Breaking News
Home / Pengetahuan Umum / Menulis adalah Sastra Hati

Menulis adalah Sastra Hati

Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakaatuh guys. Nama aku Fitri. Kata uma, aku harus rajin membaca. Sebab dunia dan akhirat, aku kenal salah satunya dari tulisan.
(Gaya Rarra)

Ini pertama kalinya aku nulis di depan orang-orang hebat. Maa Syaa Allah. Biarkan kegugupan jemari ini menjadi saksi teman-teman bahwa sesederhana apapun tulisan ini semoga dengan tulus kalian mau baca hingga akhir. Izinkan saya untuk menyampaikan sedikit ilmu sederhana yang saya miliki untuk teman-teman semua.

Ready?

Judul kali ini adalah.
“Menulis adalah Sastra Hati”

Kalau ditanya pernah menulis, semua pasti pernah merangkaikan jemarinya untuk menuai tinta di dalam kertas kosong. Benar? Semenjak langkah kita mulai memasuki dunia persekolahan tentu teman-teman sudah diajari dengan yang namanya “menulis”. Dari kegiatan mengenal huruf sampai mengeja kata menjadi kalimat sudah kita latih sedari dulu. Menulis Permulaan yang diajari sejak Sekolah Dasar (SD) menjadi langkah kedua belajar menulis. Sebab apa? Saya yakin, bahwa guru pertama kalian menulis adalah ibu atau ayah kalian sendiri. Benar begitu? Maka tepat bahwa Ibu sebagai Al-Madrasatul ‘Ula.

Singkat cerita.

Lalu, bagaimana arah penamu sekarang? Setelah berbagai macam teori menulis dan latihan menulis sudah kita arungi dari SD sampai SMA. Sebagai contoh, kita sering menulis sastra puisi, prosa, novel, cerpen, dll saat sekolah dulu. Guru selalu menyuruh kita untuk membuat satu puisi, cerpen, dll di dalam buku latihan kemudian kita interpretasikan di depan kelas. Yang menjadi pertanyaannya, apakah teori-teori menulis yang telah kita pelajari benar-benar kita aplikasikan dalam dewasa ini?

Sederhana, kita sering mengabaikan sastra dalam dewasa ini karena anggapan bahwa sastra belum bisa menjamin finansial masa depan. Bercita-cita menjadi seseorang Noveller tidak menjamin mampu memenuhi kebutuhan finansial di masa yang akan datang. Anggapan ini akan terdoktrin di pikiran kita selama budaya membaca masyarakat Indonesia masih minim.

Pernah kenal Penulis Tere Liye, Habiburrahman el Shirazy, Dee Lestari atau Sibel Eraslan? Mereka adalah Penulis Sastra terkenal untuk saat ini. Tere Liye dengan berbagai macam karya sastranya mampu menerbitkan berbagai macam novel, seperti: Tentang Kamu, Hujan, dll. Habiburrahman El Shirazy dengan karya sastranya berjudul “Ketika Cinta Bertasbih” mampu mengenalkan namanya di bumi, bahkan mungkin di langit. Sebab yang mereka tuai adalah pena kebaikan. Setiap cerita mengandung hikmah-hikmah pembelajaran di dalamnya. Oleh karena itu, benar adanya bahwa selagi budaya membaca masyarakat Indonesia minim maka seseorang penulis sastra kesulitan untuk menjual belikan karyanya di depan khalayak.

Lantas, pilihan sekarang ada di tanganmu. Mau mengaplikasikan teori menulis pada dewasa ini semua bergantung keputusan kita. Sebagian orang suka menulis Karya Tulis Ilmiah sebagai penelitiannya untuk menemukan sesuatu yang baru yang akan segera terungkap adalah hal baik. Sebagian orang suka menulis Puisi dan Cerpen untuk menceritakan hikmah kehidupan adalah hal baik. Sebagian orang menulis status di instagram dengan caption informasi kabar dunia terbaru adalah hal baik. Sebagian orang menulis quote sederhana di status WhatsApp adalah hal baik.

Maka Menulis itu Sastra Hati. Sebab kebermanfaatan tulisan dilihat dari bagaimana hati melabuhkannya. Eakk. Penulis pemula tentu akan kesulitan menyebarluaskan karyanya ke masyarakat luas karena takut tidak ada yang membaca, seorang instragrammer takut menulis caption panjang-panjang takut tidak ada yang membaca. Itu hal lumrah, sebab tujuan kita menulis adalah untuk menarik minat pembaca.

Sederhana ternyata, teruslah menulis dalam keadaan apapun. Menulislah selagi pena belum kering. Kalau kata aku, menulis adalah tinta hati yang mengalir pada kertas kehidupan. Untuk menjadi penulis terkenal di bumi saja belum cukup, jadilah penulis yang bukan saja terkenal di bumi, namun di Langit. Sebab maupun menulis tak mampu menambah finansialmu, mau menulis KTI belum mengungkap apapun, mau di instagram dan WhatsApp tidak ada yang membaca maka tetap menulislah.

Sebab menulis itu sastra hati jika ditulis pakai hati. Sebab tulisan yang ditulis pakai hati, akan sampai ke hati.

Demikian tulisan sederhana ini tertuai pada ODOJ MJR-SJS 4. Semoga sederhana apapun tulisanku, akan sampai di hatimu.

Minggu, 16 Desember 2018

Fitri Handayani Nasution

About Admin

Check Also

Mr. Sjafruddin Prawiranegara dan PDRI

Pada tanggal 19 Desember 1948 telah terjadi kevakuman pemerintah setelah Presiden Soekarno dan Wakilnya Moh ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *