Breaking News
Home / Dakwah / Bersyukur Bertemu Dengan Orang-orang Sholih/Sholihah

Bersyukur Bertemu Dengan Orang-orang Sholih/Sholihah

20190429_134653_0000

Kulsap Siti Masyitoh
26 April 2019

Bersyukur Mengenal Orang-orang yang Shalih dan Shalihah

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka (TQS. Ar-Rad [13]: 11)

Dari ayat itulah saya bersemangat untuk mendatangi majelis ilmu dan majeelis dzikir yang ada di kota saya. Awal hijrah saya adalah menonton film Ayat-ayat Cinta di bioskop. Di situ saya membulatkan keinginan untuk berkerudung, walaupun masih jauh dari kata syari. Setiap libur kerja, saya mulai mengikuti kajian yang ada di masjid dekat rumah. Tapi masih belum seratus persen meninggalkan maksiat. Kemudian, ada kenalan mengajak saya ngaji di Sawojajar yang pada akhirnya saya tahu itu adalah syiah. Cuma sekali aja mengikuti kajian di situ. Lalu ada user langganan yang mengenalkan saya pada HTI. Ketika itu awalnya ngaji fiqih di Al Farabi, Universitas Kanjuruhan Malang. Sekitar tahun 2010 saya memutuskan menjadi darisah atau murid yang belajar tentang kitabnya Syekh Taqiyudin An Nabani, kitab bahasa arab yang saya terjemahkan ke bahasa Indonesia; kitab tentang politik dalam Islam susah sekali karena sampai sekarangpun saya gak bisa bahasa arab. Dari situlah saya mengetahui kalau cara hidup saya selama ini salah. Akhirnya, mulailah saya memperbaiki diri dari penampilan lebih syari dan sempat ditentang orangtua, keluarga, juga lingkungan walaupun akhirnya orangtua tidak ada masalah dengan penampilan baru saya. Yang jadi masalah terbesar dan terberat adalah pacar saya (yang sekarang suami saya. Karena saya mengaji, saya mulai menjauhi dan memutuskan hubungan. Beliau tidak mau terima dengan keputusan saya. Saya biarkan berlalu saja, mungkin seiring waktu akan saling melupakan ataupun kalau jodoh saya tidak bakalan kemana. Kebiasaannya yang sering datang ke rumah saya tidak lantas membuat beliau berhenti meski saya memutuskan hubungan. Saya sempat bingung dan pusing dengan kelakuannya. Pada akhirnya saya memutuskan apabila tidak mau berpisah dengan saya maka menikahlah dengan saya. Sekitar Juli 2011, bersama pamannya datanglah si dia ke rumah saya untuk melamar saya yang langsung disetujui orang tua saya. Alhamdulillah, Agustus 2011 kami menikah secara siri, karena orangtua suami tidak menyetujui pernikahan kami. Dengan jalan berliku-liku, akhirnya tahun 2015 kami menikah secara resmi.

Hijrah itu berat sekali yang saya rasakan, bukan tekanan dari luar tapi dari dalam keluarga sendiri. Selama setahun jadi darisah di HTI saya memutuskan keluar dari sana. Tahun 2013 saya mengenal ODOJ biasa, dan kutub setelah rutin bertilawah seperti hidup saya mulai ditata oleh Alloh. Setelah merantau ke Lombok tahun 2016, sekitaran Juli atau Agustus saya mulai mengenal ODOJ MITI yang dikenalkan teman satu grup saya di odoj biasa–Dek Nuraini–. Awal masuk, saya merasa kok bercampur lelaki dan perempuansaya agak menyesuaikan diri–tetapi setelahnya saya merasa nyaman dan sangat bersyukur sehingga sampai sekarang saya masih berada di sini. Bisa mengenal teman-teman yang shalih dan shalihah; bisa rutin tilawah; sharing berbagai ilmu yang tidak saya dapatkan ditempat lain; dan dapat merasakan indahnya silaturrahmi dengan teman berbagai daerah di Indonesia meskipun masih beberapa saja yang dapat saya temui. Bersama mereka, seperti keluarga kedua bagi saya. Alhamdulillah.

Semoga kita semua kelak dikumpulkan Alloh dalam Jannahnya. Aamiin…
Sahabat sehidup sesurga InsyaAllah…

About Admin

Check Also

Bersyukur dan Tidur

Bersyukur dan Tidur Fawzy ismullah Judul di atas mungkin terasa unik, bahkan mungkin saja terasa ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *