Home / Dakwah / Kisah Insan Penggugah Masjid

Kisah Insan Penggugah Masjid

Kisah Insan Penggugah Masjid

Hilmy Maulana Rachmawan

Image Insan dan Masjid
https://suarapalestina.com

Masih beratkah langkah kita ke masjid?

Utamanya untuk kaum lelaki, tak terkecuali saya, semoga langkah kita dimudahkan menuju masjid. Karena, langkah ke masjid seringkali terintangi oleh dosa-dosa dan kesalahan kita. Bukan berarti kemudian dosa akan menjadi paku payung yang tersebar di jalan ataupun berubah jadi duri yang menghalangi jalan kita. Namun, ia bisa jadi akan memberatkan hati kita, memberikan beban pada niat kita, hingga tak ayal, kita akan semakin jauh dari masjid.

Tak terkecuali, bagi kita selaku aktivis dakwah. Bukankah makin tinggi pohon, maka makin tinggi anginnya? hal seperti itulah yang dihadapi oleh para pegiat dakwah. Banyak diantara mereka (dan juga saya) yang masih mendapat ujian berupa “rasa malas”. bukan muluk-muluk untuk berdakwah, bahkan untuk bergegas berangkat ke masjid. Saya menyadari bahwa semakin ingin giat kita berdakwah, maka semakin cerdik juga upaya syaitan merintangi Jalan kita.

Seorang Ustadz dalam kuliah shubuhya pernah berkata, bahwa sekarang semakin banyak acara2 siaran yang ditayangkan langsung. Orang mengenalnya dengan live music, live action, dan lain sebagainya. Namun, seberapa banyak dari kita yang mendengar adzan secara live? Mendengar adzan secara live berarti ikut duduk melihat muadzin berdiri mengumandangkan adzan. Dan hal itu hanya bisa dilakukan oleh orang2 yang berada di masjid sebelum adzan berkumandang. Beberala sahabat rasul juga senantiasa untuk beradadi masjid sebelum adzan berkumandang. Ketika mereka tertinggal, mereka merasa dirinya lalai, sehingga harus diingatkan oleh kumandang adzan. Maa syaa Allah.

Setelah mendengar kuliah shubuh tersebut, dalam hati saya tergerak untuk berani mendengar adzan live di masjid. Artinya saya harus berada di masjid sebelum adzan berkumandang. Dan waktu dhuhur adalah waktu yang tepat untuk memulainya. Maka dari itu, saya bulatkan tekad dan kuatkan niat agar saat dhuhur bisa bangkit dan berdiri, bergegas ke masjid. Namun, angan tinggal angan. Selepas dhuha sekitar jam 11, saya jatuh tertidur. Hingga akhirnya terbangun dalam sepi. Di jawa timur, setengah jam sebelum adzan biasanya ada dibunyikan shalawat, atau murattal dari masjid. Dan saat saya terbangun, sekitar jam 12, suara itu sudah tidak lagi terdengar. Dalam hati, terbersit sesal. Lemahnya niat dan tidak berdayanya Tekad yang berasal dari kemauan yang lemah sekali. Namun, sayup mendengar suara iqamah. Baru saya sadari bahwa masjid tempat saya biasa shalat berjamaah, agak lambat dalam mengumandangkan iqmah. Akhirnya saya bergegas mengambil wudhu dan kemudian mengganti baju untuk shalat dhuhur di masjid

Di masjid, sudah menginjak rakaat kedua. Saya menunaikan shalat berjamaah dan mengganti ketertinggalan rakaat. Akhirnya setelah selesai, saya beristighfar dan kemudian melihat ke sekeliling jamaah yang hadir. Diantara jamaah yang hadir, ada beberapa orang bapak-bapak yang sudah lanjut usia. Diantara mereka ada yang sulit untuk berdiri dalam shalat. Sehingga membawa kursi dari rumahnya. Dari tampilan kursi tersebut, usianya tak kalah lanjut dengan pemiliknya. Setelah saya perhatikan, nampaknya bapak tersebut terserang stroke. Separuh tubuhnya tidak bisa bergerak karena lumpuh. Rumahnya dari masjid pun lumayan jauh. Butuh setengah jam dari rumahnya untuk berjalan ke masjid dengan kondisinya yang lumpuh separuh tubuh. Kemudian, ada juga seorang bapak paruh baya yang terkena penyakit cukup parah. Sekujur tubuhnya, menderita semacam bentol. Tapi bukan sembarang bentol. Pasalnya ia berukuran macam-macam, mulai dari sebesar kelereng hingga biji salak. Ia tampak lebih seperti tumor, yang menjangkiti sekujur tubuhnya. Kuyakin, perasaannya takkan nyaman. Pun wajahnya sudah tak nampak lagi. Namun, setelah sekian lama, baru saya sadari bahwa beliau adalah salah seorang muadzin di masjid itu. Namun keterbatasan yang menderanya tidak membatasi keinginannya untuk mengabdi pada Allah. Kemudian, ada pula lansia lainnya, yang menggunakan kursi bantuan juga. Namun karena kursi lebih tinggi, sehingga tinggi duduknya melebihi posisi sujudnya. Sehingga, rata2 orang yang butuh bantuan untuk shalat dalam keadaan duduk, dan kemudian bersujud, akan sujud dengan membungkuk sedikit saja. Hal itu membuatnya tak kehilangan semangat untuk bersujud. Akhirnya, beliau membawa beberapa tumpuk kain dan menumpuknya didepannya. Sehingga dahinya bisa menyentuh tumpukan kain tersebut layaknya orang yang sujud.

Saya berusaha memperhatikan dengan seksama. Dan kemudian, harusnya saya sadar. Bahwa diluar sana, banyak orang yang tidak seberuntung kita. Untuk menuju ke masjid, butuh banyak usaha dan perjuangan. Maka, tidak sepatutnya kita, khususnya saya yang alhamdulillah masih dikaruniakan allah kelengkapan, dari segi anggota tubuh dan kesehatan, layaknya lebih menghargai anugerah tersebut. Caranya, dengan menggunakannya semata untuk kebaikan menuju Ridha Allah. Karena, kita yang sehat seperti ini, menerima ujian berupa diri kita sendiri. Mana yang lebih kita turuti saat allah mengundang? Apakah kita memang insan yang lalai sehingga perlu sekali diingatkan? Kita takut dipermudah untuk menuju masjid, mati jangan menyulitkan diri sendiri dan menghadirkan banyak alasan. Semakin banyak alasan, bisa jadi kita akan semakin dijauhkan dari masjid. Naudzubillah, tsumma Naudzubillah.

Makin tinggi pohon, makin tinggi angin. Makin kuat kita ingin berdakwah, makin besar juga ujian yang kita terima. Salah satu ujian yang kita terima , Adalah, diri kita sendiri. Apakah kita lebih menuruti nafsu dan kemauan diri sendiri? Ataukah semangat dakwah kita hanya luapan euforia sesaat yang habis ditiup masa? Semoga kita semua dimudahkan dan dikuatkan dalam meniti jalan menuju Allah. Tak perlu kita menemui akhirnya, tapi semoga kita menutup usia kita dengan kondisi masih meniti jalan Allah. Jika langkah kaki kita tak membawa kita ke masjid maka bagaimana ia akan membawa kita ke syurgaNya kelak?

About Admin

Check Also

Anugrah Yang TerDzalimi

ANUGERAH YANG TERZHALIMI Ada dua peristiwa besar yang dialami umat Islam di abad modern. Dua ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *