Home / Dakwah / Rantai Kebaikan

Rantai Kebaikan

Rantai Kebaikan

Bismillahirrohmaanirrohim..
As’salamulaykum Warohmatullahi Wabarokatuh.

Langsung saja saya mau kulsap dengan materi yang ringan-ringan aja yang biasa kita juga dapatkan ini dilingkup keseharian kita hehe. Flashback pada waktu itu saya pernah juga bahas dibagian ini mengenai “Niat”. Nahh yang mau saya bahas masih ada sangkut pautnya dengan ini. Coba deh kalo dikatakan niat itu apasih? Langsung aja, singkatnya gini. Niat itu amalan hati buat kita, sebagai penggerak yang daya dorongnya amazing bangetttt lah pokoknya. #agaklebay yaa tapi gituh deh. (buat saya).

Karena kalau mba/mas pikir lagi yaa, yang kita lakuin sesuatunya tanpa niat rasanya tuh kayak gapunya energi buat kita jadi yaa biasa-biasa aja apa adanya. Beda kalau semua diniatin mau itu sesulit apapun pasti akan mudah dilalui. Niat itu juga ukuran dalam menilai benar nya suatu perbuatan. Loh berarti ada “niat baik” dan “niat buruk” dong?? Yokk coba kita bahas singkatnya,
Niat Baik, alasan kita melakukan segala sesuatu yang memang tujuannya baik. Seperti Ibadah kita kepada Allah SWT, melakukan sesuatu untuk meringankan beban orang lain, belajar demi menghilangkan kebodohan diri sendiri, bekerja untuk menjaga kehidupan keluarga dan berbagai alasan mulia lainnya. Niat Buruk, alasan untuk melakukan sesuatu yang dapat merugikan diri sendiri atau bahkan mendzhalimi orang lain. Naudzubillah
Nah niat disini kenapa sih jadi bagian yang menurut kita itu penting sekali, yaa salah satunya karena disitulah terdapat “Rantai Kebaikan”. Nah inilah yang akan jadi tema bahasan kulsap hari ini, Kenapa saya bisa bilang disini “Rantai Kebaikan” yaa karena rantai itu sulit untuk terputuss, dengan begitu kebaikan juga harus seperti itu. harus mengalir tanpa putus.

Terus apa yang dimaksud demikian? Seperti kita merusak tanaman yang hendak berbuah. Tega kah merusak tanaman yang sedang tumbuh subur? Tega kah kita sengaja menyiram pohon “mangga”(misalnya) dengan minyak tanah? Umpamanya dengan itu, maka sepantasnya gimana kita bertindak? Setidaknya harus lebih berhati-hati dalam bersikap, sebab tanpa kita sadari loh. Dengan cara yang gak sengaja kita buat meski menurut kita gak sependapat dengan yang dipikir orang lain itu bisa saja mba/mas telah memutus rantai kebaikan tersebut.

Rasulullahshallallahu alaihi wa sallamberkata pada Jabir bin Sulaim,
Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi )
Maka dengan rantai-rantai kebaikan ini, kita akan yakin, ketulusan dalam persahabatan pun akan membuahkan kebahagiaan sendiri. Dan juga keyakinan kita bahwa silaturahmi yang tulus memperpanjang usia dan membuka pintu rezeki Bersahabat lillahi ta’ala dan Bersaudara pun lillahi ta’ala. Lalu yakinlah akan janji Allah, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam :
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Tujuh golongan yang dinaungi Allh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allh, (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, *(4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allh, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya,* (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, Sesungguhnya aku takut kepada Allh. Dan (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berdzikir kepada Allh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.

Maka jangan remehkan hal-hal kecil. Bukankah garis adalah gabungan dari titik-titik? Dengan merawat kebiasaan baik meski sangat sepele, itu akan menjadi pembuka rezeki dan keberutungan. InshaAllah

Dari itulah sepantasnya kita lakukan segala perbaikan yang belum dapat kita realisasikan, minimal untuk (diri sendiri). Bukan sebabnya kita berkumpul dengan sesuatu hal yang tanpa makna namun lebih dari itu untuk selalu mengingatkan dalam kebaikan, yang kita hidup dimana didalamnya saling menebar keselamatan bagi sesama, yang mana bila kita bersikap baik akan muncul rasa : “Aku aman bagimu, menyenangkan bagimu dan bermanfaat bagimu.”

Wallahu’alam..
Sekian kulsap saya, Wa’salamulaykum Warohmatullahi Wabarokatuh.

Ranti Agustiningsih

About Admin

Check Also

Nikmat Mana lagi yang Kita Dustakan?

Nikmat Mana lagi yang Kita Dustakan? Di dunia ini, banyak orang yang masih hidup namun ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *