Home / Pengetahuan Umum / Diplomat dan Diplomasi

Diplomat dan Diplomasi

Diplomat dan Diplomasi

HILMY MAULANA RACHMAWAN

Diplomat lazim digunakan untuk merujuk orang-orang yang berdiplomasi. Namun, diperlukan definisi konkret guna menjelaskan tugas, peran, fungsi, dan macam-macam diplomat. Istilah diplomat yang berasal dari bahasa Inggris ini telah populer sejak akhir abad ke-18 (Tran, 1987: 1).

Diplomat memiliki arti kata sebagai abdi negara yang bekerja dalam hal hubungan luar negeri negaranya. Menurut S.L. Roy (1991: 183), seorang diplomat adalah wakil formal sekaligus simbolis negaranya di negara lain. Sebagai wakil simbolis suatu negara, diplomat harus dihormati oleh negara lain dengan pemberian berbagai hak istimewa. Hal ini juga terjadi pada era Yunani Kuno, yaitu diplomat yang disebut sebagai heralds. Di sisi lain, Grew (1944 dalam Roy, 1991: 182) berpendapat bahwa diplomat merupakan alat penyesuaian bersama antara gagasan dan kekuatan yang digunakan dasar bertindak negara-negara. Dalam hal ini, diplomat merupakan pihak yang melakukan kalkulasi antara gagasan dan kekuatan yang nantinya menjadi dasar dalam berdiplomasi.

Diplomat dapat dikenali jenisnya berdasarkan beberapa hal. Macam-macam diplomat dapat dikenali salah satunya dengan berdasarkan tingkatannya. Reglement tanggal 19 Maret 1915 dan protokol Aix-la-Chapelle tanggal 21 November 1818 akhirnya membakukan tatanan yang berhubungan dengan ranking dan gelar wakil diplomatik atas dasar-dasar yang telah disetujui (Roy, 1991: 193).

Berdasarkan kedua hal tersebut, diplomat dibagi menjadi empat dalam hal tingkatannya, yaitu
(1) duta besar luar biasa dan berkuasa penuh dan perwakilan kepausan (nuncio);
(2) duta besar luar biasa dan menteri berkuasa penuh, dan internuncio;
(3) menteri residen; dan
(4) charge daffairs (kuasa usaha), adhoc bilamana pejabat yang ditunjuk merupakan pimpinan tetap misi diplomatik, ad interim bilamana pejabat yang ditunjuk merupakan pejabat yang bertugas secara temporer dari suatu kedutaan atau perwakilan (Roy, 1991 : 193).

Pembagian ini dilakukan bukan tanpa alasan. Menurut S.L. Roy (1991: 194), pembagian tingkatan diplomat ini berfungsi untuk mencegah beragam kasus “penghinaan” yang telah lama mengganggu kegiatan-kegiatan misi diplomatik, ataupun membuat tugas yang diemban menjadi tumpang tindih.

Selain berdasarkan tingkatannya, diplomat juga dikenali macam-macamnya berdasarkan “level” keresmiannya. Personil diplomatik dibagi menjadi dua, yaitu personil resmi dan personil non-resmi. Orang-orang yang merupakan personil resmi adalah petugas yang dipekerjakan oleh negara pengirim atau kepala misi yang kepadanya petugas itu bertanggung jawab (Roy, 1991: 195). Selain itu, anggota keluarga dari petugas-petugas juga merupakan personil resmi. Menurut S.L. Roy (1991: 195), anggota keluarga kepala misi juga termasuk ke dalam kategori personil resmi. Selain itu, menurut S.L. Roy (1991: 195), dalam sebuah misi diplomatik, ratusan orang ikut berpartisipasi aktif, tidak hanya duta besar atau menteri. Orang-orang yang berpartisipasi aktif ini, meskipun tidak memegang jabatan diplomatik, merupakan personil-personil non resmi. Pelayan kepala misi dan kedutaan, seperti sopir, tukang kebun, juru masak, sebagainya, dianggap sebagai personil tidak resmi (Roy, 1991: 196).

Diplomat juga dibagi berdasarkan tugasnya. Menurut Supri Ariyadi (2011), diplomat dibagi menjadi dua berdasarkan tugasnya, yaitu (1) perwakilan diplomatik, perwakilan kenegaraan di luar negeri yang bertugas dalam membina hubungan politik dengan negara lain; dan (2) perwakilan konsuler, perwakilan kenegaraan di luar negeri yang bertugas dalam membina hubungan non-politik dengan negara lain. Perwakilan diplomatik juga dibagi lagi berdasarkan tingkatannya menjadi lima, yaitu
(1) duta besar,
(2) duta,
(3) menteri residen,
(4) kuasa usaha, dan
(5) atase (Ariyadi, 2011).

Selain itu, perwakilan konsuler juga dibagi berdasarkan tingkatannya. Pembagian tingkatan tersebut terdiri atas tiga, yaitu

(1) konsul jenderal,
(2) konsul dan wakil konsul, dan
(3) agen konsul (Ariyadi, 2011).

Namun, berdasarkan perkembangan zaman, diplomat tidak terbatas lagi pada bahasan politik. Tapi, seorang agen perdagangan pun bisa menjadi diplomat yang mewakili perusahaan tempat dia bernaung. Termasuk meloloskan lobi-lobi kebijakan pemerintah negara lain yang terkait dengan produk yang ditawarkannya. Diplomat seperti ini lebih berfungsi sebagai perpanjangan tangan perusahaan daripada perpanjangan tangan negara. (Dharmaputra, 2019)

Berdasarkan pbagiannya, akan dijelaskan beberapa di bawah ini.

Diplomasi bilateral

merupakan diplomasi yang hanya melibatkan dua aktor atau pihak yang terlibat di dalamnya. Diplomasi bilateral sendiri pun sudah ada sejak masa diplomasi kuno. Salah satu contohnya adalah diplomasi pada masa Mesopotamia Kuno antara Mesir dan Hittite. Pada saat itu, kedua negara tersebut berperang satu sama lain yang dimulai pada 1274 SM di Kadesh (Kurizaki, 2011: 4). Kedua negara tersebut pun melakukan diplomasi bilateral untuk menciptakan perdamaian. Pada era sekarang, diplomasi bilateral pun juga masih digunakan. Contoh diplomasi bilateral yang dilakukan pada era kini adalah ketika Indonesia hendak membeli beberapa pesawat dari perusahaan Boeing asal Amerika Serikat (U.S. Department of State, 2014).

2. Diplomasi Multilateral

Adalah salah satu pola diplomasi yang sering digunakan untuk melakukan diplomasi antar negara. Menurut Tariqul Islam (2005 dalam Kingsley, 2009: 28), diplomasi multilateral merupakan pelaksanaan urusan antara tiga negara atau lebih untuk menyelesaikan suatu isu secara bersama. Diplomasi multilateral tidak lahir begitu saja dalam politik internasional. Tanda-tanda awal diplomasi multilateral ditemukan pada diplomasi Yunani Kuno (Kingsley, 2009: 17).

Pada tahun 1648, terjadi perjanjian Westphalia di benua Eropa. Sistem Westphalia ini juga menentukan perkembangan diplomasi multilateral di masa depan. Diyakini bahwa kombinasi dari pengakuan diplomasi sebagai profesi, perjanjian Westphalia, sistem multi-state Eropa, dan kodifikasi aturan etika antara negara-negara dengan kedudukan yang sama, menentukan pondasi dari bentuk diplomasi multilateral di masa depan (Kingsley, 2009: 18).

Pada abad ke-19, organisasi-organisasi multilateral mulai bermunculan. Organisasi-organisasi ini lah yang mengatur aktivitas multi-negara dalam satu atap (Kingsly, 2009: 19). Hal ini terus berkembang hingga akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Menurut Angela Kingsley (2009: 20), perkembangan teknologi, komunikasi, dan meningkatnya jumlah negara merdeka menyebabkan berkembangnya diplomasi antar-kontinen.

Selain itu, diplomasi multilateral juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya adalah diplomasi multilateral dapat meningkatkan kerjasama antar negara dan dapat menjadi alat untuk mencapai konsensus bersama dalam jumlah partisipasi yang besar. Kelemahannya adalah diplomasi ini berjalan lambat dalam hal pencapaian keputusan dan bersifar vulnerable terhadap situasi konflik, seperti Perang Dingin.

Contoh diplomasi multilateral di masa kini adalah ketika Indonesia menjadi penengah ketika terjadi konflik sengketa wilayah antara Thailand dan Kamboja (Zhida, 2012).

Berdasarkan pbagiannya, akan dijelaskan beberapa di bawah ini.

1. Diplomasi bilateral

merupakan diplomasi yang hanya melibatkan dua aktor atau pihak yang terlibat di dalamnya. Diplomasi bilateral sendiri pun sudah ada sejak masa diplomasi kuno. Salah satu contohnya adalah diplomasi pada masa Mesopotamia Kuno antara Mesir dan Hittite. Pada saat itu, kedua negara tersebut berperang satu sama lain yang dimulai pada 1274 SM di Kadesh (Kurizaki, 2011: 4). Kedua negara tersebut pun melakukan diplomasi bilateral untuk menciptakan perdamaian. Pada era sekarang, diplomasi bilateral pun juga masih digunakan. Contoh diplomasi bilateral yang dilakukan pada era kini adalah ketika Indonesia hendak membeli beberapa pesawat dari perusahaan Boeing asal Amerika Serikat (U.S. Department of State, 2014).

3. Diplomasi Asosiasional

Selain diplomasi bilateral dan diplomasi multilateral, terdapat juga diplomasi asosiasional. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003), asosiasi sendiri memiliki definisi sebagai perkumpulan orang yang mempunyai kepentingan bersama. Hal ini jika dikaitkan dengan diplomasi asosiasional, diplomasi asosiasional sendiri merupakan diplomasi yang digunakan oleh negara-negara dengan membentuk perkumpulan atas dasar kepentingan bersama. Contoh diplomasi asosiasi yang masih digunakan hingga kini adalah organisasi internasional yang bernama Association of South East Asian Nations. ASEAN merupakan asosiasi antar negara Asia Tenggara yang bertujuan untuk meningkatkan berbagai aspek kehidupan di wilayah Asia Tenggara secara bersama-sama.

4. Diplomasi Konferensi

Diplomasi konferensi juga merupakan salah satu cara untuk melakukan diplomasi. Diplomasi konferensi merupakan salah satu pola diplomasi yang diperkenalkan oleh negara-negara kota di Italia pada masa renaissance (Islam, 2005: 3). Diplomasi konferensi mulai dikembangkan dan dipraktikkan pada abad ke-19. Menurut Tariqul Islam (2005: 64), meskipun begitu, praktik diplomasi konferensi menyebar secara luas di era modern. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003), konferensi merupakan rapat atau pertemuan untuk berunding atau bertukar pendapat mengenai suatu masalah yang dihadapi bersama. Dalam hal ini, diplomasi konferensi adalah diplomasi yang dilakukan dengan melaksanakan suatu rapat atau pertemuan untuk merundingkan suatu permasalahan yang ada. Aktor yang berpartisipasi dalam diplomasi ini dapat berjumlah dua aktor maupun lebih dari dua aktor.

Konferensi yang dimaksud di sini merupakan sebuah rapat atau pertemuan resmi. Contoh diplomasi konferensi yang dilakukan di era kini adalah ketika Indonesia menjadi tuan rumah dari Asia Pacific Oil Gas Conference and Exhibition pada tahun 2013 di Jakarta.
5. Diplomasi Personal
Sepanjang era modern, negara hanya berkomunikasi melalui duta besar dan utusan-utusan khususnya saja (Perissich, 2011). Menurut Riccardo Perissich (2011), raja-raja dan pemimpin-pemimpin jarang bertemu langsung dan pertemuan antar pemimpin pun hanya dilakukan untuk konsolidasi aliansi yang telah dinegosiasikan. Namun, semakin kesini, diplomasi pun juga dapat dilakukan secara personal. Hal ini disebut dengan diplomasi personal. Diplomasi personal pun juga telah dilakukan sejak abad pertengahan. Menurut Jan Melissen (t.t.: 5), diplomasi personal dapat dilakukan antara pemimpin-pemimpin politik dengan cara korespondensi, pembicaraan melalui telepon, atau berbicara secara langsung.

6. Diplomasi Summit

Selain diplomasi personal, diplomasi tingkat tinggi (summit diplomacy) juga dilakukan di masa kini. Salah satu cara untuk melakukan diplomasi tingkat tinggi adalah dengan mengadakan konferensi tingkat tinggi. Konferensi tingkat tinggi sendiri telah menjadi hal biasa dalam politik internasional modern (Weilemann, 2000: 1). Konferensi tingkat tinggi merupakan pertemuan diplomatik antara berbagai negara. Kata summit atau konferensi tingkat tinggi diperkenalkan oleh Winston Churchill pada tahun 1950 (Melissen, t.t.: 1). Konferensi tingkat tinggi sendiri sudah sejak lama dilakukan. Menurut Peter R. Weilemann (2000: 1), konferensi tingkat tinggi bukan merupakan penemuan baru, namun setua dengan sejarah dan telah dilakukan oleh kaisar-kaisar, raja-raja, dan ketua-ketua suku untuk menyelesaikan perselisihan atau menciptakan perdamaian di masa lampau. Salah satu contoh diplomasi tingkat tinggi adalah ketika Indonesia menjadi tuan rumah APEC Summit pada tahun 2011.

Kesimpulan dari kesempatan kali ini adalah, selain memahami diplomasi, perlu juga dipahami definisi diplomat. Dari berbagai penjabaran di atas, dapat dipahami bahwa diplomat merupakan orang yang melakukan diplomasi demi meraih kepentingannya dengan taktik tertentu. Dari sini dapat dipahami bahwa diplomat merupakan orang yang melakukan diplomasi. Kecakapan diplomat pun juga menentukan keberhasilan suatu diplomasi.

Diplomat merupakan perwakilan politik suatu negara. Selain itu, diplomat juga merupakan wakil simbolis suatu negara. Diplomat juga bermacam-macam. Berdasarkan tingkatannya, diplomat dapat digolongkan menjadi: (1) duta besar luar biasa dan berkuasa penuh dan perwakilan kepausan (nuncio); (2) duta besar luar biasa dan menteri berkuasa penuh, dan internuncio; (3) menteri residen; dan (4) charge daffairs (kuasa usaha). Diplomat juga memiliki fungsi-fungsi tertentu, yaitu: (1) sebagai perwakilan; (2) sebagai pelaksana negosiasi; (3) sebagai pelaksana pelaporan; (4) sebagai pelaksana perlindungan; (5) sebagai hubungan masyarakat; dan (6) sebagai pengatur administrasi.

Pola-pola diplomasi juga digunakan oleh diplomat dalam berdiplomasi. Pola-pola diplomasi yang dimaksud adalah: (1) diplomasi bilateral, pola diplomasi yang melibatkan hanya dua pihak negara; (2) diplomasi multilateral, pola diplomasi yang melibatkan tiga negara atau lebih; (3) diplomasi asosiasional, pola diplomasi kelembagaan yang didasari dengan persamaan tujuan; (4) diplomasi konferensi, pola diplomasi yang dilakukan dalam suatu rapat besar (konferensi); (5) diplomasi personal, pola diplomasi yang dilakukan melalui kedekatan antara dua pihak; dan (6) diplomasi tingkat tinggi, pola diplomasi yang dilakukan melalui pejabat-pejabat diplomat tingkat tinggi (kepala negara) dalam suatu pertemuan.
Referensi

Ariyadi, Supri, 2011. _Persamaan dan Perbedaan Perwakilan Diplomatik dan Perwakilan Konsuler_ dalam https://www.academia.edu/4601766/Tugas_Perwakilan_Diplomatik. Diakses pada 17 September 2014.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam http://kbbi.web.id/. Diakses pada 16 September 2014.

Tran, Van Dinh, 1987. _Communication and Diplomacy in Changing World._

Freeman, Charles W, Jr., 1994. _The Diplomats Dictionary._ Washington DC: United States Institute of Peace Press.

Kingsley, Angela, 2009. _Multilateral Diplomacy as an Instrument of Global Governance: the Case of the International Bill of Human Rights 1948-1966._ Pretoria: University of Pretoria.

Kurizaki, Shuhei, 2011. _A Natural History of Diplomacy_ dalam http://people.tamu.edu/~kurizaki/b3.pdf. Diakses pada 3 September 2014.

Perissich, Riccardo, 2011. _Nothing Personal: the Age of Ego-Diplomacy,_ dalam EuropEos Commentary, No. 7. Tersedia di http://aei.pitt.edu/58433/1/EuropEos_7.pdf.

Roy, S. L. 1991. _Diplomat,_ dalam Diplomasi. Jakarta: Raja Grafindo.

U.S. Department of State, 2008. _Diplomacy: The U.S. Department of State at Work._ Washington D.C.: U.S. Department of State Publication.

U.S. Department of State, 2014. _U.S. Relations with Indonesia_ dalam http://www.state.gov/r/pa/ei/bgn/2748.htm. Diakses pada 30 September 2014.

Zhadi, Jiang, 2012. _Indonesias Confidence Diplomacy under the Yudhoyono Government_ dalam http://www.ciis.org.cn/english/2012-12/31/content_5638110.htm. Diakses pada 30 September 2014.

About Admin

Check Also

Image Air Minum

Air minum

Air minum Mithayanti Assalamualaikum… izin post kulsap, kali ini mau bahas sedikit soal air putih ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *