Deprecated: Function eregi() is deprecated in /home/kamussma/mjr-sjs.net/wp-blog-header.php on line 7
Sebuah Kegalauan akan Umat di Masa Ini – MJR-SJS
Download Free Designs http://bigtheme.net/ Free Websites Templates
Breaking News
Home / Pengetahuan Umum / Sebuah Kegalauan akan Umat di Masa Ini

Sebuah Kegalauan akan Umat di Masa Ini

gambar galau
gambar galau via http://3.bp.blogspot.com

Hamasyatus Syabab dan Hikmatussyuyuh (Semangat para pemuda dan hikmahnya para orang tua) adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dalam menjalani sebuah pergerakan agar bisa mencapai prestasi yang baik. Tetapi dua hal itu bisa juga kita pakai dalam menerangkan fenomena kekinian umat Islam yang nyata-nyata mulai berpisah antara hamasyah-ummat dengan hikmah-ummat atas agama Islam sendiri.
Hamasyah adalah satu sikap semangat yang identik dengan sikap, perilaku, yang berapi-api, dan cenderung aktif-reaktif akan sebuah kejadian. Sedang hikmah adalah satu sikap yang penuh dengan pendalaman suatu perkara dalam hati dan fikiran, menjari kebijaksanaan atas apa yang terjadi dan apa yang menjadi idealita atau keyakinan, memikirkannya secara matang, dan menyingkapkan sesuatu yang tersembunyi untuk diambil pelajaran.
Mengapa dikatakan hamasyah-ummat terpisah dari hikmah-ummat? Fenomena-fenomena keummatan modern yang terlihat dalam panggung sandiwara duniawi menunjukkan realitas itu. Yang paling terlihat adalah sekelompok muslim yang mudah membid’ahkan bahkan mengkafirkan muslim lainnya. Pun kelompok yang merasa mengambil jalan Islam tetapi jauh dari sikap Islam itu sendiri, seperti pengeboman dan pembunuhan meski tidak dalam masa perang. Mereka yang cenderung suka membid’ahkan dan mengkafirkan muslim lainnya saat ini menjadi ancaman yang cukup serius. Banyaknya tulisan-tulisan mereka di media sosial dan dibaca oleh kawula muda yang sedang semangat-semangatnya mencari ilmu agama tetapi tidak dibawah naungan guru dan tidak dilandasi dengan landasan yang tepat akan membuat kekacauan berfikir yang viral.

Tabdi’ dan takfir muslim pada muslim lainnya mempunyai tiga efek yang merugikan. Pertama adalah mengacaukan persatuan dan barisan umat islam. Kedua adalah menghilangkan khazanah dan sebagian Ilmu Islam sendiri. Ketiga adalah memperburuk citra Islam di mata penganut agama lain. Sejauh penelusuran yang saya dalami dalam dunia pembid’ahan, banyak sekali kesimpangsiuran dan kekacauan berfikir para pelaku pembid’ahan. Mereka mencampuradukkan antara terminologi haq-bathil dan showab-khoto’. Benar-Salah dan Tepat-Tidak Tepat. Dalam masalah fiqih, perbedaan pendapat dan khilafiyah tidak dibawa dalam satu konsepsi fiqih yang ada tasamuh tetapi dibawa dalam term haq-bathil, sunnah dan bid’ah. Contohlah misalnya dalam satu kitab mereka Sifat Sholat Nabi. Banyak term-term yang dibawa ke term sunnah-bid’ah alias haq-bathil. Padahal membawa khilafiyah fikih dalam term sunnah-bid’ah adalah tidak tepat dan tidak berdasar sama sekali. Karena masing-masing ahli fiqih memegang riwayatnya masing-masing dan terverifikasi para muhaddisin masing-masing.

Dalam masalah hadist, saya melihat ada satu missing items dalam konsep mustholah hadist mereka. Jika mereka melihat amalan yang mereka nilai hadistnya dhoif versi mereka maka amalan itu akan dianggap sebagai amalan bid’ah. Dan muslim lain yang mengamalkan isi hadist yang mereka anggap dhoif maka akan dicap sebagai pelaku bid’ah. Padahal, dalam ilmu hadist, muhadditsin satu dengan yang lainnya seringkali berbeda dalam menetapkan derajat suatu hadist. Kadang ada satu ahli hadist yang menyatakan bahwa hadist ini shohih, tetapi puluhan lainnya menyatakan itu dhoif. Dan sebalikanya pun beserta segala macam variannya. Dalam menilai suatu hadist dhoif, banyak perbedaan pendapat. Ada kelompok yang boleh mengambil hadist dhoif (bukan maudhu’) untuk menetapkan hukum dan amalan. Ada kelompok lainnya yang membolehkan mengambil hadist dhoif untuk fodhoilul ‘amal (mengutamakan amal tertentu), tetapi tidak untuk menetapkan hukum. Ada kelompok lainnya lagi yang membolehkan mengambil hadist dhoif asal dhoifnya tidak keterlaluan. Dan ada kelompok yang sama sekali menolak hadist dhoif. Dari titik ini saja sudah ada perbedaan yang begitu luar biasa. Dari metode istimbath itu sendiri. Maka tidak bisa hal-hal diatas dibawa ke dalam konsepsi sunnah-bid’ah. Bahkan umat Islampun di masa lalu paling tidak terbagi dalam dua kelompok besar dalam memandang bid’ah. Kelompok Muwasi’in dan Mudhoyyiqin.

Kelompok yang melihat bid’ah dengan pandangan yang luas dan kelompok yang melihat bid’ah dengan pandangan yang sempit. Mereka yang melihat bid’ah dengan pandangan yang sempit akan cenderung melihat secara letter lejk. Misalkan ketika ada dzikir/wirid setelah sholat dan itu bersama-sama dan dengan suara keras, maka kelompok mudhoyyiqin akan melihat itu sebagai bid’ah. Beda dengan kelompok Muwassi’in yang jika melihat fenomena seperti diatas misalnya, akan memandang bahwa jika ada satu nash yang secara umum menyuruh tentang dzikir/wirid, maka nash itu sudah cukup mencakup wirid diatas. Sehingga kesimpulannya wirid berjamaah diatas tidak bid’ah. Pemahaman seperti ini salah satunya oleh Imam Nawawi, sang penyusun Riyadhus Sholihin dan Adzkar Nawawi, pun juga Ibnu Daqiqil ‘Iq. Terkait banyak hal pembahasan terkait kesalahan metode menimbang apakah ini bid’ah atau bukan saya tidak akan banyak membahasnya. Kitab Mafahimul Bid’ah yang sudah diterjemahkan ke Bahasa indonesia berjudul Konsep Bid’ah dan Toleransi Fiqih sudah banyak memberikan gambaran utuh apa bid’ah itu. Dan bukan seperti yang selama ini para penyuka tabdi’ gemborkan.

Lantas kalaupun apa yang disampaikan mereka sesungguhnya benar (meski belum benar), maka cara-cara seperti itu jauh diluar fiqih dakwah yang dicontohkan oleh Nabi pun oleh Hasan dan Husain. Nabi Muhammad mempunyai sebuah ruhudda’wah. Ruh dakwah, hikmah itu sendiri disamping semangat. Tatkala beliau ke Thoif apa yang dilakukan masyarakat yang menolaknya? Apa doa Nabi? . Tatkalah hasan dan husein melihat ada seseorang yang wudhunya kacau balau, apa yang dilakukan mereka? Mereka bersandiwara, yang satu menjadi seseorang yang berlagak wudhunya acak adut, dan satunya berakting memberi nasihat kepadanya. Maka orang tadi pun memperhatikan tingkah laku kedua anak ini, dan jadilah tau akan cara wudhu yang benar. Itulah hikmah-ummat.
Lantas kita belajar dari walisongo. Apa yang mereka lakukan ketika masuk ke tanah jawa yang dipenuhi dengan tradisi Hindu Budha yang benar-benar jauh dari Islam? Apakah mengkafirkan dan membid’ahkan? Bahkan mereka sanggup membuat wayang yang penuh dengan filososfi Hindu menjadi suatu media perantara/wasilah dalam mengislamkan. Itulah ruhhud dakwah.

Jika fiqih dakwah yang merupakan perpaduan antara hamasyah-ummat dan hikmah-ummat itu ada, maka yakinlah tidak akan ada perpecahan ummat sebagai efeknya. Ilmu dan khazanah Islam juga tidak akan hilang jika hikmah-ummat ada, contoh yang paling sederhana adalah dalam azan dan iqomah saat bayi lahir. Seorang syeikh yang belajar hadist otodidak menulis tentang bida’hnya azan dan iqomah kepada bayi yang lahir dengan alasan karena karena hadistnya dhoif. Tulisan itu pun tersebar kemana-mana diteruskan oleh murid-muridnya. Dan akhirnya sampai di Indonesia. Tulisan itu banyak menghiasi web para pencari ilmu yang punya hamasah-tetapi minim hikmah. Padahal banyak sekali ulama salaf maupun kholaf yang menyunahkannya. Hal ini adalah sebagian dari ikhtilaf fiqih. Ada yang mensyariatkannya, dan ada yang tidak. Tetapi jumhur ulama mensyariatkannya. Dan mereka tidak pernah membawa ini dalam term sunnah-bid’ah. Tetapi dengan adanya ulama yang membawa ini ke term haq-bathil, maka jadilah sebagian ilmu islam dan khazanah ini menjadi hilang. Dan banyak lagi contoh yang lainnya.

Begitu fatalnya sikap mudah membid’ahkan ini. Dan parahnya mereka suka melakukan hal ini, menganggapnya terpuji. Disisi yang lain semangat-semangat anak muda dan para pencari ilmu agama untuk berjihad tidak diimbangi dengan konsepsi ilmu-nya (hikmah). Maka jadilah mereka terperangkap dalam satu kesalahan persepsi, yang membuat mereka berkubang dalam kesalahan aksi. Akhirnya umat lain melihat umat muslim sebagai teroris. Fyuh. Hikmah yang seharusnya dimiliki oleh umat Islam juga belum tersebar di sebagian besar umat Islam. Ilmu tentang peradaban, keseimbangan ilmu din dan ilmu scientific dan humaniora belum menyebar ke area-area inti umat Islam.

Fiqih sunnah (sunnah kauniyah dan qouliyah), fiqih ikhtilaf, fiqih dakwah, fiqih awlawiyat, fiqih muwazanah, fiqih tamkin, dan lainnya belum menjadi sajian sehari-hari. Maka jauhlah konsepsi Islam tanpa ruh ketinggian peradabannya. Ritual tanpa maqosid-nya. Banyak yang berhaji tanpa menyadari tanggung jawab sosialnya. Mendongeng kisah Nabi tanpa mengambil inti dan hikmah pelajarannya. Puasa tanpa kepekaan sosialnya. Hamasyah tanpa hikmah. Maka apa yang harus kita lakukan? Carilah ilmu, belajarlah kepada Guru yang mampu membimbing kita untuk mendapatkan hamasyah dan juga hikmah. Belajarlah dari Guru, bukan dari Buku. Buku dan semua sumber boleh jadi tambahan materi, tapi jangan jadi dasar atas materi-materi yang kita pelajari.
Jika membaca sesuatu di buku/dari sumber apapun itu, maka janganlah menjadi seperti di buku itu sampai benar-benar tahu dan memahami apa sebenarnya yang dibahas di buku itu dan menimbangnya dengan pengetahuan dasar yang telah kita yakini kebenarannya pun dengan menimbang dalam sehat dan sadarnya akal kita. Pram pernah mencontohkan dan menyatakan agar tidak menjadi merah meski membaca buku merah, dan menjadi hijau ketika membaca buku hijau. Meski Pram membaca beratus-ratus referensi asli Arab, tapi tidak juga hengkang dari ideologi merah.

Demikian kulsap singkat ini. Kulsap ini hanyalah sebagai coretan kegalauan atas ummat ini. Bisa salah, bisa benar. Tetapi satu pesan yang harus temen-temen ingat adalah jika Alloh anugerahkan sebuah hikmah, maka itu adalah karunia yang besar. Waman yu’til hikmah, faqod uutiya khoiron katsiro. Dan jangan mengikuti langkah-langkah mereka yang akan memecah Islam itu sendiri. Kalau belum mempunyai cukup ilmu untuk satu hal, maka diam atas hal tersebut adalah lebih baik. Diam dalam mengomentarinya. Bukan diam untuk bertanya pada ahlinya.

by Ikhsanudin

About Admin

Admin komunitas MJRS-SJS. Sebuah komunitas yang berupaya membiasakan diri dengan one day one juz + dzikir + Qiyamullail. Selain itu, ada program-program menarik dalam komunitas ini seperti kulsap (kuliah whatsapp), Bedah Buku, Bedah Film dan Kajian Telegram.

Check Also

https://www.dompetdhuafa.org

Rohingya

with Theme : Rohingya Facilitator : ARH (Social Development Manager of Dompet Dhuafa) Moderator : ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *