhi “polusi” kemaksiatan, maka muhammad harus diselamatkan dari itu. Di bani sa’ad itu jg terjadi pembelahan dada nabi bukan? Intinya apa sih sebenarnya? Nah, intinya adalah penyucian diri dari kemaksiatan, dari dosa2. Maka pelajaran kedua menjadi pribadi tangguh adalah mensterilkan diri dari kemaksiatan.

3⃣ di tempat itu, sebelum nabi dikembalikan ke aminah karena halimah khawatir dg peristiwa pembelahan dada nabi itu, nabi sempat belajar menggembala ternak. Hal ini juga terjadi pada pendidikan bagi nabi2 sebelumnya. Kenapa ya, para manusia mulia itu dididik menggembala?

Barangkali jika boleh menarik hikmah, menggembala itu artinya mengurus sesuatu, dalam hal ini hewan, yang tidak bisa diajak komunikasi dua arah. Semua perkembangan gembalaan itu bergantung pada penggembalanya. Kapan ini dan itu, semua diatur oleh sang penggembala. Maka, pelajaran berikutnya adalah tentang “managing something (bisa jadi hari ini adl managing people)” yang tidak setara dengan kita. Yang perkembangannya semua bergantung pada kita. Lalu bagaimana dengan kita. Sudahkah kita melalui fase ini dalam pembelajaran hidup?

4⃣ nabi kemudian dikembalikan ke ibunya, lalu kakeknya, lalu pamannya, dan diajak berdagang ke syam. Kenapa? Mengapa harus berdagang? Apa yang dipelajari dari berdagang?
Singkat saja kita bisa mempelajari, bahwa ini pelajaran manajemen lanjutan. Jika tadi satu arah, kini manajemen itu 2 arah. Dalam perdagangan, kita bisa tau unsurnya ada pedagang, pembeli, barang, dan akad. Maka dari situ kita bisa belajar, “branding something”, “negotiations”, “diplomation”. Betul tidak? Dari sini kemudian, nabi dididik suatu hari ia kana menawarkan bukan skedar barang dagangan, tetapi pemurnian agama tauhid.

5⃣ kemudian, di usia sekitar baligh, nabi pernah terlibat dalam perundingan quraisy dan perang. Secara detilnya, silakan baca di sirah ya. Dari sana, kita bisa belajar tentang “manajemen konflik”.

6⃣ baru kemudian, di usia d sekitar 25an, nabi dipercaya mengambil keputusan atas peletakan kembali hajar aswad. Bila disetarakan dg hari ini barangkali itu sudah perwakilan di tingkat apa ya, yang berhak taking desicion atas konflik yang ada.

Baru dari situlah kemudian, semakin meningkat kegelisahan nabi atas kondisi makkah,. Ya, kegelisahan. Bukankah kita harus gelisah melihat kondisi ummat yang tak kian baik? Jika gelisah saja tidak, lalu bagaimana kita akan merenungi kondisi itu seperti uzlah yang dilakukan nabi (jaman ini tak perlu menyendiri ke gua, hehe). Kemudian dari situ, beliau kemudian diangkat menjadi nabi. Kisah ini saya stop disini dl.
Saya belajar dari fase-fase itu. Betapa runutnya cara Allah mendidik Muhammad menjadi manusia pilihan, yang akan menjadi panutan hingga yaumil akhir, bukan cuman ilmuawan idola di masa tertentu saja. Ternyata ada pembentukan kepribadian yang luar biasa pada diri beliau.

1⃣ kemandirian dan kebergantungan hanya pd Allah (0 th)
2⃣ mensucikan diri dari kemaksiatan, bahkan hmenjadi pribadi jujur nan terpercaya, memiliki akhlaq terbaik sejak snlm jadi nabi (balita)
3⃣ belajar memanage sesuatu yg satu arah, atau yang dibawah kita dahulu dan maintaining itu dg baik (6 th)
4⃣ belajar memanage sesuatu yang setara, melakukan bargaining dan branding pada produk yang diusung, dengan kesantunan yang telah terdidik lebih dulu. Belajar melakukan negosiasi dna diplomasi pada lawan bicara yang juga punya kadar intelektualitas, bukan seperti sebelumnya yang hanya domba gembalaan, (12 th)
5⃣belajar memanaj konflik (sekitar 17 th)
6⃣ belajar mengambil keputusan, menengahi keadaan, menjadi penengah yang adil. (Sekitar 25 th)

Dan ini urut dalam pendidikan kepribadian nabi. Oada jenjang rata2 usia sama, lalh bagaimana dengan kita, dengan diri saya sendiri? Benarkah fase2 itu sdh kita lalui atau kita skip begitu saja?

Semoga ada pelajaran berharga di dalamnya bagi kita. Wallahu a’lam bish shawab.

Al faqir ilallah,
Ita Roihanah

About Admin

Admin komunitas MJRS-SJS. Sebuah komunitas yang berupaya membiasakan diri dengan one day one juz + dzikir + Qiyamullail. Selain itu, ada program-program menarik dalam komunitas ini seperti kulsap (kuliah whatsapp), Bedah Buku, Bedah Film dan Kajian Telegram.

Check Also

via www.liputan6.com

Mengenal Lebih Jauh Tentang Gempabumi, Gunungapi, dan Tsunami

Oleh Muhammad Fawzy Ismullah Massiani, S. Si. (Fawzy) Bismillahirrohmanirrohim… Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh. Sebelum masuk pembahasan, ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *