Home / Pengetahuan Umum / ESKA ( Eksploitasi Seks Komersial Anak )

ESKA ( Eksploitasi Seks Komersial Anak )

ESKA ( Eksploitasi Seks Komersial Anak )

Siti masyitoh

Image ESKA
http://srikandi-duniakudidunia.blogspot.com

Ketika kita berada di wilayah pariwisata tentu kita lihat beberapa anak menjajakan dagangan mulai dari makanan ringan, minuman, cinderamata, dan lain sebagainya. Yang ada di benak kita biasanya adalah rasa iba yang timbul sehingga akhirnya membeli barang tersebut. Ternyata permasalahan anak di wilayah pariwisata tidak hanya anak-anak yang putus sekolah dan harus bekerja ada yang lebih serius daripada hal tersebut yaitu masalah ESKA, Eska disini adalah kependekan dari eksploitasi seks komersial anak

Beberapa tahun yang lalu tertangkap turis asal Australia bernama Bruno yang ternyata adalah predator anak.

Tertangkapnya Bruno atas kerjasama kepolisian Indonesia dengan pihak keamanan Australia dalam operasi gabungan. Dalam hal ini kepolisian Australia memberikan detail informasi atas Bruno sehingga pihak polisi Indonesia khususnya polisi Lombok Barat beserta jajaran dan lembaga perlindungan anak berhasil menggerebek persembunyian Bruno beserta anak-anak yang disekap dan dipekerjakan oleh Bruno

Berapa usia Bruno? 70 tahun

Setelah kejadian ini akhirnya lembaga-lembaga perlindungan anak yang berada di wilayah Lombok khususnya didaerah pariwisata mulai bergerak untuk mengatasi minimal meminimalisir kasus-kasus kekerasan pada anak

Pertama yang dilakukan organisasi yg menaungi saya yaitu Gagas Mataram adalah membentuk tim khusus, Yaitu tim yang menangani masalah ESKA. Project nya bernama “Down To Zero”

Harapannya adalah dapat mengatasi masalah eska ini meminimalisir bahkan menghilangkan kasus tersebut, Bekerjasama dengan PLAN Internasional Gagas Mataram memulai program-program untuk mengatasi masalah ESKA

Yang pertama diterjunkan adalah tim assasment di beberapa wilayah pariwisata di Lombok, yaitu daerah Senggigi di Lombok Barat dan di daerah Lombok tengah.

Kemudian membentuk LPAD yaitu lembaga perlindungan anak desa di setiap wilayah dampingan

Sampai saat ini ada 6 wilayah dampingan, di daerah Senggigi dan di daerah Lombok tengah ( Kuta, rembitan, wajegeseng). Di tiap- tiap wilayah dampingan didirikan sanggar anak.

Disana anak-anak diberi pelatihan membuat kerajinan, diberi pelatihan melestarikan budayanya dengan berlatih gendang belek, dan diberi bekal pengetahuan tentang hak anak dan bagaimana cara melindungi diri apabila terjadi hal yang tidak diinginkan

Sanggar tersebut selain bertujuan untuk memberikan anak-anak kegiatan juga untuk memantau kondisi anak-anak diwilayah tersebut. Apabila terjadi kasus dapat segera ditangani dengan cepat karena didampingi relawan-relawan dari gagas Mataram dan bekerjasama juga dengan LPA pusat di Mataram. Bagi anak-anak yang sudah terlanjur menjadi PSK anak diberi pembinaan dan ditempat kan di shelter milik pemerintah yaitu di PSMP Paramitha. Tujuannya agar anak-anak tersebut dapat disembuhkan mentalnya diberi ketrampilan sehingga ketika besar dapat bermanfaat di masyarakat

Tetapi banyak sekali kendala di lapangan yang terjadi. Mulai dari orangtua yang tidak menyetujui anaknya ” diselamatkan” bahkan tak jarang anak nya sendiri menolak meninggal kan pekerjaannya

Anak yang saya maksud disini berusia antara 7 – 17 tahun. Memang miris masih kecil mereka sudah menjajakan diri. Awal-awalnya banyak yang menjadi korban kekerasan seksual. Tetapi karena tidak adanya laporan dari keluarga dan masyarakat akhirnya terlambat ditolong, hingga kemudian dijadikan profesi.

Indonesia menempati urutan nomor 2 didunia surganya para pedofilia. Urutan pertamanya adalah Thailand

Cukup fantastis ya ?

Mengapa sampai hal itu terjadi karena kurangnya kontrol dari pemerintah dan masyarakat tentunya dalam melindungi hak-hak anak. Kasus-kasus anak yang terjadi di Lombok mungkin juga terjadi dilingkungan kita. Bagaimana cara kita agar meminimalisir hal tersebut. Memberi perhatian kepada anak, memperhatikan aktifitasnya, dengan siapa dia bermain, dan lain sebagainya. Menjadi sahabat anak, yaitu dengan bertanya secara lembut kegiatan yang sudah dilakukan seharian apabila berkegiatan diluar rumah.

Memberi anak edukasi tentang kespro(kesehatan reproduksi) sejak dini, kespro bahasa halus dari pendidikan seks sejak dini, yaitu batasan-batasan yang dapat dilihat orang lain, yang boleh disentuh orang lain, dan yang tidak boleh disentuh orang lain, serta tindakan yang mesti dilakukan apabila ada yang mengintervensi anak. Salah satunya, tidak sembarangan memotret dan menyebarkan foto anak di media sosial, kecuali dengan persetujuan anak tersebut. Juga menjadikan lingkungan yang kondusif untuk anak bertumbuh kembang dengan baik

Kita juga perlu untuk saling mengenal antar tetangga dengan mengetahui latar belakang tetangga kita, terutama yang biasa disinggahi anak untuk bermain, kemudian menanamkan nilai moral dan pendidikan agama kepada anak, dan berupaya sebaik mungkin untuk memenuhi hak-hak anak sebelum kita menuntut tanggung jawab anak

Sumber : Gagas Mataram, LPA NTB, pengalaman pribadi

About Admin

Check Also

Image Air Minum

Air minum

Air minum Mithayanti Assalamualaikum… izin post kulsap, kali ini mau bahas sedikit soal air putih ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *