Home / Diskusi Pakar / Marmut Merah Jambu #3

Marmut Merah Jambu #3

http://www.bimbingan.org (edited)
http://www.bimbingan.org (edited)

Ada seseorang, sebut saja Budi. Dia berasal dari sebuah desa di salah satu pelosok negeri ini. Dia termasuk salah seorang anak yang cerdas selama masa sekolahnya di Desa. Sekitar tahun 88-89 dia mendaftarkan diri pada sebuah program beasiswa pemerintah untuk memenuhi kebutuhan SDM strategis. Setelah melewati lika liku tes yang berulang-ulang (7 kali test), akhirnya terpilihlah dia menjadi salah seorang penerima beasiswa tersebut. Berangkatlah dia ke sebuah negeri impian, Jepang.

Setelah mengikuti persiapan masuk ke Universitas, diterimalah dia di sebuah Universitas yang agak jauh dari Ibukota Jepang, walaupun Universitas itu masuk ke dalam Universitas ternama juga.

Walaupun dari desa, Budi termasuk orang yang sudah tercerahkan Otak dan Hatinya. Dia termasuk orang yang sudah seimbang antara fikr dan zikr nya. Sehingga saat masuk “Pesantren” Jepang, dia tinggal melanjutkan saja.

Pada saat yang sama, ada seseorang pula, sebut saja Budiah yang punya mimpi yang sama pula. Dia mencoba peruntungan untuk bisa kuliah di negeri impian pula. Melalui program yang lain alhamdulillah dia berangkat pula ke negara impiannya. Dia ditempatkan di salah satu Universitas terkenal di Jepang.

Seperti yang lain juga, tinggal di negara maju yang penuh dengan godaan-godaan duniawi ditambah dengan terbatasnya instrumen komunikasi pada saat itu, muncullah keinginan dari Budi untuk mencari belahan jiwa nya.Layaknya sebuah proses taaruf, dia mengirimkan biodata kepada yang berwenang. FYI, biodata pada saat itu amat sangat simple sekali banget-banget. Bahkan isinya lebih sederhana dibandingkan CV untuk melamar pekerjaan.

Pada saat yang sama, Budiah juga telah mengirimkan datanya, walau dia gak tahu untuk apa. Pada saat itu, Budi sudah melihat data Budiah. Namun Budiah belum mendapatkan data Budi sama sekali.

Budi kembali ke Indonesia untuk menikah dan Budiah pulang ke Indonesia untuk berlibur. Lalu karena merasa cocok dengan data Budiah, tanpa Ba Bi Bu dia langsung mendatangi rumah Budiah menemui orang tuanya. Budiah tentu saja kaget. Ini orang siapa? kok tiba-tiba ingin menikah dengan dirinya, dirinya sendiri pun belum mengetahui data Budi ini. Namun akhirnya bisa dikonfirmasi, terjadilah dialog antara Budi dan orang tua Budiah.

Inti dari dialog itu adalah.. kalau memang serius ingin menikahi anaknya, ayo dinikahkan segera. Bahkan ditantang saat itu pula. Dan Budi menerimanya. Tidak lama keduanya menikah. Saat ini keduanya sudah kembali ke Indonesia dan memiliki 1 anak.

Saat berada di Jepang, keduanya dipisahkan oleh jarak yang sangat jauh. Yang satu ada di Utara, Yang satu ada di Selatan. Untuk menempuh perjalanan, dengan mobil kurang lebih 10 jam nonstop (kurang lebih 1000km). Jadi secara berkala, sebulan dua kali Budi mengunjugi Budiah menempuh perjalanan sejauh itu. Konon menurut keduanya, sepertiga beasiswanya dihabiskan untuk biaya komunikasi setelah mereka menikah.

Saat mengunjungi Budiah itu, Budi juga memperluas jaringan dakwah dengan merekrut beberapa orang kader di Univ itu.Kesimpulannya, kalau mau menikah, Jangan takut LDR, Jangan takut melihat data (bahkan tidak melihat data pun OK) dan setelah menikah harus lebih produktif.

Pernahkah membayangkan, kita akan menikah dengan siapa? Bahkan sampai detik-detik sudah ada penghulu di depan mata.. dia gak tahu akan menikah dengan siapa. Siapa namanya, bagaimana orangnya, dan seperti apa sifatnya?

Tapi pada jaman itu, ternyata ada dan orangnya ada di sekitar kita juga..Bukan kisah jaman Nabi atau jaman Khulafaur Rasyidin or jaman Tabiit tabiin. Mungkin mirip kisah ibu Imam Syafii.. dia tidak tahu seperti apa calon istrinya itu. Yang mau nanya, monggo. Ini tension MMJ makin meningkat soalnya, dari yang ringan-ringan sampe yang level dibatas kewajaran. tapi beneran riil ada di abad 20. hehehehe

Di bawah 2 pekan semua kelar. Itu semua gak ada pertemuan pertama, pertemuan kedua, pertemuan ketiga, gak sempet juga mau pake baju apa, mau bikin undangan seperti apa. Bahkan gak mikir juga mau cari calon yang seperti apa. Dari kisah MMJ1 MMJ2 MMJ3, sebetulnya ada Clue luar biasa yang sudah saya sampaikan.

Ini yang jadi point penting kenapa rerata pernikahan mereka lancar jaya tanpa halangan.Bukan gak banyak mikir, mereka mikir juga, tapi ada hal lain yang lebih penting dari itu.Dan itu yang harus kalian dapatkan juga. Coba inget inget kisah kemarin, MMJ1, 2, 3 dan juga kisah-kisah tambahan yang kemarin. Kalau caranya sudah baik. Allah selalu ada. coba inget-inget ya.

AFB:
Pesannya: Jodoh itu tumbuh mekar disekitar sendiri. Hanya kadang tidak disadari. Kalau udah siap datangi orang yg berwenang. Jangan terlalu ngunbar cerita. Orang dulu tau-tau udah nikah, klo sekarang ini ngobrol nikah panjang lebar, tapi ga nikah-nikah.

ES:
Yang paling utama adalah..
Jadi semuanya itu punya satu tujuan yang sama, dan itu yang menjadi pegangan mereka. Tujuan mereka semua adalah untuk ibadah. Titik. Gak pake koma. Jadi gak ribet-ribet dalam mencari denagn siapa akan menikah, harus bagaimana, ingin seperti apa dll.

Kalau sekarang seolah-olah mengatakan tujuan utamanya untuk ibadah, tapi ngasih syarat macem-macem yang susah-susah. Akhirnya gak jadi ibadah khan.

ibadah itu adalah salah satu pasrah kepada ketentuan Allah. Kalau sekarang, katanya mau ibadah, tapi ngasih syarat yang macem-macem. Ini yang perlu diluruskan.

Patokan Nikah itu simple, apabila datang kepadamu orang yang baik, maka.. bla bla bla..

Gak ada di hadis itu pertanyaan, bagaimana sifatnya? Bisa kerja gak? Bisa masak gak? Bisa ini itu dll

Karena tujuannya adalalh ibadah, ya sudah selesai, yang lain akan mengikuti. Pernikahan itu adalah proses dua jiwa sepanjang hidup. Selama hidup itu akan terus belajar. Kadang ada kesulitan, kadang hepi..

Ini gak bisa diprediksi dari awal. Andai semua kriteria yang kita inginkan ada pun, tidak jadi acuan tidak muncul masalah. Karena sekali lagi jodoh adalah hal yang ghoib.

Sama seperti usia kita, rizki kita. Nanti siang kita akan makan apa? Itu pun kita belum tahu, apakah usia kita sampai sore, kita juga gak tahu. Namun kita melewati hari-hari ini dalam rangka ibadah. Apakah kita ngasih syarat untuk melewati ibadah harian kita?

Kalau iya, sama saja kita membeda-bedakan ibadah yang satu dengan yang lain. Padahal setiap sholat kita baca. Inna sholati wa NUSUKI wa mah yaya. NUSUKI di sana adalalh ibadah, ibadah secara keseluruhan.

Jadi kalau mengirimkan data masih dengan pemberian syarat yang macem-macem yang bikin susah orang yang mencarikannya, itu belum mau menikah dengan sungguh-sungguh. Karena masih milih-milih, belum pasrah atas ketetapan Allah SWT.

Do you know.. berkali-kali saya menemui proses yang nampaknya lancar, tapi entah kenapa akhinyra Allah membukan mata hati akhirya pernikahan itu batal. Padahal sudah di depan mata.

So, yang terpenting adalah yakin bahwa Jodoh itu sudah ditetapkan Allah SWT. Jangan kita yang bikin syarat sendiri yang akhirnya malah makin menjauhkan jodoh itu. Bahwa semua ini adalah benar-benar hanya untuk ibadah kepadaNya.
Saya akhiri kuliah pagi ini..

Adz11:
Semoga tambah berkah dan dimudahkan segala urusan sensei dunia dan akhirat, karena membuka cakrawala dunia gaib ini

About Admin

Admin komunitas MJRS-SJS. Sebuah komunitas yang berupaya membiasakan diri dengan one day one juz + dzikir + Qiyamullail. Selain itu, ada program-program menarik dalam komunitas ini seperti kulsap (kuliah whatsapp), Bedah Buku, Bedah Film dan Kajian Telegram.

Check Also

https://ddsumsel.org

Pengalaman dan Perjalanan 21 Hari Misi Kemanusiaan di Suriah #2

With Theme : Pengalaman dan Perjalanan 21 Hari Misi Kemanusiaan di Suriah (bagian 2) Facilitator ...

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *