Breaking News
Home / Hikmah Kehidupan / Jodoh yang Tertukar

Jodoh yang Tertukar

Sinopsis

Jodoh yang tertukar

Jika seorang perempuan ditanya seperti apa jodoh yang mereka inginkan, maka lazimnya kita akan mendengar jawaban menginginkan yang sholeh, parasnya baik, sopan, pekerjaan bagus, bodi sedang (tidak kurus, tidak gemuk), dan setia. Kalau bisa tampan, mapan, dan punya jabatan, wah, itu sudah most wanted. Lalu bagaimana jika mendapatkan yang sebaliknya?
Selengkapnya, , simak hayuk…..!!!

10-01-21-88b2a608d5b467bd3c408182b11b415d.jpg.cf

===================
Jodoh yang tertukar

Jika seorang perempuan ditanya seperti apa jodoh yang mereka inginkan, maka lazimnya kita akan mendengar jawaban menginginkan yang sholeh, parasnya baik, sopan, pekerjaan bagus, bodi sedang (tidak kurus, tidak gemuk), dan setia. Meskipun jawaban akan bervariasi tetapi pada hakikatnya mereka menginginkan pendamping yang baik. Kalau bisa tampan, mapan, dan punya jabatan, wah, itu sudah most wanted.

Sebagai perempuan biasa, yah saya juga menginginkan hal demikian. Dalam sujud-sujud panjang merapalkan do’a, kelak dipertemukan dengan yang agamanya baik, akhlaknya baik pula. Yah, segala do’a akan kebaikan selalu terkirim melalui angin malam, beralamat Arsyi Sang Pencipta. Berharap kelak akan ada yang menemani Sholat Lail.

Tibalah saatnya pengantar jodoh itu datang, berkabar di semester ke-enam masa perkuliahanku. Masih dini? Tentunya iya, namun yang namanya jodoh layaknya kelahiran dan kematian, datangnya hanya Allah yang Maha Mengetahui.

Laki-laki yang lamarannya datang tak saya kenal sedikitpun. Kami dijodohkan atas kesepakatan keluarga. Bagi Aktivis dakwah, hal ini lumrah terjadi, tetapi bagi masyarakat biasa, ini adalah hal yang luar biasa. Iya, diluar kebiasaan. Serasa mengenang zaman Siti Nurbaya.

Pada saat yang bersamaan senior sesama aktivis dakwah juga meminta diri untuk datang membawa kabar khitbah. Namun, kedatangan Senior saya ini ditolak oleh orang tua. Melalui diskusi yang alot dengan orang tua, mereka berusaha meyakinkan bahwa jodoh pilihan mereka lebih baik. Kami memang berbeda pendapat karena saya menitikberatkan pada pemahaman agamanya, sedangkan orang tua pada saat itu agak permisif karena banyaknya kabar tentang Aktivis Dakwah Kampus ber-aliran sesat.

Tak mampu melawan kehendak orang tua, saya pun merelakan berjodoh dengan pilihan mereka. Segala hal saya pasrahkan kepada Allah, terjadinya pernikahan ini menjadi bukti bahwa memang inilah jodoh saya. Pria inilah pilihan Allah untuk jadi pendamping saya.

Setelah akad nikah, barulah kami mulai mengenal satu sama lain. Tinggal bersama suami menjadi awal kerja keras dakwah. Lingkungan tempat tinggal suami jauh dari harapan. Sebagai anak tunggal dari keluarga broken home, suami tipikal keras dan pemarah. Malam bersama kawan-kawannya ditemani miras, kadang teman-temannya membawa ladies menemani mereka. Lingkungan rumah tempat subur perjudian dan sebagian temannya adalah pengedar narkoba.

Astagfirullah, apa-apaan ini, gumamku dalam hati. Jangankan sholat, mengucap salam ketika masuk rumahpun tak terdengar, benar-benar tak beretika. Meski dalam hati saya merasa gusar, tetapi saya berusaha tetap terlihat tenang, tak pernah mempermasalahkan kebiasaan bersama temannya.

Hampir setiap hari melihat pertengkaran suami dan keluarganya, ia selalu berdebat dengan ibu mertua dan ayah mertua. Saya yang tak pernah melihat pertengkaran di rumah memilih diam dan sembunyi di dalam kamar. Saya takut melihat mereka saling bentak. Kadang ketika suami marah saya juga jadi sasaran bentakan. Sedih, pastilah, tetapi saya sedikitpun tak pernah menyampaikan ke orang tua. Ketika keluarga saya datang menjenguk, selebar mungkin senyum saya sunggingkan. Saya ingin mereka melihat betapa bahagianya saya dengan pernikahan ini. Saya tidak mau orang tua kecewa ketika tahu ia telah salah memilih teman hidup untuk anak perempuan semata wayangnya. Segala keluh kesah hanya saya tumpahkan ketika sholat, mengadu pada Allah, Dzat yang telah menentukan jodoh ini.

Saya berusaha dengan baik menyembunyikan perilaku suami dan keluarganya, namun pada akhirnya Bapak saya tahu. Ia pun dengan besar hati meminta maaf, dan meminta jika seandainya saya lelah atau menyerah dengan hubungan ini saya bisa kembali ke rumah Bapak.

Bapak saya menyatakan penyesalannya telah lalai memeriksa keadaan sosial dan akhlak keluarga suami. Bapak merasa sedih, karena sebelum saya lahir hingga besar, beliau selalu menjaga rizki halal, pendidikan yang baik, makanan yang baik, lingkungan rumah yang baik, teman-teman yang baik, pendidikan akhlak yang baik. Menurutnya segala yang baik selalu ia lakukan, tetapi mengapa anaknya kini berjodoh dengan orang yang buruk akhlak dan perangai. Namun saya katakan, karena saya terlahir dengan segala kebaikan maka tentu Allah akan memberikan jodoh yang baik pula, tapi tidak sekarang. Saya berusaha meyakinkan Bapak bahwa saya akan mengubah kebiasaan suami, dia telah terbentuk wataknya selama 30 tahun, tentu saya tidak bisa mengubahnya dalam tiga bulan ucapku. Butuh waktu dan kesabaran. Bapak pun mempercayakan, beliau hanya berpesan jika teman-teman atau suami saya sendiri berbuat kasar agar segera menghubunginya. Ia memastikan bahwa dia akan selalu ada untuk melindungi saya.

Berbekal kayakinan tentang kisah Abu Bakar, dimana Rasul mengabarkan bahwa sahabatnya ini adalah yang terburuk di masa jahilnya, akan menjadi yang terbaik di masa hijrahnya. Saya pun meyakini bahwa suatu saat suami saya ini akan menjadi manusia terbaik di masa hijrahnya.

Hari-hari saya isi dengan hal-hal yang baik, segala perlakuan buruknya selalu saya balas dengan kebaikan, saya tak pernah menaruh dendam atau amarah. Ketika pulang dengan aroma khamr yang menyengat pun tetap saya sambut dengan senyum dan melayani dengan sopan.

Ketika melihatnya tertawa bersama teman, dari balik tirai saya berazzam bahwa keberadaan saya di sampingnya haruslah membuatnya lebih bahagia dibanding bersama teman-temannya. Jadi semakin ia menunjukkan keburukannya maka semakin lembut pula saya membalasnya. Saya selalu mengingat perlakuan Rasul kepada kafir buta yang selalu beliau suapi, semakin ia mencaci tentang diri Rasulullah semakin lembut Rasul menyuapinya, pada akhirnya kafir buta itu masuk Islam. Bagi saya, Rasul adalah teladan bersikap, dan inilah yng harus saya ikuti. Jika sang Kafir buta menyatakan keislaman setelah Beliau wafat, maka mungkin saya juga harus bersabar hingga ajal menjemput.

Ketika diri ini terasa lemah maka segera saya tunaikan sholat mengadu pada Allah. Melampiaskan tangis dalam sholat akan menjadi penguat iman.

Hingga pada suatu hari suami pulang dan menangis di pangkuanku. Menyatakan penyesalan telah berbuat banyak keburukan. Ia terus mengulangi permintaan maaf dan berjanji akan menjadi suami yang baik. Meski dalam hati saya ingin berteriak kegirangan, tetap dengan tenang saya bertanya ada apa gerangan? Dia pun bercerita bahwa setiap ia pulang, ia selalu berharap akan mendapati saya marah-marah seperti selayaknya istri teman-temannya yang akan marah ketika mendapati suaminya minum-minum. Ia berharap mendapat hukuman dari perlakuan buruknya, dengan begitu ia akan merasa impas. Nyatanya yang ia dapati selalu perlakuan yang baik, sehingga ketika berada di luar rumah berhadapan dengan teman dan minuman, ia malah terluka mengingat saya tersenyum, ia malah kasihan membiarkan saya di rumah menahan kantuk menantikannya pulang.

Semakin ia menghukum dirinya dengan meminum lebih banyak minuman keras semakin ia merasa bersalah, dia merasa menjadi seburuk-buruknya suami. Saya sendiri tak paham bagaimana ia menggambarkan penyesalannya, yang saya tahu inilah hidayah dari Allah. Kini ia dibukakakan hatinya untuk semakin memperbaiki diri. Ia mulai mengganti kawannya, hanya berteman dengan orang yang berkomitmen dengan kebaikan. Setiap keputusannya, baik dalam bekerja dan memilih rekan kerja kini selalu mengutamakan kebaikan.

Inilah jodoh yang telah ditukar oleh Allah, menjadi jodoh yang baik, suami yang baik, imam yang baik.

Semoga kami istiqamah, Barakallah.

Soppeng-Sri Nurpitriani

About Admin

Check Also

Syukur dan Pernikahan

Syukur dan Pernikahan Ahmad Bahrudin Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Seperti biasa setiap tanggal 1 saya Kulsap, ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *