Breaking News

Buku

buku
Mistis-Buku-Ini-Tidak-Dapat-di-Nalar-Oleh-Logika via soktau.com

Bismillahirahmanirrahim.

Hmm akhirnya saya mendapat jatah kulsap kembali. Teringat kejadian sebulan-an yang lalu dimana saya sedang tidak mood, tidak ada ide untk menulis kulsap sampai dipaksa-paksa dan jujur saya lumayan kesel dengan pemaksaan yang (menurut saya) tidak fair tsb. Karena saya melihat beberapa orang kulsapnya tertunda, tapi dibiarkan untuk tdak kulsap di hari itu. Namun belakangan setelah “kepala sudah lebih dingin” saya sadar, bahwa ini salah satu bentuk cinta member grup ini yang besar kepada saya. Coba kalau ada pemakluman yang berlebihan? Saya pasti tidak profesional, tidak tanggung jawab, dan termakan hawa nafsu untuk tidak kulsap karena gak mood.

Hmm saya pikir itu sangat mengunrangi tingkat kekerenan saya sekitar 22 %. So, demi tidak mengulangi kesalahan yang sama, saya mati-matian mencoba untk “mengakali” sifat moody dalam menulis dengan membuat tulisan kapanpun saya dapat ide. Hehe

Baiklah, mukadimah sidang PBB sudah lewat, masuk ke inti kulsap.

“Bacalah, dengan menyebut nama Rabb-mu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (QS. Al ‘Alaq 1-5)

Ayat-ayat tersebut merupakan rahmat pertama yang denganNya Allah menyayangi hamba-hambaNya skaligus sbg nikmat pertama yang diberikan kepada mereka. Di dalam ayat tersebut juga termuat peringatan mengenai permulaan penciptaan manusia dari segumpal darah. Dan bahwasanya di antara kemurahan Allah Ta’ala adalah Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Dengan demikian ia telah memuliakan dng ilmu. Dan itulah hal yang menjadikan Adam memiliki kelebihan atas Malaikat. Terkadang ilmu berada dalam alam fikiran terkadang juga dalam alam lisan. Juga terkadang berada dalam alam tulisan. Secara akal, lisan dan tulisan mengharuskan perolehan ilmu, dan tidak sebaliknya. Oleh karena itu berdasarkan Tafsir Ibnu Katsir ayat 3-5 dr QS Al ‘Alaq ditafsirkan dng kita diminta untk mengikat ilmu dng tulisan. Dan barang siapa mengamalkan apa yang diketahuinya, maka Allah akan mewariskan apa yang tidak diketahui sbelumnya.

Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan seorang “working mother” Ditengah kesibukannya sebagai ibu rumah tangga, kepala TK dan PAUD, ibu ini masih sempat menulis buku. Buku karyanya sudah 7x cetak ulang dan menjadi top 5 di Gramedia. Padahal si ibu ini niatnya menulis buku tsb hanya untk menghadiahi diri sendiri, eh malahan bukunya laku keras. Sebelum menjadi penulis, si ibu tsb aktif mendirikan komunitas membaca di kalangan ibu-ibu sosialita. Beliau melakukan pendekatan melalui arisan buku. Si peserta arisan wajib membuat resume, men-share kan resume buku yang ia baca melalui fb, blog, dan kompasiana. Jujur saya salut dengan apa yang beliau perjuangkan. Juga merasa malu karena dulu saya gembar-gembor melakukan gerakan “Baca, Tulis, dan Diskusi” sebatas untk menggugurkan kewajiban melaksanakan proker Dept. kastrat di lembaga yang saya ikuti.

Maka bersamaan dengan momentum hari buku, pertemuan saya dengan ibu tersebut, saya memutuskan untk kembali melaksanakan gerakan baca, tulis, diskusi, dan aksi. Sebagaimana yang ada dalam penjelasan Al Alaq 1-5, ikatlah ilmu dalam bentuk tulisan, dan jika kita mengamalkan apa yang kita tahu, maka Allah akan mewariskan sesuatu hal yang tidak diketahui sblumnya.

Sebgai penutup saya ambil dari postingan teman:

“Gue tahu kalo buku itu benda mati. Tapi, meluangkan waktu dengan benda mati yang menghidupkan, itu jauh lebih baik dibandingkan meluangkan waktu dengan makhluk hidup yang mematikan” (Isna Maratu, 2014)

Puspita

About Admin

Admin komunitas MJRS-SJS. Sebuah komunitas yang berupaya membiasakan diri dengan one day one juz + dzikir + Qiyamullail. Selain itu, ada program-program menarik dalam komunitas ini seperti kulsap (kuliah whatsapp), Bedah Buku, Bedah Film dan Kajian Telegram.

Check Also

Mr. Sjafruddin Prawiranegara dan PDRI

Pada tanggal 19 Desember 1948 telah terjadi kevakuman pemerintah setelah Presiden Soekarno dan Wakilnya Moh ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *