Deprecated: Function eregi() is deprecated in /home/kamussma/mjr-sjs.net/wp-blog-header.php on line 7
Marmut Merah Jambu #4 – MJR-SJS
Download Free Designs http://bigtheme.net/ Free Websites Templates
Breaking News
Home / Diskusi Pakar / Marmut Merah Jambu #4

Marmut Merah Jambu #4

mmj5
via http://www.duniaislam.org

ES:
Hohoho.. Pagi ini kita akan berkelana dalam tema kontemporer tanpa akhir sepanjangan jaman. Marmut Merah Jambu.

Tersebutlah sebuah kisah, seorang anak desa dari sebuah daerah kecil di kaki gunung. Bapaknya seorang dalang kabupaten, dia merupakan keturunan sultan solo, Mas Said dari salah seorang selir.

Sebut saja namanya adalah Amir. Amir adalah anak yang cerdas. Sampai SMA dia dikenal di satu kabupaten karena kecerdasannya walaupun hidup dalam serba keterbatasan. Selepas SMA diterima di salah satu Fakultas di Universitas di Jogjakarta yang sangat terkenal, sebut saja UGM.

Sejak kecil, dalam kehidupan keluarga dalang, faktor kejawen sangat kuat. Jadi dia mengenal kehidupan dunia wayang dan pernak perniknya dengan baik. Sayangnya dia kurang mendapat pendidikan tentang agamanya. Makanya sampai lulus SMA dia belum bisa membaca huruf arab.

Walaupun pun begitu, dia sangat gemar membaca. Di sela-sela menggembala kambing setelah sekolah dia selalu membaca apa saja yang bisa dibaca, bahkan walaupun itu hanya secarik kertas koran pembungkus pisang goreng. Saat diterima di UGM itu sebetulnya dia juga tidak tahu bagaimana harus membiayai sekolahnya. Namun karena kecerdasannya dia dibantu oleh kakak-kakaknya yang sudah tersebar di seluruh Indonesia.

Seperti juga yang lainnya, saat sebelum lulus SMA dia mendaftar pula beasiswa yang dulu dikenal dengan beasiswa Habibie. Saat di UGM, ternyata dia mendapat panggilan untuk test yang sangat panjang tersebut. Dia sendiri tidak tahu kalau ternyata dia dipanggil untuk test. Dia sedang kuliah, tetiba di depan kelas ditunggu oleh kakak perempuannya dengan membawa seluruh perlengkapan kehidupan sehari-harinya.

Setelah bertemu kakaknya mengatakan, malam ini harus berangkat ke Jakarta, karena besok pagi harus test. Dan akhirnya malam itu pun dia berangkat ke Jakarta. Sesampai di Jakarta dia langsung ikut test. Singkat cerita diterimalah dia dalam program tesebut dan dia langsung memutuskan keluar dari UGM walaupun belum satu semester dia ikuti. Dia ingin fokus di beasiswa Habibie yang kemudian mengantarkan dia ke negara Jepang.

Dalam masa persiapan ke Jepang, dia bertemu dengan beberapa orang yang kemudian mengantarkan dia kepada Islam. Hal itu dilanjutkan di Jepang. Bisa dikatakan Amir mengenal huruf Arab dan mengenal Islam di Jepang. Setahun dua tahun dia lewati hari-hari dengan berat, baik untuk belajar ilmu kauni yang memang menjadi tujuan utama ke Jepang, dan juga belajar ilmu Agama secara autodidak, tentu dibimbing pula oleh seseorang secara jarak jauh.

Saat tingkat 3, selayaknya anak muda lainnya, dia mulai mengalami keresahan khas anak-anak muda lainnya. Akhirnya dia mengajukan permohonan kepada seseorang agar dicarikan calon belahan jiwanya. Sang “seseorang” tersebut akhirnya menyanggupi dan didapatlah seorang calon, putri pemilik pesantren yang sangat terkenal di daerahnya.

Pemilik pesantren tersebut kebetulan merupakan teman kuliah “seseorang” itu saat di madinah, yang juga sudah memiliki putri, sebut saja Amiroh. Saat itu transfer data tidak mudah, harus melalui surat menyurat yang perlu waktu kurang lebih 3 pekan untuk sekali pengiriman. Sehingga diputuskan, Amir pulang saja ke Indonesia, nanti data dll akan diserahkan di Jakarta.

Sesampai di Jakarta, sesuai rencana Amir mendapatkan data dan foto Amiroh. Namun berbeda dengan yang lainya, Amir sama sekali tidak membuka dan melihat foto Amiroh yang akan menjadi calonnya itu. Ketika ditanya kenapa tidak dilihat? Amir menjawab, “Saya sudah tsiqoh kepada “seseorang” itu, tentu dia tidak akan main-main memilihkan calonnya kepada saya”. “Seseorang” itu memahami dan akhirnya dinikahkanlah Amir dengan Amiroh oleh teman “seseorang” itu. Pernikahan yang sangat singkat, karena Amir hanya punya waktu libur 2 pekan saat itu.
Saat ini Amir dan Amiroh menjadi salah satu ujung tombak dakwah di Ina. Mereka sudah dikaruniai 4 orang anak yang luar biasa.

Kesimpulannya “Faidza azamta fatawakal alalLah”

Itu ayat yang sering dilontarkannya saat menasehati teman-teman yang mau menikah. Any question?

You know him well already. Gak perlu sebut merek, yang penting gimana ibroh nya bisa diambil. hehehe. Kalau gak ada pertanyaan, MMJ5 akan kita lakukan hari senin ya, di waktu dan tempat yang sama. Kali ini salah seorang yang pernah melanglang buana ke Jerman.

MI:
tanya. Seseorang yang ngenalin itu siapa ? Kok dipercaya banget sama si mas amir.

ES:
Seseorang itu adalah salah seorang yang membantu mengenalkan dia kepada Islam. Sehingga dia memberikan kepercayaan yang besar kepadanya. Saya cerita sedikit tentang “Pesantren” Jepang pada saat itu…

RI:
Sensei tanya : haruskah seorang guru yang dipercaya sebagai media, atau siapa saja boleh.

ES:
Media pernikahan itu bisa siapa saja asal percaya kepadanya. Memang bisa juga via MR, namun itu lebih cenderung untuk penataan dakwah saja, tidak mesti juga. Pada dasarnya tanggung jawab menikahkan itu ada pada bapaknya (untuk yang putri), sedangkan untuk Laki-laki ada pada dirinya sendiri.

Kasarnya.. klo Laki-laki secara sayaariat gak masalah menikah tanpa bilang-bilang orang tua. Namun buat Perempuan harus mendapatkan ijin dari bapaknya. Itu hukum sayaar’i nya.. jadi pada dasarnya media pernikah bisa siapa saja. Yang utama tentu saja adalah bapaknya. Mengenai latar belakang Amiroh, dia seorang tenaga kesehatan… namun tidak aktif.

RI:
Sensei kalau via teman harus hati-hati kah?

ES:
Dari MMJ1-MMJ4.. semua serba singkat… di bawah 2 pekan… sejak proses sampai akad.. hehehe
Balik lagi, ke masalah “percaya atau tidak” ke perantara tesebut…

Faidza azamta fatawakal alalLah Faidza azamta fatawakal alalLah Faidza azamta fatawakal alalLah
itu keyword nya…

Gak usah terlalu pusing urusan yang lain.. karena pada dasarnya.. ” Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang .baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An Nur:26)”

Biasanya kita terpaku pada .. sekufu.. sekufu.. sekufu…
padahal sekufu itu relatif abstrak. kita gak tahu batasan sekufu yang sesunggunya itu seperti apa… sekufu yang nampak itu hanyalah sekufu menurut pandangan manusia. Dan bisa jadi deviasi nya sangat tinggi…
dengan kita berpegang teguh pada “Faidza azamta fatawakal alalLah ” artinya kita menyerahkan “sekufu” yang dimaksud hanya kepada Allah , karena hanya Allah yang tahu secara absolut tentang sekufu nya kita dengan pasangan kita.

Jalan satu-satunya hanyalah. bagaimana senantiasa menjadi yang terbaik di mataNya, sehingga Allah SWT akan memberikan calon yang sekufu di mataNya pula. Yang lain.. akan mengikuti bersamaan dengan berjalannya waktu pernikahan. Karena sudah jam 09.01, kita akhiri MMJ4 pagi ini ya… hehehe. Kuliah Dhuha MMJ akan kita akhiri pekan depan ya..

Yang mau diskusi.. feel free ajah. Kisah MMJ Pekan depan mungkin akan berubah temanya.. menjadi bagaimana mempertahankan MMJ ila akhiriul hayah. Untuk Hari Senin, adalah MMJ5, kisah seseorang yagn pernah melanglang buana ke Jerman. Dia bukan anak MITI, namun berkali-kali mengikuti kegiatan MITI. Dia tidak dikenal pula di MITI …

CM:
Emang bener..kita gak tahu batasan sekufu yang sesunggunya itu seperti apa…

DPW:
Silakan diskusi bebas ya? Hmmm sebenernya mau nanya statement sensei kmren ttg sayaaratnya ga usah macem-macem.. nah kategori macem-macem sama ga itu yang gimana sensei?

ES:
”Wanita itu dinikahi karena empat hal, karena hartanya, karena kecantikannya, karena nasabnya, karena agamanya. Maka pilihlah alasan menikahinya karena agamanya. Kalau tidak maka rugilah engkau”

Bukannya sudah clear dari hadits di atas ya?

“Apabila datang (meminang) kepadamu orang yang kamu redha agamanya dan akhlaknya maka kahwinilah ia. Jika tidak engkau perbuat (demikian), akan terjadi fitnah di bumi dan kerosakan yang luas.” – (Riwayat Tirmizi, Ibnu Majah dan al-Hakim)

Nah.. yang di luar itu yang macem-macem…

ANS:
Sensei..pengen nanya yang ini “Apabila datang (meminang) kepadamu orang yang kamu redha agamanya dan akhlaknya maka kahwinilah ia. Jika tidak engkau perbuat (demikian), akan terjadi fitnah di bumi dan kerosakan yang luas.” – (Riwayat Tirmizi, Ibnu Majah dan al-Hakim)
Brarti harus selalu diterima jika kita tau akhlaqnya baik? Kalau g ada kecenderungan gimana sensei?

ES:
itu sayaarat berikutnya.. tapi gak mutlak. ada berbagai macam mazhab di sini.di India, Pakistan, Bangladesh.. di Mazhab Hanafi.. sang perempuan sama sekali gak tahu calon suamianya seperti apa

dia baru tahu suaminya setelah akad nikah. Ini akan masuk dalam bahasan di MMJ5 masalah kecenderungan ini masuk abstrak juga. sejak awal apakah muncul atau tidak.. belum tentu juga. Nanti kita bahas di MMJ5 dan 6 deh.. klo sempet di MMJ5 sekalian. Jawaban orang-orang yang ada di sekitar kita saat berbicara masalah “kecenderungan”.

Cerita sedikit klo pernikahan di Mazhab Hanafi (bangladesh, pakistan, india). Di Sana usia pernikahan buat laki-laki relatif tinggi, namun sebaliknya rendah untuk perempuan. Yang pro aktif mencari adalah sang orang tua. Orang tua akan mencarikan yang agamanya baik dan relatif mapan. Makanya usia buat laki-laki menikah di sana sekitar 30 tahunan.. pada saat mereka sudah ada pekerjaan dan mapan secara ekonomi.

Sang ayah akan mencari dan berhubungan langsung dengan CPP. Kalo CPP Ok, maka orang tua akan menikahkan, dan mengatakan ke CPW kapan nikahnya. CPW tidak diberitahu data, photo atau keterangan apapun karena dia mempercayakan ke ayahnya…

Setelah akad barulah dia tahu yang mana suaminya. Kenapa usianya tinggi? karena biasanya sang bapak meminta mahar yang agak tinggi juga… makanya jarang yang berani nikah di usia 20 tahunan untuk laki-laki.

MY:
Sensei memang yang mematok mahar dari wali perempuan?–> Sebetulnya dari CPW…. karena mahar adalah hak perempuan

AMSS:
Sensei, sekufu itu apa yah?

AFB:
“Apabila datang (meminang) kepadamu orang yang kamu redha agamanya dan akhlaknya maka kawinilah ia. Jika tidak engkau perbuat (demikian), akan terjadi fitnah di bumi dan kerosakan yang luas.” – (Riwayat Tirmizi, Ibnu Majah dan al-Hakim)

Buat hadis ini jangan dipahami leterlek. Apalagi kalau memahaminya, saya sudah sholeh, kemudian ditolak. Terus menggunakan dalil ini buat alasan. Soalnya ada kasus ikhwan ditolak akhwat, terus pake hadis ini. “nanti akan ada fitnah, kalau antum nolak ane, sesuai dengan hadis ini”. What…. Rasanya pengen gw jitak itu orang. Fitnah dalam bahasa arab dan bahasa Indonesia itu beda.. Maybe karena penyerapan makna yang tidak sempurna.

فطنة
Itu maknanya adalah ujian dan cobaan. Bisa dilihat di ayat yang menjelaskan bahwa harta dan anak-anak adalah fitnah bagi manusia. Fitnah disitu bermakna ujian. Makanya harta dan anak-anak adalah ujian keimanan bagi semua orang

Kalau dalam fitnah dalam bahasa Indonesia sering diartikan “menuduh seseorang melakukan sesuatu padahal dia tidak melakukannya”. Padanan dalam bahasa Arabnya adalah إفك

Silakan lihat ayat tentang aisayaah yang difitnah (dalam arti bahasa Indonesia), Allah menjelaskan itu sebagai ifkun mubin . Seorang wanita menerima pinangan atau tidak itu berkenaan dengan ketetapan hatinya. Gak bisa ditawar-tawar. Kalau sesoleh apapun menurut orang, tapi dia tidak berketetapan hati, ya ditolak ga apa. Misal dalam pernikahan Ali dan Fathimah.

Abu bakar dan umar maju duluan melamar, tapi ditolak. sApa umar dan abu bakar bukan orang yang shaleh? Baik perangai dan akhlaknya? Kenapa rasulullah menolak? Karena memang ketetapan hati untuk menikahkan Fathimah bukan dengan mereka berdua.

NN:
Yang sholeh gak boleh marah kalo ditolak. Apalagi yang cuma merasa sholeh atau tampak sholeh. Ayah zaman sekarang banyak yang menyerahkan keputusan pada anaknya, sensei.

ES:
dan yang menolak ayahnya…

AFB:
Sensei, sekufu itu apa yah?
Apa itu sekufu..
Cara gampangnya adalah setara.

Sekufu bukan sayaarat mutlak sahnya perkawinan. Hanya disarankan saja agar rumah tangganya harmonis. Sekufu bisa dgn standar nasab, pangkat, harta, asal daerah, pendidikan, dll.

Misal gini.. Pernikahan antara orang yang berpendidikan tinggi dengan berpendidikan rendah akan rentan timbul ketidakharmonisan.
Suaminya lulus S3, istrinya lulusan SD. Suaminya ngobrol apa, istrinya nanggepinnya apa.

Misal lagi, seseorang dari keluarga ningrat, suaminya dari keluarga proletar yang bagaikan remahan rempeyek dihadapan keluarga istri. Potensi konfliknya besar.. Meski jika dilakukan pernikahan, tetap sah menurut hukum.
Tapi perlu diingat ini bukan sayaarat utama.. Hanya hal2 yang disarankan saja. Sekufu dalam keimanan lebih diutamakan. Karena dengan iman yang hadir, pertimbangan dunia hanya menjadi butiran jasjus yang bsa hilang tertiup angin.

NN:
Menulis sayaarat biasanya memang untuk meminimalisasi potensi masalah/konflik di kemudian hari. Walau kalau soal iman sudah luar biasa, hal-hal lain bisa diatasi. Sensei ada cerita MMJ yang tokoh-tokohnya tampak gak sekufu secara duniawi (tingkat pendidikan , latar belakang keluarga, dll) gak?

ES:
ada lah….
masih banyak kisah-kisah MMJ yang bisa diambil mutiaranya.. mau yang seperi apa..?
hehehe . Ini sebetulnya masuk dalam sks berikutnya…
sekarang khan masih introduction.. bagaimana kisah-kisah pernikahan yang unik-unik dan gak ribet… abis ini tentang kisah-kisah pernikahan yang ribet dan bikin heboh. Detelah itu kisah-kisah suka duka RT dengan segala keerorannya..

PRW:
Kek CHSI enggak Sensei?

ES:
CHSi itu apa?

ANAI:
catatan hati seorang istri

ES:
Wahai diriku di balik situ.
Engkau selalu di situ,
Di kala aku kehilangan kepercayaan diriku,
Setiap kali aku menekankan dahiku ke tembok berharap akan berkurang bebanku,
Ketika pandangan kosongku menembusmu berakhir di dalam kesunyian.
Engkau selalu di situ,
Di balik beningnya air sumur rumah kampung halamanku yang telah membesarkanku,
Di balik keruhnya air kali Mekong yang telah menghanyutkan sejarah ribuan tahun konon nenek moyangku,
Di balik remang-remang gelapnya angkasa malam di luar jendela biduk yang membawaku setiap perjalanan yang tak pernah berujung.
Engkau selalu di situ,
Di dalam bayangan dan imajinasiku.
Aku ingin berbicara kepadamu,
Mengisahkan dunia dan cerita tentang anak-anak manusia,
Membangun cita-cita untuk masa depan para penghuni lorong-lorong kota,
Berbagi gelora untuk mengantarkan nestapa anak-anak yang kehilangan ayahnya.
Aku ingin kau dengarkan kisah anak-anak penyemir sepatu di emperan toko-toko padat kota lama Hanoi.
Aku ingin kau dengarkan kisah anak-anak penjaja koran di kepulan asap dan debu sudut-sudut kota Jakarta.
Aku ingin kau genggam sebelah tangan anak kecil korban Tsunami itu yang tak hendak melepaskan cengkeraman tangannya pada celanaku seolah aku bisa menyelamatkannya dari bayangan hitam yang terus menghantui hidupnya.
Aku ingin kau tepuk pundak anak-anak yang putus asa mencari upaya untuk menyembuhkan penyakit yang menggerogoti badan orang tua dan hidup mereka.
Aku ingin kau ikut mengelorakan dada anak-anak muda itu agar mereka tak bimbang menghadapi masa depan mereka.
Aku ingin kau nyalakan lilin dalam dadaku,
Yang memberi terang hidupku dan hidup anak-anak negeri .
Aku ingin kau turut memberi harapan buat mereka, dan karena itu aku punya harap pula.
Tetapi kau hanyalah sebuah banyangan di balik cermin.
Kau dekat tetapi aku tak pernah bisa menggapaimu.
Kau selalu di situ tetapi tak pernah berada dalam hidupku.
Kau tersenyum ketika aku tersenyum.
Kau tertawa ketika aku tertawa.
Kau menangis ketika aku menangis.
Kau saksikan aku di dalam kesepianku.
Kau tertawakan aku di dalam kesendirianku.
Kau cemoohkan aku dalam ketelanjanganku.
Tak ada yang tertutupi sehelai benang pun diriku olehmu.
Tetapi kau tak pernah mengisahkan dirimu.
Engkau hanyalah bayanganku.
Engkau tak pernah riil dalam duniaku.
Adakah dunia yang aku bisa menggapaimu?
Sehingga aku bisa mencicipi namanya cinta yang aku tak pernah punya kemewahan untuk merasakannya.
Atau kau bawa saja aku ke duniamu?
Sehingga aku tak terbebani lagi oleh sesaknya dunia oleh keserakahan manusianya.
Wahai bayanganku di dalam cermin,
Aku ingin kau ulurkan tanganmu menembus cermin ini,
Sehingga kau bisa menggandeng sebelah tangan Prajaka untuk menatap masa depannya.

LK:
Sensei..mau cerita disini boleh kan y. Saya pernah diginiin oleh seseorang yang sangat saya hormati. “Udah..ga usah macem-macem.. jaman sekarang..proposal ikhwan itu sedikit..dan akhwat banyak..jadi bisa gandengan sama yang sholeh aja itu udah beruntung..klo ada kelebihan lain itu bonus istilahnya”. Habis mendengar kata-kata itu kok saya jadi gimana gitu y. Jadi agak down

PRW:
Haduh ikhwan tarbiyah dikit ya, gimana kalau saya sama yang belum tarbiyah tapi bisa saya seret buat ngaji.

LK:
Kadang ada MR yang saklek mb

RIs:
Kalau kata ust. Salim. Jumlah ikhwan akhwat itu sama..

ES:
dari statistik laki-laki dan perempuan saat ini masih sekitar 50-50. untuk yang ikut tarbiyah bisa jadi sama..
jadi dari supply deman bisa dikatakan masih seimbang. seperti yang saya sampaikan di MMJ1 yang lalu, yang jadi masalah adalah mencari pasangan saat ini seperti cari pekerjaan. keduanya saling memerlukan, tapi memberikan persayaaratan yang tinggi

LK:
Kata pemegang bkkbs jogja udah ga imbang sensei

ES:
gak imbang itu maksudnya.. lelaki yang mau maju itu sedikit… dibanding perempuan yang menuggu. akhirnya supply nya kurang… karena memang buat lelaki biasanya perlu keberanian lebih …

DPW:
Iya katanya bukan jumlah ikhwannya yang dikit. tapi yang siap nikah yang dikit hihi. Atau skrg pada model tunjuk.. ya jelas proposal si ikhwan ga ada di bkkbs

LW:
Iya, MR di Jawa pernah bilang yang sama, proposal akhwat numpuk banyaak, tapi proposal ikhwan dikiit banget Iya katanya bukan jumlah ikhwannya yang dikit. tapi yang siap nikah yang dikit hihi

Za:
Bukan g ada mba, mungkin sedikit. Atau sekarang pada model tunjuk.. ya jelas proposal si ikhwan ga ada di bkkbs

LW:
BKKBS tu apa Mbak LK? Atau sejenis UKS gitu kah? Beda nama

LK:
Itu adalah suatu badan yang menampung proposal kita . Eh kok kita sih. Yang mau masukin mksudnya

AFB:
dari statistik laki-laki dan perempuan saat ini masih sekitar 50-50

LK:
Maaf menambahkan sedikit tentang ini :
Sepengamatan saya..saya sering nanya ke teman-teman yang saya kenal baik..berapa lama jarak pengajuan proposal sampe dapat panggilan pertama? Rata-rata..yang dapat cepat adalah yang qualified (ditinjau dari amanah yang dipegang) dan dapet ny ikhwan yang wow juga…terus untuk yang sedang-sedang atau biasa-biasa aj gimana? Banyak temen-temen yang masukin ke bkkbs bertahun-tahun juga belum dapat..hmm
Dan akhirnya banyak juga yang ga via bkkbs dengan alasan lama

Mungkin ini hanya persepsi saya aj..dan mgkn pengaruh kriteria yang diminta juga. Klo emang udah dksh rizki oleh Allah akan datang dengan cepat..via apapun. Tapi tidak semua MR bsa menerima itu..trust me

AFB:
Mau menikah itu bilangnya ke orang tua, bukan ke MR. Jangan sampe kebalik, ke MR dulu baru ke orang tua. Emang yang ngelahirin siapa? Banyak lho yang salah cara pandang dalam hal ini. Alasan orang tua kita belum tarbiyah lah, belum sepemikiran lah, beda jamaah lah, dll.. Tetap saja orang tua yang pertama harus didahulukan.

اللهم إنا نعوذبك من أن نشرك بك شيء نعلمه ونستغفرك لما لانعلمه
ياذى الجلال والإكرام أمتنا على دين الإسلام
Karena khusnul khatimah adalah awal keselamatan di negeri akhirat, dan tak ada yang bsa menjaminnya kecuali Allah. Maka mintalah khusnul khatimah dalam setiap doa.

About Admin

Admin komunitas MJRS-SJS. Sebuah komunitas yang berupaya membiasakan diri dengan one day one juz + dzikir + Qiyamullail. Selain itu, ada program-program menarik dalam komunitas ini seperti kulsap (kuliah whatsapp), Bedah Buku, Bedah Film dan Kajian Telegram.

Check Also

image mjr

Pengalaman dan Perjalanan 21 Hari Misi Kemanusiaan di Suriah #1

with Theme : Pengalaman dan Perjalanan 21 Hari Misi Kemanusiaan di Suriah Facilitator : ARH ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *