Breaking News
Home / Bedah Buku / Emotional Intellegence – Rene Suhardono

Emotional Intellegence – Rene Suhardono

Emotional Intellegence - Rene Suhardono
https://debbyzalinablog.wordpress.com/2019/08/11/emotional-intellegence-rene-suhardono/

Emotional Intellegence – Rene Suhardono

Emotional intellegence (EI) adalah kemampuan seseorang untuk mengelola dan mengontrol emosi sendiri dan juga orang lain. Menurut penelitian, kecerdasan emosional 2 kali lebih penting dari kecerdasan intelektual (IQ). Daniel Goleman meneliti bahwa orang sukses merupakan orang yang memiliki EQ yang tinggi. Apakah benar?

Lalu bagaimana cara mengukur EQ?

==============

Emotional Intellegence – Rene Suhardono

By : DEBBY ZALINA

Judul kulsap kali ini adalah Emotional Intelligence, materi kulsap kali ini saya ambil dari diskusi di Inspigo dengan Narasumber Rene Suhardono.

Emotional intellegence (EI) atau yang lebih dikenal dengan emotional quotient (EQ) adalah kemampuan seseorang untuk mengelola dan mengontrol emosi sendiri dan juga orang lain. Menurut penelitian, kecerdasan emosional 2 kali lebih penting dari kecerdasan intelektual (IQ). Saat kita mampu memaafkan orang dan membuat orang nyaman dengan kita, itu sudah termasuk menerapkan EQ.

Daniel Goleman meneliti bahwa orang sukses merupakan orang yang memiliki EQ yang tinggi. Apakah benar? Jika Daniel memberikan pemahaman tentang bagaimana kita merasakan dan berperilaku, Jims colin meneliti bahwa kesuksesan tim, perusahaan, Negara, ditentukan oleh pemimpin yang ber-EQ tinggi.

Lalu bagaimana cara mengukur EQ?

Pernah nggak kita ngobrol sama orang, lalu kita merasa lebih bisa, lebih mampu. Kalau iya, orang itu bisa dipastikan memiliki EQ diatas rata-rata. Sebaliknya, bila kita ngobrol sama orang, merasa lebih nggak mampu, merasa lebih nggak bisa, bahkan terperdaya, bisa dibilang EQ nya jeblok.

Apakah seperti motivator ? Nggak juga. Sebenarnya motivasi ditentukan oleh diri sendiri, apakah dia mengizinkan orang lain mempengaruhi dia untuk termotivasi atau enggak.

Orang ber EQ tinggi nggak bisa di lihat dari banyaknya followers di sosial media. Malah bisa diduga orang yang ber-EQ tinggi nggak punya sosmed, karena mereka merasa sudah cukup dengan dirinya sendiri (orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya), mereka nggak butuh pengakuan, namun lebih fokus pada apa yang ingin dia berikan kepada orang dan nggak butuh untuk dikenal dengan lambang-lambang tertentu.

Nature & Nurture

Apakah ada pengaruh faktor bawaan atau kah EQ itu dipelajari?

Nature dan Nurture saling mempengaruhi, terkait dengan EQ, keduanya juga mempengaruhi, dimana orangtua yang istilahnya sudah selesai dengan dirinya, akan membesarkan anak-anak yang juga dengan segera akan sudah selesai dengan dirinya. Hal tersebut juga bergantung dengan lingkungan sekolah yang seperti apa.

Self Awareness

Konsep sadar diri itu semudah : kalau kesadaran kita hanya pada level pada tubuh (kesadaran badaniah) : laper, haus. Pada tingkatan yang berbeda, ada kesadaran nafsu , misal ketika kita liat orang naik mobil, kita jadi pengen. Jika hanya digerakkan dengan kesadaran tersebut, kesadaran tersebut akan berpengaruh yang tidak baik bagi kita. Ketika kita sekolah, kita diberikan kesadaran akal, pada kesadaran ini kita akan memahami aksi konsekuensi : kita main api, kita merasa panas. Jika kesadaran nafsu, dikolaborasikan dengan kesadaran akal, akan memunculkan kesadaran qalbu : dimana nggak hanya memikirkan keinginan kita, namun keinginan orang lain.

Hal ini penting untuk menilai sejauh mana kesadaran kita saat ini (mengendalikan diri), orang marah : dia nggak sadar kalo dia marah. Orang yang sadar diri, ketika marah, dia akan sadar bila dia marah, namun dia tidak bersikap marah. Mereka memiliki tingkat pemahaman akan emosi mereka.

Sesuai dengan ungkapan yang dapat menjelaskan tentang self awareness ini :

Saya bukan emosi saya, saya bukan jabatan saya, saya bukan intelegensia saya, namun saya adalah kesadaran diri yang saya pilih

Apa manfaat self awareness ini ?

Kita bakal jadi

Mawas : Orang yang nggak mawas pola pikirnya : ya udah lingkunganku gini, mau diapain. Mudah ikut-ikutan lingkungan sekitar.

Welas : Tidak mempermasalahkan mengapa masalah terjadi, namun mencoba memposisikan diri sebagai orang lain dan berpikir kenapa masalah tersebut terjadi.

Dengan menerapkan hal ini, lingkungan kita akan ikut terbawa untuk memiliki self awareness pada diri mereka.

Self Regulation

Kita memahami bagaimana perasaan itu muncul di dalam diri. Pada umumnya, kita memilih rasa atas kondisi eksternal kita. Kondisi eksternal bisa baik dan bisa juga buruk. Kondisi apa pun bisa terjadi dan kita tidak memiliki kendali atas kondisi tersebut. Problemnya, manusia sering berprasangka yang buruk, dipenuhi kekhawatiran ketika menghadapi kondisi eksternal yang tidak baik.

Maka dari itu, kita harus berhati-hati dalam memilih rasa, karena rasa itu akan diekspresikan oleh bahasa, akan dilogikakan dengan akal, diwujudkan oleh badan, dan dijadikan oleh semesta.

Self Regulation adalah kebisaan untuk memilih rasa, sehingga kita tidak dikendalikan oleh sekitar kita. Pada saat orang di sekitar kita udh amat panas atau bertentangan, kita bisa memilih untuk tidak memilih merasakan tersebut.

Self regulation membuat kita untuk nggak jadi orang yang terlalu : terlalu happy ketika sedang happy, terlalu sedih ketika sedih, (nggak moody) .

Gimana sih patokannya kita bisa tahu seseorang memiliki self regulation yang tinggi?

Yaitu mereka yang saat sedih tidak berlebihan, saat senang juga nggak berlebihan. Ketika bahagia, mereka tahu mereka sedang berbahagia, namun mereka juga tahu bahwa ada momen dimana bahagia itu akan hilang. Mereka menerima bahagia itu dan dinikmati di dalam diri mereka tanpa harus berlebihan tanpa harus membuat orang sekitar mereka mempertanyakan atas dasar apa mereka berbahagia selama ini?

Pun sebaliknya saat sedih, mereka menerima karena mereka tahu mereka nggak bakal selamanya merasa sedih.

Intinya, self regulation adalah kemampuan kita memilih rasa diantara rasa-rasa yang sudah dirasakan, sehingga ketika kita sudah memilih rasa tersebut, nantinya akan berdampak kepada perilaku kita dan orang sekitar kita.

About Admin

Check Also

The Desicion Book, 50 models for strategic thingking

📕Judul : The Desicion Book, 50 models for strategic thingking 📝Penulis : Mikael Krogerus dan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *