Home / Hikmah Kehidupan / My Birth Story

My Birth Story

My birth story
Ermaniatu Nyihana & Zaki Mujadid Yahya

Allah, bidadari itu nyata….

Tepat, 05 Oktober 2018 teteh El lahir. Fatimah El fihry Mujahidah, putri pertama kami.

Dibalik kelahirannya ada sedikit trauma yang harus ku obati. Kenapa? Aku melahirkannya dengan cara caesar dan membawa trauma hingga kini. Indikasi secar, karena lewat HPL, big baby dan protein +1. Padahal ketika itu aku sudah pembukaan 2 dan tidak merasa ada yang salah dengan keadaanku.

Namun apa yang dilakukan bidan X? Ia mengantarkanku di ruang meja operasi dan meminta RS X untuk melakukan tindakan. Aku tidak menyalahkan bidan ataupun pihak RS, namun aku menyalahkan diriku sendiri, karena tanpa persetujuan pasien tindakan itu seharusnya tidak dilakukan.

Trauma? Ya, karena aku tidak bisa IMD, penundaan pemotongan tali pusar dan suami yang melakukannya, serta melewatkan moment-moment berharga dengan baby ku. Karena pasca operasi, aku baru bisa bertemu bayiku setelah beberapa jam… padahal ia anakku, seharusnya aku yang pertama kali ia genggam bukan orang lain. Dari sinilah, aku harus belajar berdamai dengan masa lalu dan tidak ingin mengulangnya kembali.

Tepat 13 bulan usia teteh El, kami diamanahi kembali, aku positif hamil. Padahal waktu itu kami sedang program KB 3 bulan sebagai ikhtiar dan diberi jarak minimal 2 tahun agar aman untuk melakukan persalinan normal, qadarullah Allah berkehendak lain.

Dari sini kami beritikad untuk ikhtiar semaksimal mungkin dan mencari info tentang persalinan gentlebirth aman, nyaman dan minim trauma.

Mengapa kami keukeuh ingin normal? Bukan karena kami nekat, ngeyel ataupun nyeleneh dari SOP kesehatan. Kalau nekat, itu namanya ga ada persiapan apapun dan tidak memberdayakan diri semaksimal mungkin dengan membekali diri tentang informasi gentlebirth.

Niat aku melahirkan normal agar:
1. Memenuhi hak anak
2. Meringankan suami dan biaya persalinan
3. Tidak merepotkan keluarga lebih banyak
4. Ingin memperbaiki trauma masa lalu
5. Fokus persiapan & proses, hasil mutlak hak prerogatif Allah

Awalnya kami jajan nakes mulai dari klinik Masita, Cilegon. Bidan masita merupakan bidan gentlebirth. Banyak pelajaran berharga yang ku dapat darinya. Meskipun beliau tidak menyanggupi untuk menerima aku melahirkan di kliniknya sebab beliau belum mendapatkan kepercayaan penuh SPOG yang stay di kliniknya.

Akhirnya beliau menyarankanku untuk belajar gentlebirth sekaligus melahirkan di bidan Dessi, Bekasi. Selain dekat dengan tempat tinggal kami, bidan Dessi pun sudah mendapatkan kepercayaan dari SPOG yang stay di kliniknya. Kami pun konsultasi dengan bidan Dessi dan SPOG dr. Tony di RS Bekasi Barat.

Mereka semua mengaminkan niatanku. Alhamdulillah… pesan yang masih melekat dari bidan Dessi adalah Allah menciptakan jalan keluar (vagina) pada setiap wanita, dan tidak mungkin jika harus membobol jendela (operasi).

Ini menjadi azzam kami untuk berikhtiar maksimal, bidan Dessi selalu berpesan, libatkan Allah, libatkan Allah dalam setiap ikhtiarmu nak karena bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin jika ikhtiarmu maksimal dan melibatkan Allah dalam setiap tarikan nafasmu. Saya dan suami melist semua ikhtiar gentlebirth dari A sampai Z.

Nutrisi:
1. Karbohidrat: nasi, diselingi umbi-umbian, singkong, ubi, kentang semua direbus.
2. Protein: 4 telur puyuh, 2 telur ayam kampung, 8 telur ayam negeri, tahu, tempe rebus 500 gr/hari.
Ermaniatu nyihana

About Admin

Check Also

Via Remajaislmahebat.wordpress.com

Menyiapkan anak memasuki masa dewasa

Assalamu’alaykum wr wb, Beberapa waktu lalu tak sengaja melihat postingan ustadz Moh Fauzil Adhim di ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *