Home / Hikmah Kehidupan / Allah Maha Tahu, Seringnya Kita yang Sok Tahu

Allah Maha Tahu, Seringnya Kita yang Sok Tahu

Allah Maha Tahu, seringnya kita yang sok tahu

Anik Rochimah

Selesai kuliah langsung kerja!!!! (sebuah tagline dari iklan TV salah satu universitas di Indonesia)
Ya….itu pun sama halnya di benak saya saat masih menyandang status sebagai mahasiswa. Bahkan kalau bisa sebelum wisuda saya sudah bekerja yang bukan part time, entah itu sesuai dengan bidang saya atau tidak, intinya saya nggak mau ngerepotin ~tetep aja ngerepotin ini mah~ dan menjadi beban orangtua setelah menamatkan sarjana.

Harus sudah bisa “memberi” orangtua bukan malah orangtua yang “ngasih”.
Udah ngerencanain ikutan program mengajar di daerah terpencil di tahun 2015, atau kalau ada pembukaan CPNS ya daftar sesuai dengan yang diminta orangtua.

Apa mau dikata CPNS tak ada kabarnya, dan sehari setelah pendaftaran mengajar di daerah terpencil ditutup saya baru dapat SK lulus dari kampus.

Jadilah tiap hari semakin kepikiran mau ngapain? Mau kerja apa? ngajar di mana dan lain sebagainya sampai berpengaruh pada berat badan saya (alhamdulillah jadi kurusan, Asyeeeeek), eh waktu itu belum kenal MJR).

Sampai suatu ketika, ada inbox masuk dari teman yang menginformasikan bahwa dibuka tentor untuk les private yang lumayan lah fee-nya, tanpa berpikir panjang saya coba menghubungi CP yang tertera dan alhamdulillah juga bimbelnya itu bukan kaleng-kaleng yang cuma ngejar dunia tapi harus memasukkan karakter seorang muslim pada anak didiknya. Sebulan setelah itu kalau nggak salah, alhamdulillah Allah memberikan kesempatan pada saya untuk menjadi guru pendamping dan operator di salah satu sekolah TK binaan “guru besar” saya menggantikan kakak tingkat selama kurang lebih setahun lamanya.

Di tahun selanjutnya alhamdulillah program mengajar di daerah terpencil kembali dibuka dan tentu saya salah satu orang yang memburunya. WKwkwkw. Dari serangkaian tes ke tes alhamdulillah terlampaui, dan pada pengumuman final nama saya dinyatakan lolos. Alhamdulillah alhamdulillah…pokoknya do’a saya waktu itu minta kalau memang mengajar di daerah terpencil itu baik untuk saya dan bisa lebih mendekatkan diri maka mohon untuk diluluskan dan dimudahkan prosesnya tapi kalau sebaliknya ya sekalian nggak lulus diawal.

Ada banyak pelajaran yang bisa dijadikan bekal mengajar di daerah 3T dari satu tahun belajar dan berguru di TK tersebut. Tentunya bekal untuk diri sendiri agar bisa selalu berusaha Istiqomah dan menjadi pribadi lebih baik lagi. Sebelum di TK saya kurang mengamalkan aturan-aturan dan adab-adab Islam yang sederhana seperti minum dan makan tangan kanan, tidak berdiri, berdo’a sebelum makan, berdo’a sebelum dan sesudah ke/dari kamar mandi sampai yang harus menjaga lisan dan akhlak kita kepada sesama, kepada lingkungan dan kepada Allah.

Padahal sebelumnya saya tahu tapi masalah pengamalan saya belum terbiasa mengerjakannya astaghfirullah…. Yang kedua dapat bekal menghadapi beberapa karakter wali murid dan siswa. Misalkan kalau ada siswa yang ngeyel nggak mau belajar , dicap nakal sukanya main kita sebagai guru harus sabar mencari apa akar permasalahannya kenapa dia bisa begitu dan begini, bisa jadi karena latar belakang orangtua, lingkungan atau teman.

Selain itu kita juga harus rajin-rajin mendo’akan murid kita agar menjadi pribadi yang Sholih dan Sholihah. Dan minta ampun ke Allah barangkali ini tersebab dari dosa-dosa yang kita lakukan dan dengan perantara siswa-siswa istimewa begitu Allah akan ampuni kita.

Alhamdulillah, saya harus bersyukur karena Allah menunda keberangkatan saya di tahun sebelumnya karena bekal saya yang belum “cukup” itu. Dan saya baru benar-benar menyadarinya ketika saya sudah berada di daerah terpencil, di pedalaman banyak anak-anak muslim yang tidak tahu tentang agamanya. Bahkan untuk Gonta ganti pindah agama itu sudah biasa dan marak di daerah sana.

Allah membukakan jalan untuk berkontribusi menanamkan rasa cinta pada agama Islam meskipun tak semuanya bisa terakomodir, setidaknya misi ini sudah diikhtiarkan untuk segelintir anak-anak Islam di pedalaman. Semoga mereka masih mengingat dan terus Istiqomah pada agama mereka. Barang kali bukan sebanyak apa Allah memberi hal-hal yang kita butuhkan atau bahkan hal-hal yang kita inginkan, namun pointnya adalah apakah ada satu hal yang sering kita abaikan dalam menghadapi setiap kejadian? Satu hal itu sederhana diucap , yang susah ya ngelakuinnya hehehe harus dilatih dan dilatih terus pada diri kita.

Mau pilih bersyukur dulu kemudian bahagia atau bahagia lalu bersyukur? Itu hak kita. Kalau saya sih berusaha untuk memilih hal yang pertama meskipun sering seakan lupa ketika harus melakukannya.

About Admin

Check Also

Via Remajaislmahebat.wordpress.com

Menyiapkan anak memasuki masa dewasa

Assalamu’alaykum wr wb, Beberapa waktu lalu tak sengaja melihat postingan ustadz Moh Fauzil Adhim di ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *