Breaking News
Home / Hikmah Kehidupan / Bersyukur dan Tidur

Bersyukur dan Tidur

Bersyukur dan Tidur

Fawzy ismullah

Judul di atas mungkin terasa unik, bahkan mungkin saja terasa aneh. Bagi banyak orang mungkin hal ini tidak terlalu menarik. Tapi tidak bagi beberapa orang seperti orang-orang yang bergerak di bidang psikologi, kebetulan adik saya bergelut di bidang ini. Doakan semoga adik saya ini lancar menjalani kuliah magister di tanah kelahirannya.

Setidaknya lebih dari dua dekade terakhir, sains psikologi mulai memperhatikan tentang bersyukur, bahkan menyebutkan bahwa bersyukur adalah fungsi penting dari sisi psikologi seseorang. Lebih lanjut, bersyukur sering dihubungkan dengan perilaku positif seperti kebahagiaan, kepuasan hidup, hubungan interpersonal yang kuat dan sebagainya (Rosmarin dkk., 2011). Salah satu yang menarik adalah terkait dengan tidur. Alex M. Wood dari School of Psychology, University of Manchester dan tim pada tahun 2009 mempublikasikan artikel pada Jurnal of Psychosomatic Research mengenai pengaruh bersyukur terhadap kondisi tidur seseorang.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara bersyukur dan tidur. Metode yang digunakan adalah metode kuisioner terhadap 186 pria dan 215 wanita dengan usia sekitar 18 hingga 68 tahun. Peserta merupakan relawan yang berkerja di beberapa perusahaan besar di London, atau beberapa komunitas di toko kopi di South West of England dan di East Midlands. Kuisioner yang digunakan merujuk tiga buah aktivitas: bersyukur, kondisi sebelum tidur, tidur. Pada kondisi bersyukur menggunakan GQ-6 (McCullough dkk., 2002), kondisi sebelum tidur menggunaan The Self Statement Test (Fichten dkk, 1998) dan tidur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (https://consultgeri.org/try-this/general-assessment/issue-6.1.pdf). Beberapa tes kepribadian juga digunakan menggunakan beberapa instrument (Wood dkk., 2009).

Hasil yang didapatkan menunjukkan bersyukur memiliki hubungan yang unik dengan total sleep quality, subjective sleep quality, sleep latency, sleep duration dan daytime dysfunction. Orang orang yang sering bersyukur akan mendapatkan kualitas dan durasi tidur yang baik dan cenderung tidak mengalami insomnia dan gangguan di waktu siang. Hubungan ini disebabkan orang orang yang sering bersyukur cenderung memiliki kondisi yang lebih baik sebelum tidur dibanding yang jarang bersyukur. Saat tidur, orang orang yang bersyukur cenderung tidak memiliki pikiran negatif dan kekhawatiran sehingga saat tidur, mereka cenderung tidak terbangun karena pikiran pikiran negatif tersebut. Sikap sering bersyukur itu lah yang mengurangi pikiran-pikiran tersebut. Sebaliknya, sikap bersyukur mengundang hadirnya perasaan tenang sebelum tidur yang akan mengundang hadirnya kualitas dan durasi tidur yang baik. Uniknya bersyukur tidak berhubungan dengan efisiensi tidur sehingga hubungan antara bersyukur dan durasi tidur lebih pada kualitatif bukan kuantitatif.

Hasil ini mengingatkan saya pada sebuah kisah mengenai sahabat yang dijamin masuk surga. Tentu teman teman pernah mendengar kisah ini. Alkisah saat Rasulullah Shallallahu alaih wassalam sedang talim, dan bersabda bahwa sesaat lagi akan ada yang datang yang dijamin masuk surga. Lalu masuklah seorang sahabat yang janggutnya masih basah oleh air wudhu. Hal ini terulang hingga 3 hari. Salah seorang sahabat, ada yang menyebut Ibnu Umar ada juga yang menyebut Amr bin Ash, kemudian penasaran dan meminta izin menginap di rumah sahabat tadi. Hal ini ia lakukan untuk menggali info amalan apa yang ia kerjakan sehingga mendapat jaminan surga.

Singkat cerita, sahabat ini tidak menemukan amalan spesial dari sahabat Rasulullah tersebut. Sahabat ini memperhatikan bahwa ia tidur pulas dan tidak pernah qiyamullail namun saat terjaga ia akan berzikir sampai subuh tiba. Tentu ini mengundang kekecewaannya sehingga sahabat ini menyampaikan alasan menginap di rumah sahabat tadi. Sahabat yang rumahnya ditinggali ini mengungkapkan bahwa inilah amalannya, tidak ada yang spesial sama sekali. Namun sebelum tidur ia mensyukuri semua nikmat yang Allah berikan padanya, menghapus rasa iri kepada orang yang Allah beri nikmat yang lebih besar darinya dan memaafkan kesalahan kesalahan orang padanya.

2 hal ini menunjukkan bahwa bersyukur ini tidak hanya memiliki dimensi akhirat yang diperlihatkan oleh kisah sahabat tadi namun juga memperlihatkan dimensi duniawi yakni tidur. Betullah bahwa bersyukur sebagai sebuah ibadah harian dapat menyeimbangkan dunia dan akhirat. Semoga Allah memasukkan kita semua menjadi hamba hamba-Nya yang sering bersyukur.

M.F.I
9-4-2019
Di Kolong Langit Kota Daeng

About Admin

Check Also

Syukur dan Pernikahan

Syukur dan Pernikahan Ahmad Bahrudin Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Seperti biasa setiap tanggal 1 saya Kulsap, ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *