Breaking News
Home / Dakwah / Menjadi Istimewa dalam Ketaatan

Menjadi Istimewa dalam Ketaatan

Menjadi Istimewa dalam keta’atan

Ditulis ulang: Azzam Hafidz
3 April 2019M

Siapa yg tak kenal dengan sosok Khulafaur Rasyidin? Ada Abu Bakr, Umar, Utsman dan Ali bin Thalib. Namun diantara keempatnya, Nabi Muhammad SAW, menempatkan sosok Abu Bakr, sebagai sosok sahabat yg lebih istimewa diantara 3 sahabat lainnya, bahkan diantara seluruh sahabat – sahabatnya.

Coba bayangkan, disaat semua orang Makkah saat itu menganggap Nabi Muhammad SAW adalah seorang tukang tenun, penyair, tukang sihir bahkan orang gila sekalipun, Abu Bakr justu menjadi orang yg pertama membenarkan risalah kenabian, menjadi antitesis atas stigma masyarakat yang menolak risalah sang Nabi Muhammad SAW. saat itu, Abu Bakr tanpa ragu sedikitpun membernarkan Nubuatnya, Abu Bakr meyakini hal tersebut sejak pertama kali Rasulullah mendapatkan risalah kenabiannya, Abu Bakr begitu yakin dengan tanpa perlu lagi penjelasan ilmiah atau penjelasan lainnya tentang risalah kenabian sang Nabi. Pesan-pesan langit sudah begitu jelas baginya dan membimbingnya menuju jalan pulang, apalagi dengan pesan langit itu turun melalui orang yang selama hidupnya sangat bisa di percaya.

Padahal bisa saja Abu Bakr saat itu dengan kecerdasan, cara berfikirnya yang termasuk di atas rata-rata masyarakat Arab jahiliah, kematangan kebijaksanaannya dan juga posisi status sosialnya yang bukan sembarang orang, mengambil sikap yg sama dengan orang-orang lainnya dan tentu Abu Bakr akan semakin disegani oleh Masyarakat Quraisy saat itu.

Namun memang hidayah itu Allah yang punya, ia sebuah karunia yang sangat berharga yang harus terus dijaga, barang tentu menjadi penjelas atas ketidakjelasan, menjadi cahaya dalam kegelapan serta akan semakin meneguhkan keyakinan, keimanan, Faith juga kepercayaan dengan tanpa perlu melihat langsung. Maka jika Allah sudah berkehendak hidayah itu sampai kepada siapun yang dikehendakinya, apapun juga tak bisa mengubah kehendak tersebut. Begitupun sebaliknya.

Ialah seseorang dengan nama lengkap
‘Abdullah bin Abu Quhafah, namun nama panggilannya jauh lebih dikenal sebagai Abu Bakr Ash-Shiddiq, begitulah Rasul menambahkan panggilan kebaikan kepada satu sahabat ini. Riwayat itu semakin terkenal ketika peristiwa besar isra’ mi’raj hadir ditengah-tengah masyarakat Quraisy. Kala itu, orang terdekat dari kalangan Keluarga Rasulullah sendiri yang menentang keras risalah kenabian Muhammad SAW, ia seperti mendapatkan keberuntungan yang tiada tandingannya, ia sejurus punya banyak amunisi untuk menyerang saudara sepupunya yg menerima risalah kenabian.

Mengapa tidak? Seantero jazirah Arab saat itu ramai dengan berita hoaxnya bahwa Rasulullah Tidak mungkin hanya dalam satu malam melakukan perjalanan panjang dari Baitul Haram ke Baitul Maqdis lalu naik ke langit ketujuh dan kembali ke Baitul Haram. Kampanye itu begitu masif dan terus terjadi sehingga satu persatu orang-orang beriman mulai goyah, apalagi kaum jahil, mereka semakin menjadi jadi. Termasuk Ash-Shiddiq saat itu, ia di datangi oleh para campaigner yang berkeliling seantero Makkah. Seketika bertanya dan meminta pendapat kepada sahabat mulia itu tentang Isra’ Mi’raj sang Nabi. Tentu seketika Sabahat mulia itu membenarkannya, bahwa Sang Nabi memang telah melakukan Isra’ Mi’raj, tanpa ragu. Mendapatkan jawaban tersebut, campaigner kecewa dan sejurus kemudian menghabisi Sahabat Mulia, tendang, pukul, keroyokan sampai hilang kesadarannya.

Ash-Shiddiq, bermakna “yang membenarkan” ia tentu tak akan begitu saja asal membernarkan sesuatunya, namun itulah kedendak Sang Rabb, Sabahat mulia dianugerahi karunia yg begitu besar sehingga ia mampu menjadi sahabat terdekat mendampingi sang Nabi. Karunia itu adalah keteguhan dalam keta’atannya kepada kebenaran. Tanpa ia harus tau, bahkan bertanya banyak tentang kebenaran tersebut. Berbeda dengan paman sang Nabi, ia begitu dekat secara keturunan dan kekeluargaan, begitu jelas pula risalah itu memasuki telinga dan membisi relung jiwanya. Namun rasa sombong dan angkuhnya membuat kebenaran hanya sebagai bahan olokan yang semakin mengeraskan hatinya, sampai turunlah satu surat yang menjelaskan kebinasaan baginya, ialah ‘Abu Lahab’.

Begitu juga dengan kebanyakan fenomena hari ini, terutama bangsa kita sendiri, tak sedikit dijumpai yang muda mencela yang tua, yang tua mencelakai yang muda, seolah begitu semu kebenaran dihadapan kita, hanya karena merasa diri paling benar. Merasa diri paling layak menyandang kebenaran atas rasionalitas fikirannya semata. Mengatasnamakan perubahan zaman sebagai alasan untuk tidak menjadi respect kepada sesama. Mengatasnamakan globalisasi sebagai pembenaran atas sikap yang di ambil, meski ia begitu jauh dari keluhuran nilai dan akhlak mulia. Mengatasnamakan metodologi ilmiah untuk menjatuhkan sesamanya. Bahkan tak sadar dirinya sendiri telah tersesat begitu jauh karena keputusan-keputusan nya yang begitu mengikuti nafsu semata.

Sedang keteguhan dalam keta’atan sejatinya memberikan kekuatan untuk terus berjuang meneruskan risalah kenabian, menghidupkan semangat juang tinggi untuk Rahmat seluruh jagat raya, bahkan setelah jauh masa itu terlintasi oleh waktu hingga sampai pada zaman sekarang ini. Keta’atan tersebut menjadi anugrah terbesar, karena ia puncak dari hidayah yang sampai merasuki seluruh jiwa. Ia berbuah kemuliaan dan ketenangan dalam hidup. Memberikan gambaran jelas tentang masa depan serta jalan-jalan menggapainya. Merendahkan hati sehingga ia begitu lapang dalam situasi kondisi sesulit apapun. Memuliakan sang pelaksana keta’atan tersebut karena ia begitu dekat dengan yang Maha Mulia.

Sebaliknya, ingkar atau khianat yang menjadi lawan dari keta’atan, itulah sebab peradaban besar manusia terdahulu hancur berkeping-keping, pilihan sikap itu karena preferensi diri yg merasa paling benar, ia segan untuk merendahkan hatinya tunduk kepada kedendak Rabb semesta Alam.

Begitulah sahabat Mulia, Abdullah bin Abu Quhafah, memperoleh kemuliaan Ash-Shiddiq. Ia menjadi istimewa dalam keta’atannya kepada Rabb Al – ‘alamin, dengan Wahyu Langit yang turun bagai hujan di tanah gersang, hidupnya tak sekedar hidup, pun matinya adalah jalan menuju kehidupan selanjutnya.

“Mereka berkata, “kami dengar dan kami ta’at. Ampunilah kami ya Rabb kami dan hanya kepadamulah tempat kami kembali” (2:285)

Dalam rangka menghidupkan semangat isra’ mi’raj pada momentum tanggal 3 April 2019M / 27 Rajab 1440H mari rapatkan barisan, luruskan shaff serta bersegara menyongsong kemenangankemenangan.

About Admin

Check Also

Sekilas tentang Tathayyur

Sekilas tentang Tathayyur Ainul Huda Teman2 MJR 3 yang dirahmati Allah.. Banyak berkembang ditengah masyarakat, ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *