Home / Bedah Buku / Manajemen Kesabaran

Manajemen Kesabaran

images (17)

Ini adalah cerita seseorang bernama Husain. Seorang laki-laki dari Turki.

Husain menikah dengan seorang gadis, putri dari tetangganya. Pada pesta pernikahannya, Husain terkagum dengan dua ulama yang diundang untuk datang mengesahkan dan memberi nasihat untuk pernikahannya. Dua ulama tersebut menyampaikan ceramah yang dalam maknanya tentang agama Islam. Mereka ucapkan ayat-ayat panjang Al Quran diluar kepala; menyebutkan makna dari hukum-hukum agama yang sulit serta membahas berbagai macam ungkapan bahasa Arab.

Husain kemudian bertanya kepada dua ulama tersebut, darimanakah mereka bisa mengetahui ilmu tersebut? Ulama tersebut menjawab, bahwa mereka belajar ilmu-ilmu tersebut di sebuah perguruan tinggi keagamaan di kota Istanbul.

Terinspirasi dari kedua ulama tersebut, Husain menjadi kukuh hatinya untuk menekuni ilmu agama. Setelah malam pernikahannya, Husain meminta izin kepada istrinya untuk pergi.

“Aku telah berusia dua puluh tahun, dan sejujurnya aku merasa tidak tahu hal penting apapun. Aku ingin pergi ke Istanbul dan menjadi ulama. Tolong jaga peternakan kita dan kedua orangtuaku selama aku pergi. Aku akan kembali setelah menjadi seorang ulama”, kata Husain.

Husain kemudian pergi ke Istanbul. Ia habiskan tiga puluh tahun berikutnya untuk belajar dari satu guru ke guru lainnya untuk mencari ilmu. Pada usia lima puluh tahun, akhirnya, Husain pulang kembali ke desanya dengan mengenakan jubah ulama besar tertinggi.

Di perjalanan pulang, ia berhenti di sebuah desa kecil yang berjarak sehari perjalanan dari kampungnya. Ketika itu waktu Isya telah tiba, dan dia memutuskan untuk singgah di masjid terdekat untuk melaksanakan shalat.

Para penduduk begitu tersanjung melihat seorang ulama hadir dalam kampung mereka. Lalu, mereka meminta Husain untuk memberikan ceramah tentang ilmu agama yang ia ketahui. Para penduduk kampung begitu kagum dengan kedalaman ilmunya, walaupun ada istilah-istilah rumit yang mereka tidak pahami.

Setelah ceramah, para penduduk bersikeras untuk menawarkan rumah mereka sebagai tempat bermalam Husain. Orang pertama yang menawarkan rumahnya bersikeras bahwa dialah yang berhak, dan Husain setuju untuk bermalam di rumahnya.

Selepas makan malam, tuan rumah yang seorang orang kampung itu bertanya bagaimana Husain bisa menjadi seorang ulama. Husain kemudian mengisahkan perjalanan hidupnya. Dia ingat saat meninggalkan istrinya setelah hari pernikahannya untuk pergi ke Istanbul dan kemudian belajar selama tiga puluh tahun lamanya mencari ilmu. Airmata Husain kemudian menetes saat ia mengingat bahwa ia telah meninggalkan keluarga dan teman-temannya di kampung asalnya dalam waktu yang sangat lama.

Tuan rumah kemudian bertanya kepada Husain, “Bolehkah aku menanyakan sesuatu?”. Husain menjawab, “Tentu saja, tanyakan apapun yang engkau mau!”

“Apakah yang menjadi awal kearifan?”, tanya tuan rumah.

Husain kemudian menjawab, “Awal kearifan adalah meminta pertolongan Allah atas segala sesuatu”.

“Bukan. Bukan itulah awal kearifan”, tolak tuan rumah.

Husain menyambung, “Kalau begitu, ucapkanlah bismillahirahmanirahim sebelum mengerjakan sesuatu. Itu adalah awal dari kearifan”

“Bukan. Bukan itulah awal kearifan”, tuan rumah kembali menolak argumentasi Husain.

Selanjutnya, Husain menjelaskan semua jawaban yang ia pelajari selama tiga puluh tahun. Namun, tuan rumah mengganggap semua jawaban yang dikemukakan Husain itu kurang tepat.

Akhirnya, Husain menyerah dan bertanya kepada tuan rumah jawaban dari pertanyaannya. Tuan rumah kemudian menjelaskan, “Aku tidak mampu, jika dalam waktu semalam saja harus mengajarimu sesuatu yang tidak bisa kau pelajari dalam waktu tiga puluh tahun. Aku melihat engkau adalah seseorang yang tulus dan cerdas. Karena itu, aku yakin akan mampu mengajarimu awal kearifan dalam waktu setahun.”

Husain kemudian setuju untuk tinggal di rumah orang kampung itu selama waktu satu tahun untuk diajari tentang awal kearifan.

Keesokan harinya, tuan rumah mengajaknya ke ladang. Mereka bekerja sangat keras mengolah ladang, hingga sorenya Husain pulang ke rumah dengan keadaan yang sangat lelah. Belum pernah Husain bekerja sebegitu kerasnya dalam hidup.

Esok harinya lagi, tuan rumah mengajaknya kembali untuk melakukan hal yang sama (bekerja di ladang). Hal ini berlangsung selama satu tahun lamanya. Setiap kali Husein bertanya apakah itu awal kearifan, tuan rumah selalu memintanya untuk bersabar.

Waktu satu tahun kemudian telah lewat. Husain kemudian meminta kembali jawaban atas awal kearifan. Orang kampung itu kemudian berkata bahwa ia akan mengajarinya esok pagi. Husain terkaget-kaget dan marah, “Hanya sesingkat itukah?”. Orang kampung itu kemudian menjawab, “Singkat dalam lisan, tetapi tidak dalam pemahaman”

Keesokan harinya, tuan rumah meminta istrinya untuk mempersiapkan makanan untuk bekal perjalanan Husain. Namun, Husain menolaknya sambil berteriak, “Katakan, apa awal kearifan?”

“Bersabarlah”, kata tuan rumah sambil membantu menyiapkan perbekalan untuk Husain. “Jangan menipuku! Kuhabiskan waktu setahun ini seperti keledai untuk belajar awal kearifan. Lalu apa itu?”

“Bersabarlah”

“Cukup, jangan menipuku. Katakan sekarang apa itu awal kearifan”

“Bersabarlah”

“Engkau menipuku. Aku bisa mengutip berkitab-kitab tentang sabar. Aku hafal semua ayat Al-Qur’an tentang sabar!”

Orang kampung itu menjawab. “Ketika aku menanyakan awal kearifan padamu setahun yang lalu, engkau tidak bisa menjawabnya. Ketika aku bertanya apa engkau bersedia untuk mempelajari jawabannya, engkau setuju. Setahun yang lalu engkau belum memahami jawabannya. Setahun penuh aku berusaha membuatmu memahami kesabaran dan betapa engkau harus sabar untuk memahami semua hal penting. Engkau telah mengalami dan merasakan sabar, dan itulah yang sesungguhnya dinamakan belajar”

“Seorang ulama yang hanya penuh dengan hikmah mentah, yang belum memahami, mengalami dan merasakannya, apalagi mengamalkan dalam hidupnya sendiri apa-apa yang diketahuinya, seperti keledai yang mengangkut setumpuk kitab agung. Kitab-kitab itu tidak memberikan manfaat apapun untuk keledai pengangkutnya; dan dengan meledaknya semburan kemarahanmu itu, tampak jelas semua pelajaranmu selama tiga puluh tahun tidak bermanfaat apapun”

“Sungguh sangat menyakitkan bagi orang lain, ketika kau belajar banyak lalu mengajari mereka, padahal kau belum menjadikan pengetahuanmu teramalkan pada dirimu sendiri. Jika mereka mendengarmu rajin mengutip hadis dan nasihat para ulama tentang iman dan amal, lalu melihat bahwa dirimu sendiri tidak memiliki sifat-sifat itu, mereka hanya akan melihat dirimu sebagai pendusta. Pikirkanlah, apa yang menjadi balasan untukmu jika mereka yang hendak kau ajari justru kehilangan keyakinannya karena apa yang kau katakan tidak tampak dalam perbuatanmu? Bisa jadi mereka tidak akan mempercayai kebenaran Ilahi yang engkau ucapkan”

“Maka dari itu, belajar kesabaran sangat penting. Seorang ulama yang sesungguhnya adalah orang yang mengamalkan pemahamannya kepada dirinya sendiri. Tanpa itu, dalam dirimu hanya ada kepalsuan. Sekarang pulanglah engkau, berbagilah pengetahuan itu dengan keluargamu dan tetanggamu. Tapi kau tak boleh lupa untuk terlebih dahulu mengamalkan ilmumu dalam kehidupanmu sendiri.”

Melalui orang kampung itu, Husain kemudian belajar mengenai makna pencarian ilmunya selama tiga puluh tahun. Setelah itu, Husain kembali ke kampungnya sambil merenung apa yang selama ini dia dapatkan.

Saat malam hari tiba menjelang waktu Isya, akhirnya Husain sampai ke rumahnya. Saat melihat ke dalam jendela rumah, Husain terkejut bahwa istrinya duduk dengan merangkul seorang pemuda sambil membelai rambutnya. Sontak, Husain terbakar dalam api cemburu. Dikeluarkannya pistol yang dibelinya di Istanbul untuk melindungi dirinya dari penjahat dan mengarahkannya ke istrinya itu.

Namun, sebelum Husain menarik pelatuk pistolnya, Husain teringat apa yang disampaikan orang kampung yang mengajarinya tentang kesabaran selama satu tahun penuh. Sambil menenangkan diri, Husain kemudian pergi dari rumahnya dan mulai mengumpulkan bukti.

Husain mendatangi masjid desa tempat dirinya tinggal. Para penduduk desanya terkesan dengan jubah ulama yang Husain kenakan dan memperlakukannya dengan hormat. Sayangnya, tidak ada penduduk desa yang mengenalinya. Husain pun bertanya tentang teman-temannya yang lama serta tetangganya. Penduduk desa pun bercerita bahwa mereka ada yang sudah berumur lanjut, dan bahkan ada yang sudah meninggal.

Akhirnya Husain bertanya, “Bagaimana kabar seorang lelaki bernama Husain yang pergi ke Istanbul?”

“Kami belum mendengar kabar darinya selama tiga puluh tahun ini. Namun, istrinya mengalami masa-masa sulit setelah dia pergi pada saat hari pertama pernikahannya.”

“Setelah Husein meninggalkan istrinya, istrinya mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Istrinya sangat bekerja keras untuk menghidupi anaknya seorang diri, tanpa mengetahui apakah suaminya akan pulang atau tidak.”

“Namun kini perempuan itu telah berhasil mendidik anaknya menjadi ulama sebagaimana keinginan suaminya. Putranya kini telah menjadi pengajar dan imam desa kami. Tunggulah sejenak, putranya akan datang sebentar lagi untuk mengimami shalat Isya”

Husain kemudian sangat terguncang mendengar cerita tersebut. Ia membayangkan istrinya berjuang membesarkan putranya yang sama sekali belum dikenalnya. Air matanya pun bercucuran.

Kemudian datanglah seorang pemuda berwajah bersih dan tampan yang mengenakan jubah imam. Dia lah pemuda yang sama yang dilihat Husain bersama istrinya di rumah. Dialah putranya.

Selepas shalat berjamaah selesai, Husain kemudian menghadapkan dirinya ke arah kampung dimana seorang tuan rumah mengajarinya tentang makna kesabaran. Dia membungkukkan diri sedalam-dalamnya sambil berteriak, “Beribu-ribu syukur dan terima kasih padamu wahai guru! Semoga Allah memberi rahmat padamu!”.

Penduduk desa awalnya heran dengan sikap Husain. Lalu, Husain kemudian menceritakan kisahnya pada seluruh penduduk desa. Dikatakannya bahwa ia adalah Husain yang pergi tiga puluh tahun yang lalu dan kemudian belajar satu tahun tentang makna kesabaran. Selepas itu, ia memeluk putranya, sambil kemudian pulang ke rumah.


Dimas Prabu Tedjonugroho

Ini adalah cerita seseorang bernama Husain. Seorang laki-laki dari Turki.

Husain menikah dengan seorang gadis, putri dari tetangganya. Pada pesta pernikahannya, Husain terkagum dengan dua ulama yang diundang untuk datang mengesahkan dan memberi nasihat untuk pernikahannya. Dua ulama tersebut menyampaikan ceramah yang dalam maknanya tentang agama Islam. Mereka ucapkan ayat-ayat panjang Al Quran diluar kepala; menyebutkan makna dari hukum-hukum agama yang sulit serta membahas berbagai macam ungkapan bahasa Arab.

Husain kemudian bertanya kepada dua ulama tersebut, darimanakah mereka bisa mengetahui ilmu tersebut? Ulama tersebut menjawab, bahwa mereka belajar ilmu-ilmu tersebut di sebuah perguruan tinggi keagamaan di kota Istanbul.

Terinspirasi dari kedua ulama tersebut, Husain menjadi kukuh hatinya untuk menekuni ilmu agama. Setelah malam pernikahannya, Husain meminta izin kepada istrinya untuk pergi.

“Aku telah berusia dua puluh tahun, dan sejujurnya aku merasa tidak tahu hal penting apapun. Aku ingin pergi ke Istanbul dan menjadi ulama. Tolong jaga peternakan kita dan kedua orangtuaku selama aku pergi. Aku akan kembali setelah menjadi seorang ulama”, kata Husain.

Husain kemudian pergi ke Istanbul. Ia habiskan tiga puluh tahun berikutnya untuk belajar dari satu guru ke guru lainnya untuk mencari ilmu. Pada usia lima puluh tahun, akhirnya, Husain pulang kembali ke desanya dengan mengenakan jubah ulama besar tertinggi.

Di perjalanan pulang, ia berhenti di sebuah desa kecil yang berjarak sehari perjalanan dari kampungnya. Ketika itu waktu Isya telah tiba, dan dia memutuskan untuk singgah di masjid terdekat untuk melaksanakan shalat.

Para penduduk begitu tersanjung melihat seorang ulama hadir dalam kampung mereka. Lalu, mereka meminta Husain untuk memberikan ceramah tentang ilmu agama yang ia ketahui. Para penduduk kampung begitu kagum dengan kedalaman ilmunya, walaupun ada istilah-istilah rumit yang mereka tidak pahami.

Setelah ceramah, para penduduk bersikeras untuk menawarkan rumah mereka sebagai tempat bermalam Husain. Orang pertama yang menawarkan rumahnya bersikeras bahwa dialah yang berhak, dan Husain setuju untuk bermalam di rumahnya.

Selepas makan malam, tuan rumah yang seorang orang kampung itu bertanya bagaimana Husain bisa menjadi seorang ulama. Husain kemudian mengisahkan perjalanan hidupnya. Dia ingat saat meninggalkan istrinya setelah hari pernikahannya untuk pergi ke Istanbul dan kemudian belajar selama tiga puluh tahun lamanya mencari ilmu. Airmata Husain kemudian menetes saat ia mengingat bahwa ia telah meninggalkan keluarga dan teman-temannya di kampung asalnya dalam waktu yang sangat lama.

Tuan rumah kemudian bertanya kepada Husain, “Bolehkah aku menanyakan sesuatu?”. Husain menjawab, “Tentu saja, tanyakan apapun yang engkau mau!”

“Apakah yang menjadi awal kearifan?”, tanya tuan rumah.

Husain kemudian menjawab, “Awal kearifan adalah meminta pertolongan Allah atas segala sesuatu”.

“Bukan. Bukan itulah awal kearifan”, tolak tuan rumah.

Husain menyambung, “Kalau begitu, ucapkanlah bismillahirahmanirahim sebelum mengerjakan sesuatu. Itu adalah awal dari kearifan”

“Bukan. Bukan itulah awal kearifan”, tuan rumah kembali menolak argumentasi Husain.

Selanjutnya, Husain menjelaskan semua jawaban yang ia pelajari selama tiga puluh tahun. Namun, tuan rumah mengganggap semua jawaban yang dikemukakan Husain itu kurang tepat.

Akhirnya, Husain menyerah dan bertanya kepada tuan rumah jawaban dari pertanyaannya. Tuan rumah kemudian menjelaskan, “Aku tidak mampu, jika dalam waktu semalam saja harus mengajarimu sesuatu yang tidak bisa kau pelajari dalam waktu tiga puluh tahun. Aku melihat engkau adalah seseorang yang tulus dan cerdas. Karena itu, aku yakin akan mampu mengajarimu awal kearifan dalam waktu setahun.”

Husain kemudian setuju untuk tinggal di rumah orang kampung itu selama waktu satu tahun untuk diajari tentang awal kearifan.

Keesokan harinya, tuan rumah mengajaknya ke ladang. Mereka bekerja sangat keras mengolah ladang, hingga sorenya Husain pulang ke rumah dengan keadaan yang sangat lelah. Belum pernah Husain bekerja sebegitu kerasnya dalam hidup.

Esok harinya lagi, tuan rumah mengajaknya kembali untuk melakukan hal yang sama (bekerja di ladang). Hal ini berlangsung selama satu tahun lamanya. Setiap kali Husein bertanya apakah itu awal kearifan, tuan rumah selalu memintanya untuk bersabar.

Waktu satu tahun kemudian telah lewat. Husain kemudian meminta kembali jawaban atas awal kearifan. Orang kampung itu kemudian berkata bahwa ia akan mengajarinya esok pagi. Husain terkaget-kaget dan marah, “Hanya sesingkat itukah?”. Orang kampung itu kemudian menjawab, “Singkat dalam lisan, tetapi tidak dalam pemahaman”

Keesokan harinya, tuan rumah meminta istrinya untuk mempersiapkan makanan untuk bekal perjalanan Husain. Namun, Husain menolaknya sambil berteriak, “Katakan, apa awal kearifan?”

“Bersabarlah”, kata tuan rumah sambil membantu menyiapkan perbekalan untuk Husain. “Jangan menipuku! Kuhabiskan waktu setahun ini seperti keledai untuk belajar awal kearifan. Lalu apa itu?”

“Bersabarlah”

“Cukup, jangan menipuku. Katakan sekarang apa itu awal kearifan”

“Bersabarlah”

“Engkau menipuku. Aku bisa mengutip berkitab-kitab tentang sabar. Aku hafal semua ayat Al-Qur’an tentang sabar!”

Orang kampung itu menjawab. “Ketika aku menanyakan awal kearifan padamu setahun yang lalu, engkau tidak bisa menjawabnya. Ketika aku bertanya apa engkau bersedia untuk mempelajari jawabannya, engkau setuju. Setahun yang lalu engkau belum memahami jawabannya. Setahun penuh aku berusaha membuatmu memahami kesabaran dan betapa engkau harus sabar untuk memahami semua hal penting. Engkau telah mengalami dan merasakan sabar, dan itulah yang sesungguhnya dinamakan belajar”

“Seorang ulama yang hanya penuh dengan hikmah mentah, yang belum memahami, mengalami dan merasakannya, apalagi mengamalkan dalam hidupnya sendiri apa-apa yang diketahuinya, seperti keledai yang mengangkut setumpuk kitab agung. Kitab-kitab itu tidak memberikan manfaat apapun untuk keledai pengangkutnya; dan dengan meledaknya semburan kemarahanmu itu, tampak jelas semua pelajaranmu selama tiga puluh tahun tidak bermanfaat apapun”

“Sungguh sangat menyakitkan bagi orang lain, ketika kau belajar banyak lalu mengajari mereka, padahal kau belum menjadikan pengetahuanmu teramalkan pada dirimu sendiri. Jika mereka mendengarmu rajin mengutip hadis dan nasihat para ulama tentang iman dan amal, lalu melihat bahwa dirimu sendiri tidak memiliki sifat-sifat itu, mereka hanya akan melihat dirimu sebagai pendusta. Pikirkanlah, apa yang menjadi balasan untukmu jika mereka yang hendak kau ajari justru kehilangan keyakinannya karena apa yang kau katakan tidak tampak dalam perbuatanmu? Bisa jadi mereka tidak akan mempercayai kebenaran Ilahi yang engkau ucapkan”

“Maka dari itu, belajar kesabaran sangat penting. Seorang ulama yang sesungguhnya adalah orang yang mengamalkan pemahamannya kepada dirinya sendiri. Tanpa itu, dalam dirimu hanya ada kepalsuan. Sekarang pulanglah engkau, berbagilah pengetahuan itu dengan keluargamu dan tetanggamu. Tapi kau tak boleh lupa untuk terlebih dahulu mengamalkan ilmumu dalam kehidupanmu sendiri.”

Melalui orang kampung itu, Husain kemudian belajar mengenai makna pencarian ilmunya selama tiga puluh tahun. Setelah itu, Husain kembali ke kampungnya sambil merenung apa yang selama ini dia dapatkan.

Saat malam hari tiba menjelang waktu Isya, akhirnya Husain sampai ke rumahnya. Saat melihat ke dalam jendela rumah, Husain terkejut bahwa istrinya duduk dengan merangkul seorang pemuda sambil membelai rambutnya. Sontak, Husain terbakar dalam api cemburu. Dikeluarkannya pistol yang dibelinya di Istanbul untuk melindungi dirinya dari penjahat dan mengarahkannya ke istrinya itu.

Namun, sebelum Husain menarik pelatuk pistolnya, Husain teringat apa yang disampaikan orang kampung yang mengajarinya tentang kesabaran selama satu tahun penuh. Sambil menenangkan diri, Husain kemudian pergi dari rumahnya dan mulai mengumpulkan bukti.

Husain mendatangi masjid desa tempat dirinya tinggal. Para penduduk desanya terkesan dengan jubah ulama yang Husain kenakan dan memperlakukannya dengan hormat. Sayangnya, tidak ada penduduk desa yang mengenalinya. Husain pun bertanya tentang teman-temannya yang lama serta tetangganya. Penduduk desa pun bercerita bahwa mereka ada yang sudah berumur lanjut, dan bahkan ada yang sudah meninggal.

Akhirnya Husain bertanya, “Bagaimana kabar seorang lelaki bernama Husain yang pergi ke Istanbul?”

“Kami belum mendengar kabar darinya selama tiga puluh tahun ini. Namun, istrinya mengalami masa-masa sulit setelah dia pergi pada saat hari pertama pernikahannya.”

“Setelah Husein meninggalkan istrinya, istrinya mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Istrinya sangat bekerja keras untuk menghidupi anaknya seorang diri, tanpa mengetahui apakah suaminya akan pulang atau tidak.”

“Namun kini perempuan itu telah berhasil mendidik anaknya menjadi ulama sebagaimana keinginan suaminya. Putranya kini telah menjadi pengajar dan imam desa kami. Tunggulah sejenak, putranya akan datang sebentar lagi untuk mengimami shalat Isya”

Husain kemudian sangat terguncang mendengar cerita tersebut. Ia membayangkan istrinya berjuang membesarkan putranya yang sama sekali belum dikenalnya. Air matanya pun bercucuran.

Kemudian datanglah seorang pemuda berwajah bersih dan tampan yang mengenakan jubah imam. Dia lah pemuda yang sama yang dilihat Husain bersama istrinya di rumah. Dialah putranya.

Selepas shalat berjamaah selesai, Husain kemudian menghadapkan dirinya ke arah kampung dimana seorang tuan rumah mengajarinya tentang makna kesabaran. Dia membungkukkan diri sedalam-dalamnya sambil berteriak, “Beribu-ribu syukur dan terima kasih padamu wahai guru! Semoga Allah memberi rahmat padamu!”.

Penduduk desa awalnya heran dengan sikap Husain. Lalu, Husain kemudian menceritakan kisahnya pada seluruh penduduk desa. Dikatakannya bahwa ia adalah Husain yang pergi tiga puluh tahun yang lalu dan kemudian belajar satu tahun tentang makna kesabaran. Selepas itu, ia memeluk putranya, sambil kemudian pulang ke rumah.

————————–
Cerita ini disarikan dari salah satu bab dalam buku Cinta Bagai Anggur (Love is the Wine) karya Syaikh Ragip Frazer, PhD. Diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Nadia Dwi Insani, Herman Soetomo dan Herry Mardian.

Dimas prabu tedjonugroho

About Admin

Check Also

Konsep Pendidikan Islam

Berangkat dari kegelisahan seorang pemikir pendidikan yaitu Al-Attas tentang terjadinya degradasi dalam pendidikan Islam yang ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *