Home / Dakwah / Keajaiban Niat

Keajaiban Niat

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Assalamualaykum warohmatullahi wabarokatuh..

Semoga teman-teman MJR sehat dan bahagia selalu, pun Allah senantiasa merahmati serta memberkahi setiap niat dan langkah kita, aamiin.

Mohon izin untuk mengisi kulsap seperti yang sudah dijadwalkan.

Kesempatan kali ini saya ingin berbagi sedikit mengenai kajian yang pernah saya dengar saat Ramadhan kemarin. Kajian ini mengajak kita untuk merenungkan tentang keajaiban niat.

Teman-teman pasti sudah tidak asing lagi dengan hadits pertama yang terdapat dalam hadits arbain. Landasan yang sangat penting dari setiap amal dan dari sanalah amalan itu menjadi bernilai atau sia-sia di mata Allah. Hadits itu adalah hadits yang membahas bahwa setiap amal tergantung dari niatnya.

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin Al Khaththab radhiyallahu anhu, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallhu alayhi wa sallam bersabda, Sesungguhnya setiap amal itu (tergantung) pada niatnya, dan sesungguhnya seseorang itu hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya (dinilai) karena Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa hijrahnya karena harta dunia yang hendak diraihnya atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu hanyalah kepada apa yang menjadi tujuan hijrahnya. (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Ada satu kisah yang disampaikan oleh ustadz ini. Kisah yang diriwayatkan langsung oleh Rasulullah pada sahabatnya. Kisah yang menceritakan tentang seorang laki-laki yang berniat ingin sedekah.

Laki-laki ini berdoa kepada Allah, Ya Allah malam ini saya ingin bersedekah pada orang yang pertama saya temui diluar rumah. Kemudian ia membuka pintu rumahnya dan ia temui seorang lelaki yang sedang berjalan melewati depan rumahnya. Ia memanggil dan menghampirinya, Ya Fulan, berhentilah sebentar. Ini sedekah untuk kamu. Laki-laki itu tersenyum bahagia, dan langsung pergi. Keesokan harinya, orang-orang ramai membicarakan bahwa semalam ada pencuri mendapatkan sedekah. Laki-laki yang bersedekah ini tiba-tiba tersadar bahwa semalam ia memberikan sedekah pada seorang pencuri. Sehingga ia merasa sedih karena sedekahnya salah sasaran. Dia merasa sedekah nya ini tidak mendapatkan pahala dari Allah taala.

Malam kedua, ia berdoa kembali, Ya Allah, malam ini saya ingin sekali sedekah pada orang pertama yang saya temui diluar rumah. Semoga saya menemukan orang yang berhak mendapatkan sedekah. Lalu, ia bangkit keluar rumah sambil membawa harta sedekahnya. Laki-laki inipun menjumpai seorang wanita yang sedang berjalan, Ya Fulanah tunggu sebentar, ini sedekah untuk Anda. Perempuan ini merasa bahagia. Ia tersenyum dan mengucapkan terima kasih, lalu pergi. Keesokan harinya, orang-orang kembali ramai memperbincangkan bahwa semalam seorang perempuan pezina mendapatkan sedekah. Laki-laki inipun merasa sedih dan kecewa, karena merasa sedekahnya lagi-lagi tidak Allah terima.

Malam ketiga, ia memohon kembali kepada Allah, Ya Allah mohon, malam ini saya ingin memberikan sedekah kepada orang yang paling berhak. Bimbing saya Ya Allah. Akhirnya saat ia keluar rumah, bertemu dengan laki-laki yang sedang lewat, dia langsung memberikan sedekahnya, Ini sedekah untuk Anda. Laki-laki yang ditemuinya pun menyampaikan terima kasih dan langsung pergi dengan wajah yang gembira, bahagia dan terharu. Namun besoknya orang-orang kembali dihebohkan dengan kabar bahwa semalam ada seorang laki-laki yang kaya dan kikir mendapatkan sedekah. Kemudian laki-laki yang bersedekah ini bertambah sedih, tiga kali ia bersedekah, tiga kali pula salah sasaran.

Malam berikutnya, dia tertidur dengan keadaan hartanya sudah habis dan tidak tahu lagi harus sedekah apa. Kemudian dalam tidurnya, laki-laki ini bermimpi, dalam mimpinya Allah mengutus malaikat kepada dia untuk mengatakan, Ya Fulan, tiga kali engkau bersedekah. Ya Fulan, mengapa engkau bersedih? Sesungguhnya, sedekah kamu tiga kali, tiga-tiganya Allah terima. Laki-laki ini heran, karena menurutnya sedekah ini telah salah sasaran, apa yang membuat sedekah saya diterima?. Malaikat menjawabnya dengan tersenyum, Sedekah kamu yang pertama kepada seorang pencuri, telah menghalangi dia dari mencuri. Karena dia mendapatkan apa yang dia butuhkan. Sedekah kamu yang kedua kepada seorang perempuan yang biasa berzina, telah menghalangi dia malam itu dari berzina, karena dia sudah memperoleh apa yang telah dia butuhkan. Dan yang ketiga, sedekah kamu kepada orang kaya dan kikir, telah menjadi jalan hidayah untuknya. Sehingga sekarang dia menjadi orang kaya yang dermawan.

Berdasarkan kisah diatas, ustadz ini menjelaskan bahwa niat ini memiliki keajaiban. Memang secara fiqih, niat itu adalah rukun ibadah. Jadi, tidak akan sah ibadah tanpa niat. Namun tidak hanya itu, dari kisah ini menunjukkan bahwa niat itu sendiri merupakan ibadah. Ia merupakan amal sholih.

Kaidah fiqih juga menyebutkan bahwa barangsiapa yang bertekad mengamalkan ibadah, namun ia gagal melaksanakan amal ibadah tersebut karena alasan syari. maka kita tetap mendapatkan pahala ibadah tersebut secara sempurna. Sehingga apabila kita menyadari tentang keajaiban niat, dengan berniat saja kita sudah mendapatkan pahala luar biasa. Yahya Ibnu Katsir juga berpesan bahwa pelajarilah tentang niat. Karena niat itu seringkali lebih besar dampaknya daripada amal itu sendiri.

Kita pasti sadar bahwa ibadah kita masih banyak kurangnya. Sholat kita yang tidak sempurna, belum khusyu, puasa kita yang mungkin kita tidak sengaja melihat apa yang Allah larang, ghibah tanpa sadar, tilawah kita yang mungkin masih banyak haq-haq huruf dan tajwid belum terpenuhi, sedekah kita yang mungkin masih tidak memberikan yang terbaik kepada orang lain, tentu masih banyak lagi kekurangannya. Lantas bagaimana agar ibadah dhohir ini yang masih banyak kurangnya namun tetap bernilai sempurna dihadapan Allah? Perbaiki niat. Ikhlaskan niat, hanya karena Allah taala.

Satu hal yang harus selalu diingat dalam perkara niat ini adalah kita tidak bisa mengelabuhi Allah dengan niat kita. Kita harus jujur pada Allah. Karena Allah Maha Mengetahui. Berbicara mengenai niat, timbul pertanyaan tentang apa perbedaan orang yang ikhlas dan orang yang riya? Karena perbedaan ikhlas itu riya. Kita tidak bisa membedakan orang lain. Kita tidak bisa mengetahui niat orang lain. Kita hanya bisa membedakan diri kita sendiri sedang ikhlas atau riya. Cara membedakannya menurut ulama adalah jika ibadah kita saat dilihat orang atau tidak dilihat orang itu sama baiknya, berarti kita termasuk orang yang ikhlas walaupun ibadah kita diketahui oleh seluruh penduduk bumi. Namun ketika, ibadah kita saat tidak dilihat dan dilihat orang berbeda, saat tidak dilihat orang asal-asalan dan saat dilihat orang terlihat sempurna, berarti kita termasuk orang yang riya.

Saya jadi teringat nasihat Sensei tentang ikhlas. Sensei bilang ikhlas itu adalah ketika kita tidak tahu apa yang kita lakukan itu ikhlas atau tidak. Karena kita sudah tidak peduli lagi dengan penilaian ikhlas.

Sekian kulsap yang bisa saya sampaikan, atas kekurangannya saya mohon maaf. Terima kasih, barokallahu fiikum..

Wassalamualaykum warohmatullahi wabarokatuh..

Nur hidayawati

About Admin

Check Also

Via diandandunia.net

Misi Hidup

Alkisah, ada seorang raja yang menugaskan seorang menterinya untuk pergi ke sebuah kota dalam situasi ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *