Home / Pengetahuan Umum / Berorganisasi dengan Psychological Ownership

Berorganisasi dengan Psychological Ownership

Seringkali kita menemukan permasalahan-permasalahan di sekitar kita. Contohnya ketika bekerja/berorganisasi. Ada aja orang yang ogah-ogahan dalam bekerja, atau bahkan kita sendiri yang demikian? Nah sebenarnya dari mana akar permasalahan tersebut?

Di masa depan, diprediksi organisasi semakin membutuhkan karyawan dengan perilaku-perilaku proaktif (Fuller, Barnett, Relyea, & Frey, 2007). Penelitian lain menunjukkan bahwa perilaku-perilaku sukarela dengan tujuan perubahan diyakini dapat menciptakan lingkungan bisnis yang dinamis serta meningkatkan kemampuan organisasi untuk beradaptasi dengan perubahan (Podsakoff, Whiting, Podsakoff, & Blume, 2009; Organ, Podsakoff, & MacKenzie, 2006; MacKenzie, Podsakoff, & Podsakoff, 2011). Hal ini tentu tidak selaras dengan kondisi pekerja ogah-ogahan yang pernah kita temui.

Salah satu tipe perilaku proaktif adalah taking charge, yakni perilaku melibatkan diri secara aktif melalui kegiatan konstruktif dan sukarela yang berdampak pada perbaikan/peningkatan fungsi pekerjaan di organisasi. Perilaku keterlibatan aktif ini tidak muncul begitu saja dari diri karyawan. Di sisi lain, perusahaan juga tidak bisa memaksakan karyawan untuk melibatkan diri secara aktif karena sepanjang pekerjaan yang didasarkan padajob descriptiontelah terselesaikan, maka artinya secara kontraktual, karyawan telah menuntaskan pekerjaannya.

Penelitian menunjukkan bahwa dorongan ini berasal dari rasa tanggung jawab (Moon, dkk, 2008; Choi, 2007), akan tetapi semata-mata memberikan tanggung jawab kepada karyawan tidak berarti karyawan akan bertanggung jawab (Cummings & Anton, 1990). Dengan kata lain, ada atribut yang lebih mampu menjelaskan bagaimana tanggung jawab ini terbentuk dalam diri karyawan dan bukan sekedar tanggung jawab karena paksaan dari luar (misal, menyelesaikan pekerjaan karena sudah terikat kontrak).

Apakah itu? Pshycological ownership (kepemilikan psikologis) terbukti dapat mendorong terciptanya rasa tanggung jawab dari dalam diri (Pierce, dkk., 2001, 2003). Individu yang merasakan kepemilikan atas sesuatu akan mengembangkan rasa tanggung jawab untuk menjaga, melindungi, mempertahankan, dan mengembangkan apa yang menjadi miliknya tersebut (Belk, 1988; Furby, 1978). Sebagai contoh, rasa kepemilikan orang tua terhadap sang anaknya membuat mereka ingin menjaga, melindungi, dan menumbuh-kembangkannya dengan sebaik mungkin.

Individu dengan kepemilikan psikologis yang tinggi akan mencurahkan kepedulian dan perhatian yang lebih besar terhadap obyek kepemilikannya. Nah rasa tanggung jawab yang muncul karena rasa kepemilikan ini dapat mendorong individu untuk melakukan hal-hal yang bersifat sukarela.

Barangkali teman-teman sudah banyak yang tau tentang teori ini, nah sekarang tinggal praktiknya. Ciptakan lingkungan yang nyaman dan bersahabat tanpa menghilangkan wibawa dan ketegasan, buat batasan-batasan yang jelas untuk setiap tugas, dan jangan lupa untuk dilakukan langkah-langkahnya karena kalau cuma di pemikiran juga ga bakal jalan. Yuk bangun rasa kepemilikan, bahkan untuk diri sendiri! ^^

Syaila salsabila faradis

About Admin

Check Also

Via haibunda.com

Membuka Suara Menutup Mata pada Pornografi

Dunia digital, dengan akses yang makin luas terhadap berbagai informasi, memberi banyak kesempatan belajar, tetapi ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *