Download Free Designs http://bigtheme.net/ Free Websites Templates
Breaking News
Home / Bedah Buku / FILSAFAT SAINS GEOGRAFI (2013)

FILSAFAT SAINS GEOGRAFI (2013)

Filsafat Sains Geografi
globe-library via yolasite.com

Buku setebal 482 halaman ini adalah salah satu pencarian saya ttg hakikat ilmu yg sedang digeluti. Apa yg pertama kali terlintas di benak kita saat mendengar kata Geografi?

“Pelajaran IPS masa SMA?”

“Ilmu tentang Bumi?”

“Menghafal nama2 kota dan ibukota?”

“Ilmu tentang ketenagakerjaan”

Atau apa?

Polemik keberadaan keilmuan Geografi di Indonesia, dimana pada tingkat SMA/MA ia berada di rumpun IPS sedangkan ketika di PT ia berada satu rumpun dengan Sains, bagi Geografi murni. Memang untuk Pendidikan Geografi msh berada dibawah klaster sosio-humaniora. Tapi ini juga yg menyebabkan missmatch kurikulum pengajaran dan tenaga pendidik. 3 kali saya mengikuti konferensi IGI (Ikatan Geograf Indonesia) di Solo, Banjarmasin dan Jogja, santer berhembus akan adanya pemecahan IGI menjadi IGGI (Ikatan Guru Geograf Indonesia). Namun hingga tulisan ini diturunkan hal tersebut belum terlaksana. Entah mengapa.

FYI, perkembangan ilmu ini di Indonesia boleh dibilang tidak sepopuler ilmu lain seperti hukum, teknik, ekonomi, sospol dan mipa yang bisa ditemui hampir di setiap PT. Hanya ada 2 fakultas geografi di Indonesia, yakni UGM dan UMSurakarta adapun yang lain semuanya itu adalah jurusan. Padahal Geografi msh memiliki penjurusan yang sangat spesifik, sebut saja penginderaan jauh, geo fisik, geo lingkungan, geo manusia, pembangunan wilayah, SIG dll. Keberadaannya sebagai fakultas dapat lebih leluasa utk pengembangan ilmu.

Buku ini terbagi menjadi 4 Bab yaitu filsafat ilmu, azas kegeografian, metodologi penelitian dan perspektif ilmu. Pada bedbuk ini saya tidak akan membahasnya per bab. Tapi akan saya bahas menurut pandangan mazhab nya, yakni Geografi Lingkungan (mencakup kajian fisik dan manusia) dan Studi Wilayah, in between ada Sains Informasi Geografi, yang konon sedang naik daun sebab kemampuannya melakukan modelling fenomena geosfer untuk masa depan dan masa lalu. Itulah 3 mazhab besar Geografi.

GEOGRAFI FISIK

MITOLOGI

Ilmu ini tumbuh dari Mitologi. Yakni ilmu tentang hal2 supranatural yang sdh diyakini keberadaannya oleh setiap diri manusia bahwa ada kekuatan lain di alam ini yang begitu besar bahkan tak bisa dijelaskan namun bisa dirasakan. Keyakinan ini semakin tumbuh terutama disaat ada bencana. Masyarakat yakin jika ada bencana maka Si Empunya Gunung/Laut/Bukit atau hal lain yang dikeramatkan sedang marah atau sedang mempunyai hajat. Sebagai jawabannya, mereka melakukan tradisi2 yg mereka anggap mampu meredam amarah Si Empunya. Dalam kajian Islam tentu saja ini berkaitan dengan ketauhidan. Tapi disini kita sdg tidak membahas itu, kita sedang membahas perkembangan keilmuan Geografi yang pertumbuhan awalnya karena adanya sifat tersebut pada diri manusia.

Mitologi juga menjadi penciri tingkat kecerdasan suatu masyarakat. Sebab semua fenomena bisa dijelaskan dengan ilmiah, tak perlu dikait kaitkan dengan hal hal non-tauhid. Maka semakin ilmiah suatu masyarakat, semakin jernih ia memandang kejadian. Mitologi tidak hanya berkembang di Indonesia namun di seluruh dunia. Saya akan mengambil dua contoh mitos di Indonesia dan Jepang, yang berkembang karena adanya gempa. Menurut masyarakat Indonesia, atau mungkin Jawa wabil khusus, Bumi Indonesia ditopang oleh Sang Hyang Ontoboga. Ia adalah makhluk raksasa yang apabila ia sedang bergerak karena kelelahan menopang bumi maka terjadilah gempa.

Sedangkan pada masyarakat Jepang, mereka percaya bahwa bumi Jepang ditopang seekor lele raksasa. Dan sama seperti Sang Hyang Ontoboga, jika si iwak lele ini bergerak maka itulah gempa Jepang.

KOSMOLOGI

Ini adalah fase selanjutnya dari pertumbuhan Geografi Fisik. Pada fase ini, manusia yang sdh sangat sering bersentuhan dengan mitologi akan mulai untuk mengkait kaitkan kejadian satu dengan kejadian lainnya. Kosmologi adalah kajian tentang keteraturan. Maka manusia yg berada fase ini, akan memandang kejadian sebagai suatu keniscayaan, sudah saatnya. Lagi lagi saya akan mengambil contoh masyarakat Jawa, sebab saya belum studi ttg masyarakat lain, mungkin lain kali. Pada komunitas ini, kosmologi sangat tampak dalam pranoto mongso atau kalender tanam. Mereka berhasil melakukan otak atik gathuk (pencocokan kejadian) fenomena cuaca di Indonesia sebagai penanda kapan mereka harus menanam dan kapan mereka harus panen. Bahkan pada satu ladang, apakah dilakukan pola 2-3 kali tanam/panen, mereka sangat paham.

Pranoto mongso terjadi pada setiap tahun. Hingga muncullah istilah Desember (Gèdè-Gèdènè Sumber) misalnya, Sumber yang dimaksud disini adalah Sumber Air. Maka saat itu mereka akan melakukan tanam, bagi sawah tadah hujan dst.

Tentu saja secara ilmiah ini dapat dipelajari dari salah satu cabang Geografi Fisik yaitu studi meteorologi dan klimatologi. Bahwa saat bulan ini angin moonsoon barat mengarah kesini dan angin moonsoon timur mengarah kesitu hingga terjadi konvergensi dst dst.

Tapi itu nanti dibahas, pada fase selanjutnya yakni fase Ontologi. Masyarakat yang msh belum “move on” tentunya masih sangat mengandalkan kosmologi untuk menghadapi hidupnya. Pada kasus pranoto mongso, kalender tanam itu akan terganggu oleh perubahan iklim. Ketidakmampuan menjawab hujan tak lazim di musim kemarau atau sebaliknya akan membuat mereka sadar dan naik satu tingkat ilmu, yakni Ontologi, yang akan dijelaskan berikut ini.

ONTOLOGI

Ontologi berarti kajian tentang wujud. Dikatakan diatas bahwa telah terjadi perubahan iklim. Maka kewujudan hujan misalnya di musim kemarau bagi level ilmu Ontologi akan dikaji sebagai suatu anomali. Azas utk kajian ini ada 2, yakni Uniformitarianisme dan kausal sekuensial.

Uniformitarianisme memiliki prinsip present is the key to the past sedangkan kausal plausabilitas beranggapan dasar bahwa segala sesuatu pasti saling berkaitan dengan sesuatu fenomena yang lain.

Maka keberadaan hujan di musim kemarau menurut Ontologi pasti dipicu berbagai hal, bisa arah angin, bisa perubahan iklim bahkan bisa juga akibat meletusnya gunungapi sebagaimana yang dialami oleh Napoleon saat ia di Waterloo ingin menaklukkan Eropa keseluruhan. Napoleon kehujanan di musim kemarau akibat letusan Tambora yang mampu merubah iklim. Ontologi tidak pernah memandang adanya hujan di musim kemarau bersebab ada pawang hujan sedang mindah hujan, heheh …

Termasuk diantara kajian Ontologi adalah keberadaan gunungapi purba di bagian selatan pulau jawa dan toponimi (penamaan daerah). Gunungapi di jawa sangat banyak, mungkin akan saya jelaskan di kesempatan lain dan toponimi contohnya adalah Kulonprogo, Kuloné (Sungai) Progo. Penamaan wilayah didasarkan pada karakteristik fisik wilayah atau kondisi masyarakat setempat (asas kausal sekuensial). Kauman misalnya, berasal dari Kaum Beriman dan masih banyak contoh lain.

Inilah levelisasi Geografi Fisik. Apakah di kuliah diajari mulai dari Mitologi? Tentu saja tidak, di kuliah langsung Ontologi. Sebab Mitologi dan Kosmologi merupakan given dalam setiap diri kita dan jika terus diasah maka hal itu akan sampai pada keilmuan Ontologi Geografi Fisik. Lalu, apakah masih ada member MJR yang berpandangan mitologi? :p

SAINS INFORMASI GEOGRAFIS

Pada awalnya kelompok keilmuan ini merupakan kajian “pinggiran” dalam bidang Geografi karena dianggap hanya sebagai alat bantu pemodelan dalam Geografi Fisik dan Studi Wilayah. Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu, pada model-model yang dibangun oleh Sistem Informasi Geografis dan Penginderaan Jauh sebagai turunan dari Sains Informasi Geografis ditemui kejanggalan misalnya akurasi interpretasi, perbedaan skala, validasi model, piksel campuran, koefisen band citra dan seterusnya. Fenomena ini dianggap bukan bagian dari Geografi Fisik dan/atau Studi Wilayah. Menyikapi hal ini para ilmuwan Geografi kemudian mencanangkan adanya Sains Informasi Geografis.

PARADIGMA PENGINDERAAN JAUH

Penginderaan Jauh melihat sesuatu dengan cara pandang holistik atau menyeluruh. Artinya informasi yang dapat kita turunkan berasal dari sebuah citra/satu sumber.

Penginderaan Jauh sepenuhnya berbicara tentang pencitraan yang sesungguhnya. Memang terminologi pencitraan hari ini dipakai dalam kajian politik sebagai tampilan seseorang yang sedang berakting agar dianggap baik oleh konstituen. Tidak demikian dengan penginderaan jauh. Bidang studi ini berusaha menggali informasi objek dari sebuah citra, sehingga pengertian akan penginderaan jauh yang telah disepakati dalam dunia internasional adalah “mencari informasi tentang objek tanpa bersentuhan langsung dengan objek yang sedang dikaji”.

Sangat mirip dengan radiologi dalam dunia kedokteran. Bedanya, penginderaan jauh memindai bumi sedangkan radiologi memindai manusia.

Penginderaan Jauh adalah pertemuan 4 bidang ilmu. Fisika, Elektro, Ilmu Komputer dan Geografi. Konsep pantulan cahaya, emisivitas, radiasi benda hitam dan hal hal yang berkaitan dengan fisika optik menjadi dasar fundamental dalam penginderaan jauh aktif dan pasif. Elektro adalah arsitektur bagi wahana penginderaan jauh yang kini perkembangannya sudah sangat signifikan. Bahkan dari orbit bumi, dapat mengintai langsung objek di muka bumi sebesar 60 cm jika awan tidak menghalangi. Ilmu komputer sangat berperan dalam metransformasikan intensitas pantulan cahaya menjadi nilai bit yang besarannya disesuaikan berdasar resolusi radiometrik suatu satelit penginderaan jauh. Paling rendah adalah biner, 0 dan 1, hingga kini yang tertinggi adalah 12 bit sekitar 65rb rona.

SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG)

Cara pandang ilmu ini adalah reduksionistik. Sebuah peta baru adalah hasil penggabungan dari beberapa peta yang telah ada sebelumnya. SIG kini sedang menjadi primadona. Kemampuan SIG untuk memodelkan berbagai keadaan di bumi dimanfaatkan banyak pihak sesuai kebutuhannya. Banyak pemain baru dalam dunia SIG yang terkadang melakukan pemodelan diluar kaidah kartografis dan melewati teori2 kegeografian. Dengan semakin banyaknya pemain baru dalam dunia SIG yang datang berbagai latar belakang, sudah sepantasnya para geografiwan tidak ikut campur terlalu jauh. Geografiwan-lah yang diharapkan masih dapat menjaga keaslian SIG sebagai ilmu, tak sekedar alat.

STUDI WILAYAH

Selama setengah abad terakhir, perubahan signifikan terjadi pada studi kewilayahan. Wilayah yang selama ini hanya dianggap sebagai akhir, kini diwujudkan sebagai model suatu entitas yang berada di dalamnya.

Dalam paradigma geografi, wilayah dipelajari sebagai kesatuan ruang. Ada interaksi inter wilayah dan ada pula interaksi intra wilayah. Interaksi inter wilayah adalah kegiatan saling ketergantungan entitas dalam suatu ruang. Interaksi antar wilayah adalah kegiatan saling berkaitan antara wilayah satu dan wilayah yang lain. Batasan wilayah dalam studi Geografi dapat berupa administrasi maupun fisik alam misalnya DAS dan daerah pesisir. Hari ini, tidak ada satupun kota dan kekotaan yang tidak berada di DAS dan atau daerah pesisir. Sebagai contoh sebut saja Jakarta, Semarang, Surabaya, Makassar, Balikpapan, Jayapura, Aceh dsb. Terkadang definisi wilayah pun dapat berangkat dari kesamaan kondisi ABC (Abiotic, Biotic, Culture) suatu lingkungan. Kesamaan A, B, C dapat dijadikan penentu pembatasan wilayah.

Perbedaan studi wilayah bagi Geografi dan Perencanaan Wilayah pada kelompok studi Archiplan (Architechture dan Planologi) adalah pada skala. Geografi berbicara pada skala meso, sedangkan Archiplan (dan Geodesi) lebih banyak mengkaji skala mikro.

Posisi studi wilayah yang dimiliki Geografi dalam kerangka Perencanaan dan Pengembangan Wilayah adalah sebagai input yang beririsan dengan Ilmu Ekonomi Regional, Teori Lokasi dan Perencanaan Kota.

END

Inilah akhir bedbuk Filsafat Sains Geografi. Dalam mengakomodir tiga madhzab tersebut, seorang sarjana geografi diberi pendekatan utama dalam menganalisis masalah Geosfer (Atmosfer, Lithosfer, Biosphere, Hidrosfer dan Antroposfer) yakni Pendekatan Lingkungan, Keruangan, dan Kompleks Wilayah (Environment, Spatial and Spatial Complex). Ciri tersebut akan tercermin dengan baik dalam setiap penelitian yang dilakukan oleh Geografiwan.

Seftiawan S. Rijal

About Admin

Admin komunitas MJRS-SJS. Sebuah komunitas yang berupaya membiasakan diri dengan one day one juz + dzikir + Qiyamullail. Selain itu, ada program-program menarik dalam komunitas ini seperti kulsap (kuliah whatsapp), Bedah Buku, Bedah Film dan Kajian Telegram.

Check Also

menyontek

Menyontek: Mengungkap Akar Masalah Dan Solusinya

Menyontek : Mengungkap Akar Masalah Dan Solusinya Karya: Doddy Hartanto, M.Pd saya memulai bedah buku ...

One comment

  1. Thanks. Aku jga mau gabung boleh?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *