Home / Pengetahuan Umum / Belajar Dari Shinise

Belajar Dari Shinise

Belajar dari Shinise: Perusahaan Jepang yang Bertahan Lama

–DIMAS PRABU TEJONUGROHO—

images (10)

Jelang usia satu abadnya, PT. Nyonya Meneer tinggal menyisakan nama. Pada Agustus 2017, Pengadilan Niaga Semarang mengabulkan permintaan serikat pekerja Nyonya Meneer untuk membatalkan perjanjian perdamaian. Perjanjian perdamaian ini awalnya diteken Manajemen Nyonya Meneer sebagai komitmen untuk membayar gaji pekerja. Namun, sayangnya selama 4 bulan berturut-turut, PT. Nyonya Meneer gagal membayar kewajibannya. Alhasil, secara otomatis PT. Nyonya Meneer dinyatakan pailit.

Nyonya Meneer adalah salah satu perusahaan jamu terbesar di Indonesia. Nama perusahaan ini diambil dari nama pendirinya, yaitu Lauw Ping No–yang biasa dipanggil Nyonya Meneer–. Awalnya Nyonya Meneer hanya membuat jamu untuk suaminya yang menderita akibat penyiksaan oleh tentara selama pendudukan Belanda di Jawa. Berbekal pengetahuan akan obat-obatan tradisional, Nyonya Meneer membuat ramuan untuk suaminya. Ramuan itu ternyata mujarab. Dari pengalaman tersebut, banyak orang yang datang kepada Nyonya Meneer untuk dibuatkan ramuan saat mereka menderita demam, sakit kepala, dan masuk angin. Usaha pertama Nyonya Meneer kemudian dibuka di Semarang pada tahun 1919.

Perusahaan ini kemudian semakin membesar. Pada tahun 1940, Nyonya Meneer mendirikan cabang di Jakarta. Pada tahun 1967, bisnis jamu Nyonya Meneer menjadi bisnis keluarga dengan Nyonya Meneer sebagai direkturnya dan 4 anaknya sebagai komisaris. Persaingan keras mulai dirasakan Nyonya Meneer saat pada tahun 1970-an muncul PT Air Mancur dan PT Sido Muncul yang menawarkan produk jamu yang khasiatnya kurang lebih sama.

Kejatuhan PT. Nyonya Meneer mulai terjadi saat Nyonya Meneer meninggal dunia pada tahun 1978. Setelah Nyonya Meneer meninggal dunia, mulai terjadi konflik internal antara keluarga Nyonya Meneer dalam mengurus perusahaan. Kerakusan, ketamakan dan pepecahan antara keluarga menyebabkan strategi perusahaan menjadi tak tentu arah. Dengan majunya kompetitor lain seperti Air Mancur dan Sido Muncul, pada akhirnya membuat Nyonya Meneer mundur perlahan dan akhirnya berakhir bangkrut.

Dengan adanya kejadian bangkrutnya perusahaan seperti Nyonya Meneer, sebetulnya kita bisa mengambil hikmah. Hikmah positifnya adalah dengan memahami bangkrutnya sebuah perusahaan, kita bisa belajar bahwa perusahaan juga seperti manusia. Bisa segera muncul untuk mengambil pasar dan kemudian pergi seakan tanpa ada bekas. Sedang hikmah negatifnya, dengan bangkrutnya sebuah perusahaan sama artinya dengan mematikan pekerjaan untuk beratus atau beribu pekerjanya. Kita tak pernah tahu bagaimana berapa keluarga yang menderita karena matinya satu perusahaan.

Setelah mendengar PT. Nyonya Meneer bangkrut, saya mencoba untuk mencari tahu bagaimana sebuah perusahaan dapat tumbuh sangat lama. Nah, dari penelusuran yang saya lakukan, saya menemukan sebuah istilah dari Jepang yang bernama shinise.

Shinise adalah sebuah istilah Jepang untuk sebuah perusahaan yang telah bertahan lama dalam kurun waktu tertentu. Perusahaan shinise ini dikenal sebagai perusahaan yang telah terbukti dan terpercaya dalam kualitas produksi serta praktik manajemennya yang unik.

Menurut data pada tahun 2017, saat ini terdapat 28.000 shinise di Jepang. Beberapa diantaranya bahkan saat ini telah berusia 1000 tahun lamanya. Perusahaan shinise yang paling tua di Jepang adalah perusahaan konstruksi bernama Kongo Gumi yang berbasis di Osaka yang berumur 1400 tahun. Perusahaan shinise lain biasanya ada di perusahaan pembuatan sake, hotel, dan pakaian.

Apa yang membuat perusahaan ini bisa bertahan lama? Perusahaan ini bisa bertahan lama karena beberapa hal berikut:
Perusahaan shinise sangat dipercaya oleh seluruh stakeholdernya.
Kepercayaan ini tumbuh tidak datang dengan sendirinya. Kepercayaan ini muncul karena perusahaan selalu berusaha memberikan produk dan jasa yang paling baik yang mereka bisa berikan. Pelanggan datang ke perusahaan shinise bukan hanya percaya mereka akan mendapatkan produk yang terbaik. Pelanggan juga sangat percaya bahwa mereka akan dilayani dengan penuh perhatian dan cara yang sebaik-baiknya.
Perusahaan shinise menekankan kolaborasi ketimbang kompetisi.

Dari pelajaran PT. Nyonya Meneer, kita tahu salah satu hal yang menjatuhkan perusahaan mereka adalah kompetitor. Tapi para pemimpin di perusahaan shinise selalu menekankan di strategi perusahaan mereka bahwa kolaborasi adalah hal yang utama untuk membuat perusahaan mereka tetap bernafas panjang. Sehingga, mereka selalu menjaga hubungan lain dengan perusahaan yang memberikan layanan sejenis dan saling bersinergi antara mereka.

Perusahaan shinise melatih kemahiran pekerjanya dengan cara mentoring dan coaching, bukan hanya sekedar training formal. Peribahasa yang selalu dilaksanakan oleh para pemimpin di perusahaan shinise adalah: Show your back to your people (Tunjukkan punggung Anda kepada orang-orang).

Maksud dari peribahasa tersebut ialah jika kamu bekerja dengan sangat keras, maka pekerja lain akan lebih sering melihat punggungmu ketimbang wajahmu. Hal ini menunjukkan bahwa pemimpin harus memberikan teladan lewat perbuatannya, bukan hanya lewat kata-kata. Pembelajaran di perusahaan shinise lebih banyak dilakukan dengan observasi. Pekerja kemudian benar-benar menjadi bagian dari perusahaan shinise.

Perusahaan shinise mengambil keputusan berdasarkan intuisi dan pengalaman. Karena telah berada di perusahaan sudah cukup lama, maka para pemimpin di perusahaan shinise biasanya sudah memiliki feeling yang sangat kuat untuk menyelesaikan permasalahan atau peluang di tempat kerja mereka.

Perusahaan shinise selalu berinovasi untuk menjaga agar nilai di produk dan jasa yang mereka tawarkan tetap sama dari sejak dulu kala. Walaupun perusahaan yang berumur seratus sampai seribu tahun ini terlihat sangat out to date, sebenarnya perusahaan shinise selalu melihat inovasi dan perubahan teknologi yang dapat menaikkan kualitas produk dan jasa mereka. Akan tetapi, jika inovasi atau teknologi tersebut mengubah kualitas produk dan jasa mereka (misal : mengubah rasa produk), mereka tidak akan menggunakan inovasi tersebut. Hal ini dilakukan agar kualitas produk dan jasa mereka tetap sama sesuai nilai-nilai yang mereka anut.

Perusahaan shinise lebih tertarik untuk menumbuhkan kelanjutan dari nilai dan kompetensi yang mereka punya ketimbang pertumbuhan jangka pendek. Banyak dari perusahaan tidak memprioritaskan perusahaan mereka agar bisa scaling menjadi perusahaan besar. Bagi mereka, jika menjadi perusahaan besar hanya menyulitkan mereka untuk memberikan produk dan jasa yang terbaik, mereka lebih baik menjadi perusahaan yang skalanya kecil saja.

Nah, kira-kira bagaimana? Apakah konsep shinise ini bisa kita terapkan untuk beberapa konsep bisnis seperti startup dan UMKM di Indonesia?

Tulisan ini disampaikan di grup ODOJ MITI MJR SJS 2
Sumber Referensi;
Innan Sasaki & Hidekazu Sone (2015).Cultural approach to understanding the
long-term survival of firms – Japanese Shinise firms in the sake brewing industry, Business History,
DOI: 10.1080/00076791.2014.993618

Krahnke K, Wanasika I, Soltwisch BW (2018) The spirit of shinise: Lessons from long-lived Japanese companies. GBOE. 2018;38: 6–14. https://doi.org/10.1002/joe.21895

The Conversation (2019). How to build a business that lasts more than 200 years – lessons from Japan’s shinise companies. https://theconversation.com/how-to-build-a-business-that-lasts-more-than-200-years-lessons-from-japans-shinise-companies-116839

Tirto.com (2017). Jelang Satu Abad Njonja Meneer yang Berakhir Pailit. https://tirto.id/ctX1.

About Admin

Check Also

Image Air Minum

Air minum

Air minum Mithayanti Assalamualaikum… izin post kulsap, kali ini mau bahas sedikit soal air putih ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *