Download Free Designs http://bigtheme.net/ Free Websites Templates
Breaking News
Home / Diskusi Pakar / Good To Great

Good To Great

Diskusi Kepakaran
Buku Good To Great karya John Collins
Narasumber : Sensei Edi Sukur

Bismillahirrahmanirrahim,
Saya tidak menyiapkan bahan apa-apa selain apa yang ada di kepala saya, jadi saya akan tuliskan mengalir sesuai apa yang ingin saya tulis. Mohon tidak ada yang menulis atau menyampaikan sesuatu agar tidak crowded. Penyampaian akan dua arah, jadi saya akan menyampaikan pikiran setelah itu tanya jawab setelah saya kasih kesempatan untuk bertanya.

Malam ini kita diskusi bebas dari buku Good to Great yang ditulis oleh John Collins. Saya beli tahun lalu kurang lebih bulan februari atau maret. Jadi sudah cukup lama. Buku ini bagus untuk mereka yang ingin berhasil dalam mengatur organisasi terutama organisasi perusahaan. Karena buku ini sudah lama saya baca, kemungkinan ada hal-hal yang terlewat atau juga ada bagian-bagian dari buku lain yang mirip-mirip dengan ini.

Kenapa dikatakan Good To Great? Hal ini disebabkan karena pada dasarnya banyak organisasi atau perusahaan yang Good, tetapi tidak atau belum berhasil mencapai Great. Kalau kita lihat distribusi Gauss, maka akan ada formula 2:3:3:2 atau 20:30:30:20. Dimana 20 yang paling kiri adalah the worst dan 20 paling kanan adalah the best atau dalam hal ini adalah the great. Intinya, dari sekian banyak perusahaan yang ada, hanya 20% sajalah yang yang bisa masuk dalam kategori the great. Kita perlu lihat seperti apa organisasi yang kita ikuti atau perusahaan seperti apa yang kita ikuti? apakah dia masuk yang 20 kanan atau hanya sekedar bagus (GOOD) saja?

Apa itu organisasi Good? Organisasi Good (bagus) adalah organisasi yang output dan outcomenya hanya rata-rata saja. Sedangkan organisasi atau perusahaan yang Great adalah organisasi yang di atas rata-rata. Perusahaan Good itu banyak, tersebar di seluruh pelosok negeri. Itu bisa dilihat dari omset atau profit atau nilai sahamnya yang walaupun naik, tetapi naiknya tidak terlalu signifikan. Sedangkan perusahaan yang Great adalah perusahaan yang sahamnya naik dengan jauh di atas rata-rata. Dengan kata lain, pertumbuhan perusahaan itu jauh di atas rata-rata. Dalam buku ini dijelaskan bagaimana agar sebuah organisasi bisa berubah dari Good menjadi Great. Bagaimana caranya? Inti dari upaya itu hanya satu, yaitu DISIPLIN
Di buku ini dijabarkan 3 konsep DISIPILIN, yaitu:
1.    Manusia Disiplin
2.    Pikiran yang Disipilin
3.    Tindakan yang Disiplin
Malam ini kita hanya akan fokuskan di point pertama,  yaitu Manusia yang Disiplin. Manusia yang disiplin adalah manusia yang mempunyai kepemimpinan level 5. Dalam hierarki kepemimpinan, ada 5 hierarki:
1.    Individu yang sangat cakap
2.    Anggota tim yang berkontribusi
3.    Manager Kompeten
4.    Pemimpin Efektif
5.    Eksekutif Level 5

Kita tidak akan bahas mulai dari level 1 sampai level 4 karena hal ini sudah sering dibahas, yang kita fokuskan adalah kepemimpinan atau eksekutif level 5.

Siapakah eksekutif level 5? Dia adalah pemimpin atau eksekutif yang dapat meletakkan dasar-dasar organisasi dan membawa organisasi tersebut langgeng jauh ke depan. Saya beri contoh misalnya begini, perusahaan keluarga biasanya dibangun oleh founder dengan susah payah, kemudian berkembang pesat di tangan anaknya lalu sedikit demi sedikit menurun setelah turun ke cucunya. Kenapa hal itu terjadi? karena pada saat founder membangun perusahaannya, sang anak melihat jerih payah orang tuanya sehingga nilai fighting dari sang founder akan turun ke anaknya. Hal ini berbeda pada saat sang cucu founder melihat sang ayah yang sudah menikmati hasil jerih payah sang founder. Itulah sebabnya tidak sedikit perusahan keluarga yang menjadi perusahaan terbuka di jaman penerus pertama, sebelum hancur di penerus kedua. Ini dimaksudkan agar di perusahaan tersebut masuk orang-orang profesional di level 4 (pemimpin yang efektif). Dengan adanya orang yang profesional dan efektif, biasanya perusahaan akan bisa bertahan, namun jika ingin menjadi perusahaan yang great atau hebat, maka perusahaan tersebut harus dapat mencari orang-orang yang punya kepemimpinan level 5.

Dalam buku ini diberikan ciri-ciri kepemimpinan level 5 yaitu Orang yang profesional (seperti level 4) dan rendah hati. Dalam buku-buku manajemen, orang biasanya lebih mengenal Lee Iacoca, yang bisa membawa Chrysler dari ambang kerugian. Tetapi orang tidak mengenal Darwin Smith. Lee Iacoca memang termasuk makhluk langka dimana dia berhasil membawa Chrysler yang mau bangkrut karena produksi mobilnya tidak laku di pasaran. Dengan manajemennya yang baik dalam waktu singkat, dia berhasil membuat Chrysler menjadi perusahaan yang profitable. Namun sayangnya ada kelemahan di Iacoca. Pada saat Chrysler maju, Iacoca menjadi orang yang lupa dengan job nya. Dia lebih banyak mengisi kuliah-kuliah manajemen di kampus, tampil berkala di TV, di talkshow,  menceritakan tentang keberhasilannya dalam merubah Chrysler dan lain-lain. Dia menikmati itu semua untuk kepentingan dirinya sendiri. Saat Iacoca pensiun, Chrysler memang masih berjaya namun itu tak lama, karena ternyata Iacoca tidak membangun sistem yang baik, kecuali semua terfokus pada dirinya. Dia tidak membuat basic system yang membuat perusahaan mampu bertahan untuk waktu yang lebih lama.

Hal ini berbeda dengan Darwin Smith. Orang-orang manajemen tidak mengenal dia, padahal dia telah berhasil meningkatkan nilai sahamnya ratusan kali dibandingkan dengan sebelumnya. Ciri khas dia adalah tampil sederhana. Dengan penampilan yang sederhana, tidak merasa paling penting dan tidak pula merasa paling pandai dan paling tahu dibandingkan dengan yang lainnya. Kesederhanaan ini yang membuatnya disukai oleh seluruh karyawannya. Selain itu, dia juga membuat basic manajemen yang kuat dalam bentuk nilai-bilai perusahaan yang bisa bertahan dalam waktu yang lama. Begitu kira-kira kepemimpinan level 5.
Bagaimana memilih Manusia yang DISIPLIN?

Kita lanjut ke dalam point berikutnya yaitu bagaimana memilih manusia yang DISIPLIN. Kita ketahui bahwa dalam setiap aktifitas, ada 3 hal yang penting, yaitu SDM, Aktifitas kegiatan itu sendiri, dan Dana. Dari ketiga hal itu, yang paling penting adalah SDM, tetapi SDM yang seperti apa? Nah dalam buku ini disebutkan tentang kesalahan organisasi dalam memilih SDM. Biasanya SDM dipilih berdasarkan kafaah atau bidangnya. Ternyata hal itu belum tentu benar. Memilih SDM yang benar bukanlah berdasarkan bidangnya, tetapi dari kualitas SDM itu sendiri. Jadi yang dibuat bukan mengisi bidang, tetapi siapa yang TEPAT untuk mengisi di bagian tersebut. Ini yang sering saya sebut bahwa kuliah S1 itu tujuan utamanya adalah membentuk pola pikir dalam menyelesaikan sebuah masalah.
Ada satu contoh yang menarik. Mungkin ini termasuk dalam contoh kepemimpinan level 5 dari Indonesia. Kisah ini tidak ada di buku good to great. ini berkaitan dengan bagaimana memilih orang. Ada seseorang yang hanya lulusan SMA, dan pekerjaannya adalah sebagai tour guide. Suatu saat dia mendapat tugas untuk menjadi tour guide seorang pemilik Bank di Jawa Barat. Tidak ada yang istimewa sepanjang dia menjadi tour guide, hingga satu saat setelah tour itu selesai, sang pemilik Bank menelepon sang tour guide.

Apa yang ditawarkan sang pemilik bank? Apakah tour guide itu mau menjadi manager di Bank nya? Mungkin semua kaget, tapi pada kenyataannya seperti itu. Sang tour guide akhirnya bersedia. Dia belajar cepat dari tidak tahu sama sekali tentang perbankan, menjadi sangat ahli terutama yang berhubungan dengan customer banking. Ternyata sang pemilik Bank sangat nyaman saat diantar berkeliling selama wisata dan dia merasa orang ini cocok untuk menjadi manager costumer banking, walaupun dia tidak mengerti perbankan.

Singkat kata, dengan masuknya sang tour guide, bank itu menjadi besar dan lebih besar lagi. Perjalanan dia dari hanya sekedar tour guide akhirnya mengantarkan dia sampai menjadi Country manager Citibank. Sebelumya dia pula yang membuat BCA menjadi maju dengan berbagai service yang tidak dilakukan oleh bank lain. Dia adalah Barry Lesmana. Mungkin bisa di searching kisah Barry Lesmana. Kisah dia dibukukan dalam kumpulan kisah-kisah inspiratif manager-manager profesional ala Indonesia.

Point yang disampaikan dalam hal ini, yaitu seseorang yang masuk dalam kepemimpinan level 5 ini adalah orang-orang yang punya kemampuan belajar yang sangat cepat. Ada contoh lain yang mirip dengan Barry Lesmana yaitu Sudirman Said. Dia yang saat ini menjadi Menteri ESDM RI. Kalau berdasarkan bidangnya, latar belakangnya adalah akuntan. Bukan orang teknis perminyakan, namun karena kemampuan manajerial level 5, walaupun background nya adalah akuntan, dia pernah menjabat menjadi Corporate Secretary Pertamina, Menjadi Presdir PT PINDAD dan sekarang menjadi Menteri ESDM.

Begitulah cara memlih orang yang tepat, yaitu yang sesuai dengan passionnya sehingga dia bisa berkembang dan membawa perubahan bagi sekitarnya, bukan melulu ahli dalam bidangnya namun dia tidak bisa menghubungkan dengan bagian-bagian lain.

Keliatannya itu dulu, sudah 45 menit lebih ngetik, lumayan capek, hahaha.
Ok sekarang kalau ada yang mau tanya, dipersilahkan. Pekan depan kita lanjutkan ke bagian lainnya. Ini gabungan beberapa buku tapi dari point-point buku Good to Great makanya saya katakan tadi diskusi bebas, hehehe. Ada yag mau didiskusikan? kalau nggak saya  selesai nih.

NH :
Sensei mau tanya, kepemimpinan level 5 ini merupakan bakat yang udah ada di diri seseorang atau bisa dipelajari? kalau bisa gimana cara supaya seseorang punya kemampuan itu?

ES:
Ini pertanyaan bagus. Apakah kepemimpinan level 5 ini bakat atau bagaimana?
Kalau saya melihatnya ini kombinasi antara bakat dan juga passion dalam diri seseorang.
Profesionalisme (kepemimpinan level 5) adalah sesuatu yang bisa dipelajari, namun dalam hal kesederhanaan tidak bisa dipelajari. Ini merupakan sesuatu yang ada dalam diri seseorang karena perjalanan panjang mulai dari pendidikan keluarga, lingkungan dan tempat dia berkarya. Tidak mungkin seseorang bisa berubah drastis dari yang tadinya boros menjadi sangat sederhana. Dari seseorang yang sangat ingin dikenal menjadi orang yang tidak ingin dikenal. Makanya kepemimpinan level 5 ini mungkin bisa dikatakan 1 dari 100.
Dia profesional namun dia tetap sederhana. Dia ambisius, tapi ambisiusnya bukan untuk kepentingan pribadi tapi untuk kepentingan organisasi. Itulah kepemimpinan level 5. Memang ada contoh drastis ya, seperti Umar bin Abdul Aziz. Tapi ini amat sangat jarang sekali banget banget gitu kira-kira ya.

HE:
Ada ungkapan bahwa inti dari kepemimpinan adalah pemimpin tsb punya “pengaruh”
apakah sudah pada kepemimpinan level 5 ? Bagaimana korelasi dengan profesional dan rendah hati?

DVY:
Somehow I agree with sensei. Orang dengan kualitas macam itu, sisi ‘nature’nya menyumbang lebih besar daripada sisi ‘bentukkan’nya. Makanya susah dicari.

ES:
Kalau yang saya pahami dalam kepemimpinan level 5 ini adalah orang yang profesional PLUS sederhana. Orang profesional itu banyak, tapi sekali lagi itu untuk kepentingan dirinya. Makanya biasanya fokus pada dirinya saja. Begitu dirinya sudah tidak disitu lagi, maka organisasi akan kembali seperti sebelum dia ada di situ, makanya Chrysler kembali terpuruk beberapa lama kemudian ketika Iacoca pensiun. Ini berbeda dengan orang yang sederhana tadi itu. Fokus dia adalah membangun sistem. Dia tak peduli orang lain kenal atau tidak kenal dengan dirinya. Fokus dia adalah organisasi ini harus baik dan harus jadi lebih baik lagi walaupuan orang lain tak mengenal dirinya, makanya sederhana di sini bukan hanya dari sisi bagaimana penampilan dia, tetapi juga bagaimana dia selalu rendah diri di hadapan orang lain, mau mendengar orang lain, tidak merasa paling pintar dan paling tahu dibandingkan dengan yang lain.

RT:
Sensei tanya yang awal-awal itu, terkait perusahaan yang terbuka, apakah sudah pasti perusahaan yang terbuka pada penerus pertama akan berhasil?

ES:
Belum tentu, tergantung bagaimana manajemen di perusahaan membawa transisi dari manajemen keluarga menjadi manajemen terbuka. FYI, tidak mudah untuk masa transisi ini. Contohnya, manajemen keluarga biasanya berbasis keluaga, kolusi, kedekatan. Sedangkan perusahaan profesional basis nya adalah kinerja. Jika manajemen tidak smooth dalam mengganti orang-orang yang masuk dari keluarga ke orang-orang profesional, akibatnya malah lebih buruk. Kinerja perusahaan jadi lebih jelek.

RM:
Berarti apakah untuk mengetahui seseorang telah berhasil sebagai pemimpin dengan kepemimpinan level 5, salah satu parameternya dilihat dari kondisi organisasi setelah ia tinggalkan?

ES:
Iya.. menurut saya begitu. Bagaimana dia bisa meletakkan dasar-dasar sistem manajemen yang cocok untuk organisai teresebut.

DVY:
Hmmm makanya biasanya tenarnya telat ya? Karena kekerenan sistem itu terasanya biasanya setelah sekian tahun.

AN:
Sensei, klo cara mempersiapkan orang (penerus) supaya punya kriteria kepemimpinan level 5 gimana?sementara kita mungkin masih di level2 bawah

ES:
Pertanyaannya bukan cara mempersiapkan orang, tetapi bagaimana caranya agar saya menjadi seorang pemimpin level 5. Yang ada di sini harus mencoba memantaskan diri agar bisa masuk ke kriteria itu. Profesional dan Sederhana . Kalau profesional itu udah banyak kan contoh-contohnya. Setiap bulan juga kita diskusi bulanan via TO untuk membahas tentang profesionalisme, yang jadi PR adalah bagaimana membiasakan hidup sederhana, dari penampilan, sikap dan pikiran. Ini yang mungkin berat karena pada dasarnya setiap orang punya keinginan untuk tampil, untuk dikenal dan terkenal. Entah dengan berbagai macam cara. Ini semua berhubungan dengan akhlak kita. Kalau saya sih simple melihatnya, kalau tarbiyahnya bener, maka kepemiminan level 5 itu bukan hal yang mustahil. Karena dalam 10 kepribadian muslim semua mengarah ke sana. Pahami dan renungkan 10 kepribadian muslim itu. Sederhana itu masalah akhlak kok. Ukur saja tingkat keinginan kita untuk dikenal. Hanya kita yang bisa menilai sendiri. Itu saja sudah berat hehehe. Konsep landak nanti saja pekan depan.

Sudah ya, keliatannya tidak ada yang mau komentar lagi, saya sudahi sampai di sini semoga membuka wawasan dan bermanfaat untuk kebaikan kita semua.

wassalamu’alaikum wr.wb.

About Admin

Admin komunitas MJRS-SJS. Sebuah komunitas yang berupaya membiasakan diri dengan one day one juz + dzikir + Qiyamullail. Selain itu, ada program-program menarik dalam komunitas ini seperti kulsap (kuliah whatsapp), Bedah Buku, Bedah Film dan Kajian Telegram.

Check Also

via securityintelligence.com

Cyber Security

Tanggal: 19 Februari 2015 Pukul : 20.07- Narasumber: Rudi Lumanto, Ph.D. Moderator: AFB AFB: Assalamu’alaikum ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *