Home / Dakwah / Berhikmah Bersama Pecinta Al Qur’an

Berhikmah Bersama Pecinta Al Qur’an

“Barangsiapa yang ingin dicintai Allah dan Rasul-Nya, maka perhatikanlah, jika ia mencintai Al-Qur’an, berarti ia mencintai Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Thabrani)

Bismillahirrahmanirrahim…

Segala puji hanya milikNya, segala kebesaran dan keagungan hanya untukNya… Dzat yang Maha Kuasa, Maha Kasih dan Sayang. Atas rahmat-Nya kita masih terjaga dari rasa sakit dan lapar, masih terlindung dari panas dan hujan, serta masih diberi banyak kelapangan dan kemudahan di tengah situasi pandemi yang masih tinggi ini. Lebih dari itu semua, nikmat tertinggi yang patut kita syukuri adalah Allah masih izinkan kita membuka mata sebagai seorang muslim, masih izinkan bernafas sebagai orang yang memiliki iman bahwa tiada Tuhan yang patut disembah selain Allah…dan Muhammad SAW adalah benar-benar utusan Allah…Alhamdulillah…Alhamdulillah…Alhamdulillahirobbil’alamiin..

Bulan suci itu telah berlalu…sungguh cepat bulan baik ini pergi, kala diri masih bersusah payah menata hati, kala hati masih terseok seok membangun iman, kala untaian do’a begitu mesra diucapkan, kala sealam raya serasa tenang dan khusyu’, Ramadhan begitu saja pergi meninggalkan ruang hampa di hati. Ditengah kondisi pandemi ini, ditengah kondisi sulit ini. Ramadhan bagaikan obat sekaligus alarm yang mengingatkan bahwa sejatinya manusia itu hanyalah hamba hamba fakir yang berserah diri.

Ramadhan, bulannya Al-Qur’an. Betapa telinga lebih sering mendengar lantunan Al-Qur’an saat Ramadhan, pun bibir yang meskipun masih jauh dari baik, lebih sering melafazkan Kalamullah saat Ramadhan. Di Ramadhan tahun ini Subhanallah banyak sekali inspirasi, hikmah, dan pelajaran dari para pecinta Al-Qur’an, yg akan terurai dalam paragraf paragraf di bawah ini.
“Hati yang senantiasa dipenuhi dengan Al-Qur’an menjadi bersinar dan mudah menerima ilmu pengetahuan. Ia juga sangat mudah untuk tersentuh oleh nasihat orang lain, serta pelajaran kehidupan. Sementara hati yang kosong dari Al-Qur’an, laksana rumah kosong tak berpenghuni yang hancur. Ia bisa menjadi sarang. Sarang dari berbagai macam penyakit.”

Begitulah sekilas cerita mba Rizki Putri, salah seorang yang atas izin Allah mampu mengkhatamkan 30 juz Al-Qur’an dalam sehari ditengah segala kesibukannya. Sebuah bukti Al-Qur’an adalah Kalamullah yang tak akan pernah bisa ditandingi oleh apapun karya buatan manusia.

Adalah sebuah keluarga kecil di Bangkalan, Madura. Tahun 2012 adalah tahun yg sangat berat bagi keluarga itu. Sang ibu tak kan pernah melupakan hari ketika rumahnya didatangi 2 peti jenazah sekaligus dalam sehari. Sang suami dan anak pertama, yang pagi itu dengan semangat meminta izin untuk pergi memancing, pulang tak bernyawa setelah tercebur dan tenggelam di laut. Sang anak terpeleset dan sang ayah yg berusaha menyelamatkan ikut tenggelam. Ujian yang tak ringan, sang ibu harus membesarkan 2 anak yang masih berusia 7 dan 1 tahun seorang diri. 8 tahun kemudian, kerja keras sang ibu terasa terbayarkan dengan fasihnya sang anak melantunkan ayat suci Al-Quran, begitu mudah Al-Qur’an bersemayam di ingatannya, begitu kuatnya semangat juang sang anak untuk terus belajar dan berusaha memperbaiki bacaannya, hingga akhirnya kerja keras dan ketabahan itu mengantarnya pada 3 terbaik di salah satu acara Hafidz Qur’an. Masih teringat betul bagaimana perjuangan ibu dan anak ini dalam belajar Al-Qur’an.
“Saya setiap hari PP 2 jam untuk antar jemput Ica (anak) ngaji. Kadang Ica kalau kemalaman tidur di pondok. Saya selalu berpesan ke anak-anak… Tetap semangat nak, tolong agama Allah.”

Aiihh….indah sekali ucapannya, seakan menohok diri yang masih lemah dan rapuh iman ini. Barakallahufiikum…semoga Ica, ibu Ica, dan kakak ica selalu diberikan kesehatan dan keteguhan iman. Terimakasih telah banyak menginspirasi kami, semoga kami bisa sekuat dan setegar kalian ya..insyaallah

Ada lagi kisah dari bapak seorang anak bernama Ulin, asal Kendal, Jawa Tengah. Bapak ini, masyaallah….super pendiam dan pemalu. Jangankan untuk tampil ke depan…ngomong aja susah, menjawab pertanyaan aja tak bisa lebih dari satu kata. Tapi…. Allah maha tahu, dibalik sikap pendiam nya itu..ada api semangat yang terus berkobar untuk mendekatkan anaknya dengan Al-Qur’an. Sungguh sangat berat bagi sang Bapak, ketika qadarullah sang istri tercinta pergi terlebih dahulu menghadap Allah dengan meninggalkan wasiat yang sangat berat, “Jadikan anak anak kita penghafal Al-Qur’an ya pak…biar kita bisa kembali berkumpul di surgaNya Allah.”

Di salah satu episode, ketika sang anak harus pulang, sang Bapak memberanikan diri untuk berbicara : “Orang yang menghafal Alquran, orang yang cinta Al Qur’an, orang yang berpegangan pada Al Qur’an, tidak boleh sedih, tidak boleh berkecil hati, tidak boleh merasa malu, karena orang yang berpegang teguh pada Al-Qur’an sama saja dengan orang yang berpegang teguh pada Allah, dan orang yang berpegang teguh pada Allah niscaya Allah akan memudahkan urusannya, dunia dan akhirat.”

Memang bapaknya Ulin tak pandai berbicara, pun mengungkapkan isi hatinya. Namun, kerja kerasnya setiap hari, berpeluh berjualan kaki lima dengan bentornya di kampung, tekadnya yg begitu membaja agar Ulin dapat terus mondok dan mendalami ilmu agama begitu terlihat dan terasa. Barakallahufiikum. Semoga Allah selalu mencintai dan merahmati keluarga ini. Semoga Ulin bisa tumbuh besar menjadi ahli ilmu yang mampu mengangkat derajat orangtuanya. Amiinn yarabbal’alamiin.

Begitulah… Al Qur’an tak henti-henti menebar kan hikmah, Al Qur’an yang menenangkan, Al Qur’an yang memudahkan, Al Qur’an yang menguatkan, Al Qur’an yang membesarkan. Melihat mereka, diri ini tersadar bahwasanya surga itu sangatlah mahal kawan…. bisakah diri yang masih fakir, rombeng, dan compang camping ini melangkah kesana??

Ihdinashirotolmustaqiim. Jika jiwa dan raga ini belum mampu seperti orang-orang sholih, Semoga Allah tak menjauhkan diri kita dari mereka. Entah bertemu langsung, lewat layar kaca, media sosial, atau lewat apapun semoga kita selalu didekatkan dengan pancaran hikmah orang orang Sholih. Semoga orang sholih berkenan dekat dengan kita, tinggal di dalam keluarga kita, masuk ke lingkungan pertemanan, lingkungan pekerjaan, dan semua sendi kehidupan kita.

Amiinn…Amiinn… yarabbal’alamiin…

Rista Fitria Anggraini

About Admin

Check Also

Via diandandunia.net

Misi Hidup

Alkisah, ada seorang raja yang menugaskan seorang menterinya untuk pergi ke sebuah kota dalam situasi ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *