Home / Bedah Buku / Harvard Business Book

Harvard Business Book

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakaatuh

Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya, Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri (Al-Fatir:34)

Izin kulsap gais. Bahannya rada ringan, rada singkat juga ga sampe 4 menit (udah dicoba wkwk), tapi semoga ada manfaatnya.

Okaay kita mulai Kulsap nyaa yaa.

Kulsapnya kali ini ga jauh dari kata “Resilience“. Isinyaa diambil dari buku Resilience published by harvard business review press lewat aplikasi headaway dan dari web Islamicsunrays.com.

15-21-20-9781591392729_p0_v1_s260x420.jpg.cf

Diawal description buku resilience langsung ada quotes yang bunyinya “Life doesn’t get easier or more forgiving, we get stronger and more resilent.”

Terserah yang kulsap kaaan, maapkan kalau rada lompat-lompat wkw. Soo, kita mulai dari pertanyaan-pertanyaan yang bisa jadi relate dengan kita aja yaa haha

Okaay, mungkin ada yang pernah/sedang mengalami dampak dari covid sampai gak sadar ngerasa sulit mau makan apa besok atau sampai bingung bagaimana untuk bisa lanjutin kuliah?

Atau yang pas lagi liat ig strory ngeliat temen-temen yang lain ko keren-keren amat, ngisi seminar, buat sosial project, pergi sana-sini, dapetin dream job dan aku koo masih kek gini-gini aja yaak?

Ada lagi yang udah mengagumi sejak lama, mencoba ikhtiar dengan memperbaiki diri, ngedoain dalam diam, eh nikahnya sama yang lain 🙁

etc.

Kalau dicoba dengan yang tadi, depresi gak? jawabannya kalau nempel ke orang jadi ada dua orang. Ada orang yang depresi dan ada yang tidak. Kata buku ini yang mempengaruhi iya atau tidaknya ituuuu, yap Resilence!

Secara singkat resilience itu kemampuan untuk bangkit dari keterpurukan. Jamaan holocaust duluuu banget kemampuan ini tuu sesuatu yang dianggap inherent lewat gen. Tapi studi bilang kalau resilence bisa dipelajari juga bisa dimiliki.

Dan buku ini ngasih tau seenggaknya untuk memiliki resilience itu harus punya tiga karakteristik yang umumnyaa dimiliki oleh orang-orang resilience.

1. Staunch acceptance of reality: yang pertama ini bisa dibilang bisa betul-betul nerima segala keadaan yang terjadi pada saat kita jatuh. Yang nantinya bisa jadi bahan bakar untuk kita sadar dan tau bagaimana langkah selanjutnya untuk keluar dari gelapnya nesapa tersapu derita :’)

2. Believe life is meaningful: Bagi yang sedang mengalami depresi dan anxiety, yang kedua ini jadi pegangan untuk tetap lanjut struggle. Karena saat hari dimana mereka menilai hidup itu ga berarti, saat itulah mereka kehilangan semuanya. Makanya percaya hidup itu berati bagi mereka penting . (Sepenting sendok saat mau sarapan bubur, kalau ga ada sendok ga bisa makan *jangan bilang kan ada krupuk, please)

3. An uncanny ability to improvise: Yang terakhir inii biasanya orang yang memiliki resilince bakal berusaha banget lewat cara-cara yang kreatif dalam mengatasi masalah yang dihadapi dan juga yakin betul mereka masih memiliki sesuatu yang harus diperjuangkan.

Kalau Wael Abdelgawad ngegambarin tentang resilience begini:

When the thundercloud opens up, who among us can stop the rain? When the hurricane blows, who can stay on his feet? No one. When the storm passes, stand up. Dust yourself off, take stock, and move forward in the name of Allah. If the storm has disoriented you and you dont see the way forward, look to the Quran. And if there should come to you guidance from Me then whoever follows My guidance will neither go astray [in the world] nor suffer [in the Hereafter]. (Quran, Surat TaHa, 20:123).

*Ga diparafrase karena diksinya mantep banget takut ngerusak kerennya wkwk.

Penutup
Setiap orang memiliki ujiannya masing-masing, masing-masingnya itu merespon dengan cara yang berbeda. Banyak hal yang mempengaruhi seseorang bisa jadi resilence banget, kaya kondisi spritual, emotional intelegence, experience, environment etc. Quarter life crisis, Mental illness, etc. are real issues (I hope there will be many more people who aware toward their family, friends, work mates etc. who have this circumstances and voluntarily become life supporter for them).

Dengan mencerminkan resilience itu rupa dari ikhtiar untuk terus bangun dari keterpurukan, bukan karena merasa kuat dan mampu untuk melakukan segala sesuatu. Wael Abdelgawad nyaranin kalau lagi depresi dan sulit menemukan jalan keluar coba buka Quran dan beliau mengutip QS. At-Thaha:123. Ditutup dengan kata aa Gym: Manusia itu lemah, kita mampu melakukan sesuatu karena petunjuk dan pertolongan Allah.

Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarakaatuh.

Adhit cahyo prasetyo

About Admin

Check Also

image Bedah Buku : La Tahzan Jangan Bersedih

Bedah Buku : La Tahzan Jangan Bersedih

Kali ini saya akan mencoba mereview sebuah buku yang berjudul La Tahzan Jangan Bersedih. Buku ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *