Home / Pengetahuan Umum / Stress Protein

Stress Protein

Stress Protein

Tapi sebelumnya, kita bahas dulu teori homeostasis yang berhubungan dengan stress protein. Di dalam Al-Qur’an Allah SWT menjelaskan bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan bagi hambaNya di luar batas kemampuannya, sebaliknya Allah memberikan cobaan sesuai dengan kemampuan kita (QS Al-Baqarah : 286).

Dijelaskan juga bahwa cobaan itu dapat terjadi baik dalam keadaan susah maupun dalam keadaan senang. Pernyataan ini merupakan inti dari teori homeostasis yang dikemukakan oleh Lerner (1954).

Pada dasarnya setiap makhluk hidup baik manusia, hewan, atau tumbuhan memiliki suatu zona fisiologis yang disebut dengan zona homeostasis. Dalam kondisi normal seluruh proses metabolisme dan juga fisiologis berada dalam kisaran zona ini. Contoh zona homeostasis adalah keseimbangan air dan keseimbangan natrium dalam tubuh.

Apabila terjadi stress, maka zona homeostasis ini akan terganggu dan sebagai respon tubuh akan berusaha mengembalikan ke kondisi homeostasis seperti sebelum terjadi stress. Apabila tingkat stress yang dialami semakin besar, maka tubuh tidak dapat lagi mengembalikan ke titik homeostasis semula dan akan mengarah pada titik homeostasis baru yang berbeda dengan sebelumnya. Kondisi ini memaksa tubuh kita menggunakan cadangan energi yang dimiliki untuk mengatasi stress tersebut. Selain karna kondisi lingkungan yang serba kekurangan yang menyebabkan terjadinya guncangan status homeostasis ini (seperti kekurangan makanan dan suhu yang ekstrim), kondisi keterlimpahan atau berlebihan juga dapat menyebabkan gangguan homeostasis. Jadi jelas sekali peringatan agar kita berhenti makan sebelum kenyang sangat berhubungan dengan teori ini.

Dalam ilmu genetika ekologi, stress itu diperlukan oleh makhluk hidup agar dapat mempersiapkan diri menghadapi lingkungan yang selalu berubah setiap saat. Stress yang ringan akan meningkatkan daya hidup suatu makhluk hidup. Apabila kita mengalami stress ringan, maka tubuh akan bereaksi mempertahankan zona homeostasis kita.

Apabila stress semakin tinggi, maka akan berubah menjadi gangguan yang serius bagi proses metabolisme tubuh. Apabila stress semakin meningkat dan tubuh tidak mampu mengatasi melalui jalur metabolisme, maka akan digunakan jalur genetis, yaitu dengan cara mengaktifkan gen-gen yang hanya berfungsi pada keadaan stress (disebut stress protein genes, contohnya gen MDH dan gen HSp). Penelitian tentang stress protein yang telah dilakukan salah satunya pada gen HSp (Heat Shock Protein).

Dalam kondisi normal, gen ini seolah-olah tertidur (dorman) dan tidak berfungsi. Sebaliknya, apabila tubuh kita mengalami stress berat dan sistem metabolisme tubuh kita tidak dapat lagi menahan beban stress tubuh ini, maka semua sistem tubuh kita akan dihentikan sejenak dan gen HSp ini akan mengaktifkan diri untuk mengatasi keadaan dalam jangka waktu yang sangat terbatas. Apabila stress tidak tertahankan maka individu tersebut akan mati. Sebaliknya, apabila keadaan stress ini sudah dapat diatasi dengan aktifnya gen ini, maka seluruh fungsi tubuh diaktifkan dan dikembalikan pada kondisi semula. Jadi gen HSp ini hanya berfungsi sejenak dalam keadaan darurat, seperti halnya genset yang hidup pada saat aliran listrik PLN mati.
Sekian kulsap dari saya. Terima kasih.

KASITA LISTRIANI

Sumber : Buku Rahasia dan Hikmah Pewarisan Sifat

About Admin

Check Also

Teori Ketuaan (Aging vs Longevity)

Teori Ketuaan (Aging vs Longevity) Allah SWT berfirman dalam QS Al-Hajj ayat 5 tentang siklus ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *