Home / Dakwah / YATIM, PRIMADONA SELFIE

YATIM, PRIMADONA SELFIE

YATIM, PRIMADONA SELFIE

Menjaga markas di puncak bukit yang sunyi memang dibutuhkan keahlian mengatur ritme psikis. Pagi itu untuk membunuh sepi, saya ajak anak-anak hunting orang susah.
“Kemarin lak sudah toh, Bi”, jawab mereka mencoba mengingatkan saya.
Seminggu sebelumnya memang jamaah masjid Ruhullah sudah mengadakan buka bersama 50 anak yatim plus santunan untuk mereka.
“Kemarin itu kita undang mereka ke tempat kita. Sekarang kita yang datang ke rumah mereka. Kali saja masih ada yang terlewatkan”.
Berkunjung ke rumah salah satu jamaah, ngobrol. Insting saya tepat. Dari obrolan kami dapat cerita sedih tentang dua kakak beradik, yang harus sendirian merawat ayah sakit TBC. Ibu mereka meninggal oleh penyakit yang sama.
“Nah, benar toh nak, masih ada yang terlewatkan. Sekarang kunjungi mereka. Ajak ke toko, biarkan mereka memilih baju untuk lebaran. Kamu yang bayar. Ini uangnya”.

Hari itu ada tambahan dua anak lagi. Seorang anak, bapaknya meninggal tumor ganas, satu lagi malah belum pernah ketemu ayah ibunya. Entah di mana. Dari cerita anak saya, gembira sekali keempat anak itu memilih baju yang diinginkan. Saya ngga perlu bangga dengan cerita ini. Karena itu semua bukan uang saya. Kebetulan ada teman yang titip zakat untuk disalurkan. Ada dua prinsip sederhana yang saya pegang saat dapat titipan seperti itu. Pertama, jangan tahan lebih dari tiga hari di tangan kita, segera salurkan. Kedua, jangan fokus hanya di salah satu saran asnaf saja. Yatim memang penting, tapi ingat ada 7 jenis asnaf lain yang berhak menerima zakat, infaq dan sedekah kita.
Para guru yang berjuang di wilayah pelosok. Fasilitas seadanya, gaji jangan ditanya. Masuk asnaf kategori fii sabiilillah. Musafir dan pemudik yang terlantar di jalan kehabisan bekal. Jenis asnaf ibnu sabiil. Siswa yang tak mambu bayar biaya pendidikan pun bisa disebut ibnu sabil. Tak terhitung para fakir yang mengais sesuap nasi di jalanan. Keluarga miskin yang kondisi kehidupannya di bawah standar. Para pencari kebenaran yang membutuhkan bimbingan (mualaf). Orang yang berhutang demi sesuap nasi, ketagori ghorim. Pun ‘aamil, para petugas pembagi zakat.

Jujur saja, mereka ini kategori yang kerap terlupakan dari list penerima sisihan rezeki para penyedekah. Ada satu lagi kategori yang hampir pasti terabaikan. Orang orang yang mengabdi untuk kepentingan sesama secara voluntary. Tanpa upah. Tersebar di profesi pengasuh di panti panti asuhan, panti jompo, pengurus organisasi sosial, da’i-da’i di pelosok daerah, ta’mir mushola di kampung kampung dan tenaga di klinik klinik kesehatan gratis. Mereka ada di sekitar kita, tapi tak terdeteksi radar para pemberi.
Bisa jadi karena sebagian dari mereka ini adalah orang orang yang sangat menjaga harga diri dan kehormatan seorang mu’min. Dignity muslim sejati mencegahnya dari merendahkan diri meminta minta ke sana ke mari. Bekerja tanpa pamrih, ikhlas menolong sesama semata demi ridlo Ilahi. Sujud sujud malamnya menghasilkan pribadi tangguh pantang mengeluh. Jangan harap aduan kekurangan keluar dari mulut mereka. Sikap warai tawakal pada Allah menjadi jubah indah sebuah marwah. Sikap mereka tenang. Khas para pejuang.

Dari luar orang melihat mereka serba berkecukupan. Kehadiran mereka sering dirasa biasa, kadang dikira kaya. Samasekali tidak ada yang menyangka bahwa mereka hidup dalam keterbatasan. Waktu, tenaga, pikiran nyaris habis didarmabaktikan untuk kepentingan sesama, agama dan bangsa. Hanya memiliki sedikit waktu untuk bekerja mencari harta. Bahkan kadang harta sendiripun disedekahkan. Quran pada 2:273 mengamanahkan mereka inilah yang juga berhak mendapatkan support sedekah kita. Yang sayangnya banyak luput dari perhatian kita.
Linimasa kita lebih sering dihiasi foto foto kegiatan santunan anak yatim. Di bulan suci, anak yatim benar benar menjadi primadona untuk status dan selfie. Bagus sih. Tidak ada yang salah. Namun ada yang janggal. Di mana 7 asnaf lainnya. Mereka memiliki hak yang sama untuk menerima bagian zakat kita. Sungguh ke depan saya berharap menemukan spanduk atau banner “Buka Bersama dan Santunan Dengan 20 Orang Terlilit Hutang”. “Halal bi Halal dan Santunan Narapidana Terpenjara”. “Baksos Santunan Petani Miskin”.
Besarnya perhatian para penyedekah pada yatim memiliki ekses positif pada kehidupan mereka. Panti asuhan menjamur. Tahun 70-an baru ada dua panti asuhan di Lamongan. Salah satunya Panti Asuhan Pancasila yang didirikan Abi Muchtar. Kini sudah puluhan. Sayang, ada pula ekses negatifnya. Kerap sumbangan anak yatim berlebih di satu lembaga, sementara kebutuhan 7 asnaf lainnya kekurangan. Status yatim juga kadang dipergunakan oknum untuk kepentingan pribadi. Misal bagi amplop kosong ke bis-bis dan di depan atm.

Itulah kenapa, maaf, kami kerap menolak secara halus undangan santunan anak yatim. Maaf, yang kami asuh bukan hanya yatim. Ada piatu, anak korban kekerasan, anak lahir di luar pernikahan, anak difable, anak terlantar, anak jalanan, anak dari keluarga fakir miskin, anak yang orangtuanya dipenjara. Jika ingin bantu, bantulah mereka semua. Kami menghindari kesan tangan di bawah dan eksploitasi nasib. Sekalian mulai menanamkan pada anak yatim sendiri untuk tidak bermental pengemis dan berharap diberi.

Patutlah kiranya mulai menghindari pola sedekah sekedar untuk memuaskan psikis kita. Pokoknya harus anak yatim, tanpa peduli apakah mereka butuh atau tidak. Padahal bisa jadi ada kebutuhan prioritas lain, misal orang sakit tidak mampu berobat. Atau di saat yang sama ada jembatan rusak, sekolah roboh, anak kelaparan dan sebagainya. Di sinilah pentingnya ‘amil. Tukang bagi, bagian distribusi. Mereka memiliki data, yang paling tahu skala prioritas. Menurut saya percayakan saja pada mereka.

Dua hari menjelang lebaran, ada kawan titip zakat maal beberapa juta. Bingung. Anak yatim sudah, bangun tempat wudlu masjid sudah. Renovasi ruangan sekolah hampir selesai. Iseng sore itu saya tanya dua orang guru ngaji yang sudah bertugas di situ beberapa tahun. “Nggak mudik?”. Senyum, “Belum tahu, gus”. Astaghfirullah. Bodoh sekali saya, kurang peka. Lha mereka ini juga berhak. Sama posisinya dengan yatim. Spontan tanpa ragu titipan zakat itu tersalurkan pada mereka. Setelah sebulan bertugas, subuh itu sehari setelah sholat ied saya berpamitan. Tak lupa bersalaman dengan dua TPU itu. “Gus, insyaa Allah besok saya juga mudik silaturrahmi dengan keluarga”. Bergetar dada ini. Lega sekali. Alhamdulillah. Matur suwun Gusti…

Salam Ahad Berkat Rahmat. Bismillah

Iis Astria
Sumber: fb @gus Glory muchtar

About Admin

Check Also

Memerangi HOAX dengan Cerdas

Memerangi HOAX dengan Cerdas Bismillah.. Assallamallaikum warahmatullahi wabarakatuh… Saya akan membawakan materi kulsap tentang “Bagaimana ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *