Home / Dakwah / Misi Hidup

Misi Hidup

Via diandandunia.net
Via diandandunia.net

Alkisah, ada seorang raja yang menugaskan seorang menterinya untuk pergi ke sebuah kota dalam situasi perang. Menteri tersebut ditugaskan raja untuk membangun jembatan yang berfungsi strategis untuk menghubungkan dua wilayah.

Untuk menjalankan misi tersebut, sang menteri dibekali dengan sekian banyak sumber daya: pekerja, kuda-kuda untuk mengangkut barang, sekian banyak perkakas dan para ahli yang akan berguna untuk membangun jembatan. Sang menteri diutus ke kota tersebut dalam kurun waktu tertentu dengan harapan jembatan yang diinginkan raja sudah selesai dibangun dengan sempurna.

Setelah beberapa waktu berlalu, sang raja kemudian mengirimkan utusan untuk mengecek bagaimana pekerjaan sang menteri. Sang raja terkejut saat mendengar bahwa ternyata pekerjaan jembatan tersebut belum setengahnya dikerjakan. Sang menteri malah memanfaatkan waktu dan segenap sumber daya yang ia miliki untuk membuat bangunan lain seperti rumah-rumah tinggal yang nyaman, rumah ibadah, perpustakaan dan lain-lain untuk mempercantik kota itu.

Alhasil, sang raja pun murka karena sang menteri tidak menjalankan “tugas utama” yang dibebankan kepadanya. Malah sang menteri mengerjakan sesuatu yang lain yang tidak disuruh.

*******

Perumpamaan ini dibuat oleh Jalaludin Rumi saat menjelaskan tentang konsep “misi hidup”. Dalam perumpamaan ini, menteri diibaratkan sebagai manusia. Sementara, Allah swt diibaratkan sebagai sang Raja.

Perlu kita sadari, bahwa Allah swt telah menciptakan manusia dalam kadar-kadar tertentu. Manusia tidak diciptakan dengan generik seperti layaknya barang pabrik produksi massal. Allah swt menciptakan kita satu per satu dengan presisi, terancang dan terukur, masing-masing demi sebuah tujuan atau fungsi khusus tertentu untuk menampakkan sesuatu tentang diri-Nya. Tidak ada satu pun dari kita yang memiliki kadar-kadar yang sama, bahkan bagi sepasang anak kembar sekalipun.

Allah swt mencipta kita dengan kadar tertentu agar kita cenderung untuk mengarah ke hal-hal tertentu dan mudah dalam melakukan tugas-tugas yang terkait dengan itu.

Kadar-kadar tersebut diantaranya: orang tua kita, kapan dan di mana kita dilahirkan, serta seluruh alam semesta yang disediakan dengan takaran yang presisi dan timbangan keadilan-Nya.

Perbedaan ini dimunculkan agar setiap kita bisa mencermati bakat langit ini dengan sangat seksama, dan mulai mengarah ke peran-peran tertentu atau fungsi-fungsi tertentu dalam kehidupan kita masing-masing. Usaha dalam memahami bakat yang Allah berikan kepada kita ini adalah sebuah cara untuk mengenali “misi hidup”.

Mengapa kita harus dapat mengenali “misi hidup” yang Allah swt berikan kepada kita? Singkatnya, karena kunci hakiki kebahagiaan dari setiap makhluk adalah mengenal tujuan penciptaan diri kita masing-masing. Seseorang tidak akan bisa meraih kebahagiaan yang hakiki tanpa mengenal tujuan penciptaan dirinya, yang berbeda-beda pada setiap orang.

Namun sayangnya, manusia selalu melihat kepada orang lain dan ingin menjadi seperti orang lain, bukan menjadi dirinya sendiri atau setidaknya mempertanyakan: bagaimana seharusnya saya dari sudut pandang Allah Taala. Ini karena manusia gagal mengenali pengetahuan agung yang Allah letakkan dalam dada batinnya: siapa dirinya sebenarnya.

Misi hidup itu tidak ditentukan semata-mata oleh pencapaian akademik, pangkat yang diraih atau status sosial masyarakat. Bisa jadi tugas itu begitu sederhana yaitu mengurus keluarga kecilnya dan sang anak yang perlu bimbingan khusus. Ada pula manusia yang tugasnya untuk menjangkau khalayak yang lebih luas di masyarakat. Apapun itu, kita wajib mengidentifikasi peran spesifik yang Allah ingin kita kerjakan di penggal waktu yang singkat di bumi ini.

Bagaimana cara kita mengenal misi hidup kita? Dalam Ar-Ruum ayat 30-31 dikatakan bahwa kita dapat mengenali misi hidup kita dengan melakukan taubat. Ketika seorang insan Allah kembalikan pada fithrah dirinya melalui proses pertaubatan, maka ia akan mengenali qudrat diri (qudrah) yang pernah Allah kuasakan kepadanya. Ia pun akan mengenali tujuan spesifik dari penciptaan dirinya. Ia, setelah berhasil membuka kuasa Allah dalam dirinya, dikatakan sebagai orang yang telah mengenal dirinya ia mengenal siapa dirinya sesungguhnya.

Oleh karena itu, seseorang hanya bisa mengenal kadar dirinya yang sesuai tujuan penciptaannya secara hakiki dengan melalui proses pertaubatan. Seiring dengan meningkatnya kadar kesucian hati dan cahaya imannya, ia akan semakin mengenali tujuan penciptaannya dengan dituntun oleh Allah Ta’ala dan hidupnya ditata oleh Allah Ta’ala agar ia berfungsi sesuai tujuan penciptaannya.

Ujung pencapaian misi hidup adalah menjadi hamba Allah Ta’ala yang berfungsi sebagai khalifah Allah, ‘wakil’ Allah untuk memakmurkan alam semesta, dalam kadar diri masing-masing. Seseorang yang berada dalam misi hidupnya, maka ia akan sangat bahagia, bersyukur dan menikmati apa yang dia lakukan dalam melaksanakan tugasnya itu, karena Allah mengokohkan pijakannya pada bidangnya itu. Ia akan menjadi yang terbaik pada bidang tersebut.

Fungsi manusia sebagai khalifah Allah ialah pengabdian kepada Allah. Ia berupaya menolong Allah Taala agar kemudian ditolong-Nya (Q.S. Muhammad [47]: 7).Hal ini berbeda dari sekadar melakukan sesuatu untuk “menikmati hidup”. Karena dorongan kita dalam mengerjakan sesuatu untuk sekedar “menikmati hidup” bisa jadi berasal dari hawa nafsu kita, bukan jiwa kita.

Semoga pada hakikatnya kita dapat mengenali untuk apa kita diciptakan di muka bumi ini.

Sumber :

Materi Kajian Suluk

qudusiyah.org

dimas prabu tedjonugroho

About Admin

Check Also

Keutamaan Dzikir

Berdzikir merupakan bentuk amal ibadah yang perlu untuk dilakukan oleh seorang muslim. Karena makna dzikir ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *